Mozaik

Sanggar Okokan BDK Lestarikan Tradisi dengan Inovasi

Sejak setahun terakhir, Sanggar Okokan Brahma Dipa Kencana (BDK) eksis mengusung kesenian okokan khas Tabanan. Sanggar ini sudah pentas di berbagai tempat dan festival besar seperti Sanur Village Festival, Legian Festival, hingga Sidang Umum Interpol di GWK. Mereka juga tampil sebagai pengisi acara kolosal “Pelangi di Negeri Bhinneka Kertharaharja” garapan Sanggar Pancer Langiit dalam rangkaian HUT ke-69 Bali Post, Sabtu (9/9) malam di panggung terbuka Ardha Chandra, Taman Budaya, Denpasar..
“Walaupun okokan sudah lama dikenal tetapi kami di sekaa mungkin dianggap inovatif dari yang lain. Dari cara memainkan, bisa berpasangan dan diiringi baleganjur. Kemudian bisa dikolaborasikan dengan sanggar lain atau tarian,” ujar Ketua Sanggar Okokan BDK, Ngurah Adnyana yang akrab disapa Ajik Anggi.
Ajik Anggi menuturkan awal mula berdirinya Sanggar Okokan BDK lantaran tersentuh dengan tradisi tektekan yang begitu sakral di Kediri, Tabanan. Tradisi ini salah satunya ditandai dengan membunyikan alat musik okokan. Pihaknya lantas mengembangkannya sebagai pertunjukan dengan sentuhan inovasi.
“Bendesa adat, tokoh masyarakat termasuk penglingsir dan pemangku ternyata mengizinkan. Akhirnya sanggar ini berdiri pada 8 Agustus 2016 di Banjar Delod Puri, Kediri, Tabanan,” jelasnya.
Menurut Ajik Anggi, sanggar saat ini memiliki 60 anggota mulai dari siswa SMP hingga dewasa. Sanggar Okokan BDK diharapkan terus eksis dalam upaya pelestarian adat dan budaya Bali. Sekaligus menjadikannya sebagai ladang penghidupan yang menjanjikan. Terutama lagi, bisa menggaet lebih banyak generasi muda untuk terlibat. Sebab, pihaknya merasa bertanggungjawab meneruskan kesenian ini kepada mereka.
“Dulu awalnya agak berat mengajak anak muda. Tapi setelah mereka mengikuti,ternyata memiliki semangat yang saya acungi jempol. Kami yang tua-tua ini suatu saat mungkin harus mundur, semoga anak-anak muda semakin tergugah,” jelasnya. (Rindra)

To Top