Kolom

Revolusi Mental dan Mindset Anak

Ketut Netra, S.H.,M.Kn

Presiden Jokowi dalam Nawa Citanya mencanangkan program revolusi mental. Hal tersebut sangat tepat diterapkan pada keadaan saat ini. Situasi belakangan yang melanda bangsa ini antara lain merajalelanya korupsi, maraknya peredaran narkoba dan sebagainya. Salah satu cara untuk menangulangi hal itu adalah merevolusi mental dengan cara mengubah pola pikir (mindset).
Tidak gampang mengubah pola pikir. Anak pemalas diubah menjadi anak yang rajin. Dari yang suka jahat menjadi anak baik. Atau dari bermental korup menjadi mental mengabdi kepada negara. Untuk menjadikan semua ini berubah, paling tidak ada beberapa faktor yang turut berpengaruh. Yang perlu diperhatikan adalah pola asuh anak, lingkungan, pendidikan dan sistem hukum.
Pola asuh rumah tangga yang baik biasanya menghasilkan anggota rumah tangga yang sopan santun. Taat beragama adalah salah satu kuncinya. Sebagai contoh di Bali. Ada upacara agama sejak kandungan, bayi lahir, selama hidup anak dan sampai meninggal ada upacaranya. Semua itu sesungguhnya mengajarkan kepada umat agar menjadi anak yang baik. Menurut ilmu kedokteran, anak dalam kandungan telah dapat merasakan apa yang terjadi di luar. Upacara kandungan tujuh bulan bermakna agar bayi menjadi sehat, dan ada harapan pula agar ibu yang mengandung tersebut mengajarkan bayinya tentang hal-hal yang baik. Mental buruk sang ibu akan mempengaruhi mental sang anak.
Anak yang baik menurut agama Hindu disebut anak suputra, yaitu anak yang bisa membebaskan orangtuanya atau leluhurnya dari dosa-dosa ketika di alam sana. Untuk dapat membebaskan dosa leluhur tersebut tentunya anak di dunia menjadi orang tanpa cacat. Salah satu cara yang ditempuh adalah taat kepada ajaran agama. Antara lain menerapkan ajaran bhakti kepada catur guru yaitu bhakti kepada Tuhan, orangtua, guru di sekolah dan bhakti kepada pemerintah.
Lingkungan dapat juga berpengaruh buruk terhadap anak. Anak dalam keluarga dan lingkungan bergaulnya sering menerima kata kotor, maka dia akan berperilaku ikut meniru berkata kotor. Oleh karena itu sebaiknya anak ditempatkan pada pergaulan di lingkungan orang yang baik, agar menjadi seorang anak soleh (suputra). Tempatkan dia di lingkungan dengan tradisi baik, sopan berbahasa, santun bertingkah laku, berprilaku adat dan agama yang baik.
Materi pendidikan di sekolah harus mendukung. Pendidikan yang baik adalah memberikan keseimbangan antara kecerdasan iptek dan budi pekerti. Sering anak lebih percaya kepada guru di sekolah dari pada orangtua di rumah, dengan mengatakan bahwa “menurut guru kan begitu”. Hal ini menandakan peran guru di sekolah sangat penting dalam menanamkan sikap budi pekerti. Mereka lebih percaya kepada guru. Pendidikan di sekolah sangat berkesan di otak para murid, karena masa pertumbuhan otak murid sangat mudah menyerap apa yang mereka dengar. Sebagai contoh jika anak sekolah sejak dini diajarkan agar tidak membuang sampah sembarangan. Maka mereka sampai dewasa akan selalu ingat bahwa membuang sampah sembarangan itu tidak baik.
Sistim hukum yang berlaku ikut mempenaruhi pola pikir anak. Analisa pola pikir tersebut di atas adalah cara pencegahan. Berikut adalah pola pikir penindakan atas tindak pidana. Anak muda menginginkan agar pelanggar hukum diberi sanksi berat. Sementara orang pada umumnya punya pola pikir bahwa, pemidanaan yang berat tidak menjadikan mereka jera.
Apakah tidak jeranya mereka karena sistem pemidanaan atau karena memang sikap mental yang sudah tidak mengenal malu. Masalah pemidanaan misalnya, dalam setiap perumusan pasal undang-undang telah ada ancamana hukuman berat. Tetapi hakim dalam setiap putusannya selalu mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan hal-hal yang meringankan. Sehingga dalam kasus yang sama bisa terjadi putusan yang berbeda. Inilah keadilan putusan berdasarkan kasuistis.
Masalah lain, tentang pembuktian. Anak muda maunya koruptor dimiskinkan, dengan cara seluruh hartanya dirampas untuk negara. Kendalanya adalah dalam pembuktian di sidang pengadilan. Jaksa penuntut umum di sidang Tipikor hanya berwenang menghadirkan barang bukti yang disita, dan yang terbukti merupakan hasil dari kejahatan atau ada hubungan dengan tidak pidana yang sedang diperiksa. Dengan demikian jika terdakwa punya harta hasil dari korupsi, tetapi tidak ada hubungannya dengan perkara yang sedang diperiksa, maka harta tersebut tidak dapat dijadikan barang bukti.
Pembinaan pola pikir anak tersebut di atas adalah untuk mencegahan dan bersifat strategis jangka panjang. Sedangkan pola pikir anak muda tentang penindakan hukum perlu mendapat evaluasi oleh yang berwenang ke depan. Misalnya, agar napi menjadi jera perlu sanksi sosial. Seperti dalam hukum adat mengarak nara pidana keliling kampung atau disuruh bekerja sosial.

Ketut Netra, S.H.,M.Kn
Praktisi hukum

To Top