Buleleng

Musim Kemarau, Debit Air Bersih PDAM Buleleng Menurun

Memasuki musim kemarau, curah hujan di Buleleng juga mengalami penurunan. Hal tersebut juga berdampak pada penurunan jumlah debit air bersih. Dari data yang diberikan PDAM Buleleng penurunan terjadi sebesar 17,81 persen dari debit air 709 liter/detik, sehingga ada beberapa wilayah yang mengalami penurunan jam pelayanan.
Menurut Direktur Utama PDAM Buleleng I Made Lestariana, SE., kondisi tersebut memang terjadi setiap tahun sebagai siklus tahunan. Namun kondisi itu, tidak mengganggu proses pelayanan air bersih kepada konsumen. Sesuai dengan visi PDAM Buleleng dalam penyediaan air minum, Lestariana mengatakan terus berupaya memenuhi kebutuhan pelanggan dengan meningkatkan kuantitas, kualitas, kontinyuitas, dan cakupan pelayanan.
Secara kuantitas, imbuh Lestariana, dari debit 709 liter/detik dengan jumlah pelanggan sampai dengan Juli 46.776 pelanggan sudah mencukupi. Secara ideal 1 liter/detik untuk melayani 80 pelanggan sehingga jumlah tersebut mampu untuk mencukupi 56 ribu pelanggan. “Dari segi kuantitas kami sudah sangat mencukupi,” jelasnya.
Untuk kualitas, selama ini air yang didistribusikan oleh PDAM sudah memenuhi syarat dari Kemenkes bahkan beberapa air dinyatakan siap minum tanpa harus dimasak terlebih dahulu. Selanjutnya dari segi kontinyuitas pelayanan, air yang didistribusikan sebagaian besar sudah 24 jam pelayanan. Akan tetapi memang ada beberapa wilayah yang memang tidak mendapat pelayanan selama 24 jam disebabkan oleh topografi yang berada diketinggian, dan beberapa daerah yang debitnya masih kurang. “Daerah Busung Biu debitnya masih kurang dibandingkan dengan jumlah pelanggan. Kalau secara keseluruhan pelayanan kami rata-rata 23,8 jam,” ungkap Lestariana disela-sela serangkaian kegiatan HUT ke 31 PDAM Buleleng, 10 September 2017.
Bahkan Persoalan kesulitan air bersih, ungkap Lestariana, pernah terjadi di Desa Ringdikit yang menjadi daerah layanan PDAM Buleleng. Ia pun sudah mengupayakan, dengan menjajakan mobil tanki membantu warga kesulitan air bersih. Namun untuk wilayah bukan jangkauan layanan PDAM, sambung dia, itu kewenangan BPBD Buleleng yang bersinergi dengan PDAM Buleleng untuk droping air bersih. “Kami mengupayakan pelayanan seperti menjajakan mobil tanki. Itu karena ada gangguan, ada sumbatan di jaringan transmisi. Kalau kekeringan di desa-desa yang bukan pelayanan PDAM tentu menjadi tanggungjawab BPBD. PDAM hanya mensuport kegiatan BPBD. Sampai saat ini belum terima surat yang sifatnya terjadwal untuk permintaan bantuan,” jelasnya.
Selanjutnya, untuk cakupan pelayanan adminstrasi mencapai 45,95 persen bahkan untuk cakupan pelayanan teknis PDAM yang meliputi 68 desa dan kelurahan telah mencapai 86,7 persen. “Dari sisi cakupan pelayanan Buleleng cukup baik,” tambahnya. (Wiwin Meliana)

To Top