Kolom

TUMO

Usai Lebaran, seorang yang mengaku bernama Tumo mengunjungi pengacara kelas satu di kantornya.
“Pak Pukrul, saya dukun yang mau curhat, boleh?”
Kontan, pengacara itu hampir saja naik pitam. Tapi setelah sekretarisnya yang cantik menjelaskan siapa Tumo, ia tersenyum, lalu menjawab teduh.
“Saya mesti klarifikasi dulu. Pertama: saya bukan pukrul bambu, tapi pengacara! Saya ulangi pe-nga-ca-ra, advokat!”
Tumo ngeyel.
“Apa bedanya?”
“Pukrul bambu itu tukang debat kusir. Kami pengacara, ahli hukum, spesialis mengadu argumentasi berdasarkan fakta!”
“Memang! jadi sama kan?!”
Kembali, Kontan, sang pengacara mau membentak, tapi sekretarisnya melambai dari jauh, dukun itu banyak duitnya. Terpaksa Kontan kembali menelan marahnya.
“Yah, boleh dibilang sama meskipun banyak bedanya.”
“Dan yang kedua?”
“Yang kedua, silakan curhat, memang di sini tempatnya,”
“Tapi bayar berapa duit?”
Kontan terpaksa kembali berpaling mencari sekretarisnya. Tapi wanita itu sudah ngacir.
“Gratis kan?”
“Setengah jam pertama tidak bayar. Tapi setengah jam berikutnya diselesaikan dengan terlebih dahulu tawar-menawar.”
“Mahal atau harga melawan?”
“Bisa mahal sekali, tapi bisa juga gratis. Tergantung kasus.”
Tumo mengangguk lega.
“Bagus kalau begitu, kita pilih yang gratisnya saja. jadi begini: Aku ini bukan dokter, mengapa gerombolan dokter itu melarang aku praktek? Itu kan tidak adil!, bahkan sudah melanggar hak azasi manusia? Apa karena aku tidak punya ijazah dokter? Atau karena aku tidak punya izin praktek dokter? Tapi aku kan tidak praktek dokter?! Ya kan! Aku mengobati orang, menyembuhkan orang dari 1001 penyakit bukan dengan ilmu kedokteran! Aku mengobati pasien-pasienku yang lumpuh, jantungan, diabetes, lemah syawat, kurang karisma, tidak hoki, putus cinta bahkan sudah gila akibat gagal pilkada, bukan dengan ijazah atau izin praktek, tapi dengan ini (menepuk dada). Jadi kita lain sawah. Kita tidak bisa bersaing. Makanya kenapa mesti iri hati cemburu buta? Buang-buang tenaga. Lebih baik legowo, akui saja, ilmu kami lebih maju dan untuk itu, tanpa mengurangi rasa hormat kami pada para Guru Besar, kalau ingin belajar ABC ilmu penyembuhan dengan segala kerendahan hati kami terima. Soal biaya jangan khawatir: setengah jam pertama gratis. Tiap setengah jam berikutnya tergantung dari tawar menawar. Terima kasih!”
Tumo berdiri. Membungkuk memberi hormat dan pamit mau pergi. Kontan tercengang.
“Lho, bukannya Ente perlu pembelaan?”
Tumo mengangguk.
“Betul. Tapi maaf bukan dari calo keadilan seperti Anda yang menilai keadilan dengan uang! Padahal ….”
Kontan tertawa.
“Aku tidak tersinggung, malah tersanjung.”
Kontan bertepuk tangan. Muncul dua orang satpam, langsung menyeret Tumo keluar.
Dukun itu meronta. Tapi tak mampu lepas dari cengkeraman kedua satpam.
“Betul kata Pak Amat,” teriak orang gila itu, “Tak ada orang sanggup menahan diri kalau dihina! Hati-hati sekarang banyak pancingan!”

To Top