Kolom

WALAU BISA MUDAH PILIH YANG SULIT

Biasanya orang berkata: Kalau bisa yang mudah kenapa mesti pilih yang sulit? Tapi Amat tak setuju. Dia langsung ke rumah Ami marah-marah.
“Salah Ami!”
Ami terkejut.
“Salah? Salah apaan?”
“Kamu masih muda tapi sudah berpikir seperti orang tua!”
“Ah, masak? O,itu? Lho bukannya itu bagus!?”
“Bagusnya apa?”
“Kan itu kiatnya Bapak sendiri juga, kata Bapak anak muda yang bisa berpikir melompati usianya berarti dia matang! Dewasa! Ya kan?!”
“Salah!”
Ami tersenyum.
“Lho kok salah? Bapak lupa, ya? Atau sudah diregulasi?”
“Buat apa melompat kalau tidak perlu!”
“Jadi sekarang Bapak mau berfatwa apa? Kedewasaan atau kematangan karakter tidak boleh mendahului usia? Ah? Kok lucu! jadi anak ingusan harus tetap ingusan sampai usianya cukup untuk tidak beringus lagi? Begitu? Saya tidak setuju! Itu yang salah, Pak! Kadek, cucu Bapak tetap akan kami sekolahkan meskipun usianya masih ingusan! Karena dia sudah mau dan kami yakin dia mampu! Bapak tidak boleh intervensi, itu sudah jadi keputusan kami!”
Ami nampak mulai mau marah. Ketika Amat mau buka mulut, Ami menerobos.
“Bapak boleh sayang sama cucu, tetapi memanjakan cucu dengan menahannya lama jadi ingusan, itu salah! Anak itu bukan pet, Pak! Kita sekarang di Indonesi ini, karena kondisi kehidupan kita lebih baik dari waktu masa kita sendiri masih anak-anak, memang cenderung mau memanjakan anak berlebihan! Seakan-akan kita mau membayar utang, menebus nasib kita yang begitu seadanya sebagai anak kecil. Tidak ada video game, ponsel, internet dan semua yang sekarang berlimpahan. Kita mau agar mereka tidak mengalami masa kecil susah seperti kita, dengan cara menguruknya dengan segala macam fasilitas!. Tapi itu salah, salah besar! Itu tidak mendidik! Kita harus tega, berani mempersiapkan anak kita jadi keras jiwanya, karena kehidupan yang akan dihadapinya nanti, pasti lebih liat, lebih kompetitif!! Bapak mau cucu Bapak si Kadek itu nanti jadi gelandangan di pinggir jalan? Mengemis karena kalah bersaing? Mau? Mau?”
Amat menjawab sabar.
“Tidak.”
“Nah! Kalau begitu biarkan dia melompat!”
Amat tertawa.
“Bapak tidak melarang Kadek melompat, Ami!”
“Makanya!”
“Bapak malah senang cucu Bapak suka melompat, tanda dia pintar. asal jangan melompat ke jurang! Tapi ini bukan soal melompat, kamu keliru!”
Ami tertegun.
“Keliru?”
“Ya! Makanya jangan suka cepat naik darah, seperti ibu kamu! Bapak tidak meregulasi kedewasaan yang lebih cepat dari usia. Bapak cuma mau bilang, kamu salah kalau kamu masih bilang: Kalau ada yang lebih mudah, kenapa pilih yang sulit. Itu, itu, itu cocok buat orang yang kemampuannya rata-rata. Jadi maunya yang gampang! Asal cepat dan selamat. Kamu dan suamimu adalah orang cerdas, kalian tidak perlu cari gampangnya saja seperti mereka-mereka itu. Malu Bapak! Memilih yang mudah itu memang praktis dan ekonomis, tetapi nilanya, gengsinya juga kurang.Memilih yang sulit walaupun ada yang lebih mudah, bobotnya akan tinggi! Jadi Bapak anjurkan desaklah suamimu menolak tawaran kerja yang disampaikan oleh perusahaan milik kawan sekolahnya waktu SMA. Lebih baik ikut tes untuk bersaing jadi pegawai perusahaan asing yang konon milik Donald Trump. Kalau dia diterima, berarti dia terbaik dari mungkin 5 ribu orang lain yang bersaing menginginkan posisi itu! Bagaimana? Setuju?”
Ami tak menjawab. Tapi Amat pun tak mau mendesak. Ia tahu karakter anaknya. Kalau didesak Ami pasti akan melawan. Tapi bila dibiarkan, biasanya Ami akan membuntuti.
Tetapi malam. Hari, begitu Amat sampai di rumah, istrinya menyambut gembira.
“Berita bagus, Pak. Menantu kita, Nak Sugi sudah dapat pekerjaan sekarang selain jadi dosen di kampus!”
“O, ya, di mana?”
“Seperti yang saya nasehatkan.”
“Yang mana?”
“Kalau ada yang mudah untuk apa pilih yang sulit! Ya,kan?”
Amat terkejut.
“Dimana?”
“Kalau ada yang mudah kenapa harus cari yang sulit! Ya, tidak, Pak?”
Amat tak menjawab. Bu Amat lalu membentak kesal
“Ya atau tidak, Pak ?!”
Amat terpaksa menjawab lirih:
“Ya.”

To Top