Life Story

Siswa di Pengungsian Belajar di Sekolah Terdekat

Siswa SD 4 Rendang yang sempat bersekolah kemudian diliburkan

STATUS Gunung Agung, Karangasem yang berada di level Awas terus memunculkan kekhawatiran dari masyarakat yang berada dekat Gunung Agung. Hal tersebut mengharuskan mereka untuk mengungsi. Salah satu lokasi pengungsian adalah GOR Swecapura, Klungkung. Data BPBD Klungkung hingga Sabtu (23/9) pagi mencatat 851 KK (3255 jiwa) warga Karangasem yang berada di posko GOR Swecapura.
Warga pengungsian dibawa ke GOR dengan truk. Ada pula yang membawa kendaraan sendiri. Saat mulai menginjakkan kaki di tempat asing ini, raut memilukan terpancar jelas dari wajahnya. Nampak menyedihkan. Seakan tak sanggup menjalani hidup yang teramat pahit.
Alam yang sedang berproses juga mengharuskan warga lansia turut mengungsi. Tak sedikit yang harus dipapah. Ada yang sampai digotong. Ada pula yang memakai tongkat kayu. Berjalan pelan diiringi nafas sesak menuju tenda darurat berdinding biru.
Berbaur dengan suasana itu, tangisan balita juga tak terhelakkan. Sang ibu yang menggendongnya, tetap sabar membuatnya tenang. Tak ada sikap membentak. Sang anak justru dipeluk erat, dihindarkan dari sengatan matahari yang panas.
Pengungsian ini pun mengharuskan pendidikan ratusan anak-anak terhenti. Sejak gunung terbesar di Bali itu level Siaga, mereka tak lagi merasakan canda gurau bersama teman-temannya. Maklum, sekolahnya telah ditutup, dengan alasan keselamatan. Namun, dibenaknya, tersimpan keinginan besar untuk bisa tetap bisa menapaki sekolah. “Berperang” dengan segudang ilmu dengan semangat membara. Seperti halnya, Kadek Erawati. Siswa kelas IX SMPN 2 Selat, Karangasem. “Beberapa hari ini tidak lagi sekolah. Padahal maunya sekolah,” tuturnya.
Warga Desa Sebudi, Karangasem ini berharap besar keinginannya itu terkabul. Ia ingin mencari teman, menghilangkan rasa penat di tengah hidup pikuknya tempat pengungsian. Tak jauh berbeda yang disampaikan adiknya, Komang Adi Wira Pratama yang masih duduk di bangku kelas V SDN 2 Sebudi. Harapan besar pun terungkap dari ibunya, Wayan Mini. “Kalau bisa biar tidak putus sekolahnya,” imbuhnya.
Kepala Dinas Pendidikan Klungkung, Dewa Gede Darmawan menyatakan pendidikan anak-anak itu tetap berlanjut. Mereka dititipkan di sekolah terdekat dari lokasi pengungsian. “Kami tak ingin pendidikan mereka putus. Ini sudah dikoordinasikan dengan sekolah terdekat. Senin (25/9) sudah mulai sekolah,” jelasnya.
Sarana prasarana pendidikannya belum dibahas secara detail. Namun sebagai langkah awal, itu akan dilakukan dengan cara berbagi bersama siswa lain. “Sekarang masih difokuskan ke pendataan. Untuk sarana, mungkin nanti bisa meminjam dengan siswa di sekolah itu,” ungkapnya.

SEKOLAH LIBUR

Sementara itu, kondisi di Rendang, Karangasem masih normal. Sesuai pantauan Sabtu (23/9) pagi, aktivitas di sekolah dan pasar tradisional masih berjalan. Di SD 4 Rendang juga terdapat puluhan anak berseragam sekolah yang siap untuk belajar. Ditemui di lokasi SD 4 Rendang, mereka mengaku tetap bersekolah karena masih aman. Selain itu, Rendang juga menjadi lokasi pemantauan aktivitas Gunung Agung dan tempat pengungsian.
Namun, setelah menunggu sejam, anak-anak tersebut dipulangkan. Menurut salah satu orangtua siswa, Nengah Tekek, sekolah diliburkan mulai Sabtu (23/9). Ia mengaku tidak tahu sampai kapan sekolah diliburkan, karena akan melihat kondisi ke depannya.
Di pasar tradisional, pedagang tetap berjualan seperti biasanya. Pembeli pun masih terlihat ramai berbelanja. (Sosiawan/Yudi Karnaedi)

To Top