Surabaya

Kunto Hartono: Targetkan Rp 100 Miliar

Usai memecahkan rekor 145 jam gebuk drum non stop di Lapangan Benteng Kuto Besak, Palembang, awal tahun lalu, Kunto Hartono kembali tampil dalam sebuah event kemanusiaan untuk anak-anak korban perang Syria, bertajuk “The Longest Drumming 100 Hours By A Team” di Castelo Branco, Portugal selama 22 – 24 September 2017.
Ia akan berkolaborasi bersama empat drummer pemegang rekor, Carlos Santos (Portugal) yang mencatat rekor 133 jam 4 menit, Steven Gaul (Kanada) 134 jam, Lou Mars (Amerika Serikat) 108 jam, dan Alister Brown (Inggris) 102 jam. Mereka memiliki target mengumpulkan dana sebesar Rp 100 miliar, mengiringi 100 lagu selama 100 jam bersama. “Ini murni event kemanusiaan,” tuturnya. Kunto juga mengusulkan lelang drum yang pernah mereka gunakan saat memecahkan rekor. Ternyata mereka setuju dengan usul ini. Jadi target Rp 100 miliar bisa bertambah.
Nasib Kunto Hartono tak sebaik empat rekan yang lain. Saat dijumpai, pria kelahiran Banyuwangi tersebut mengaku masih belum mengantongi tiket karena terganjal dana dan fasilitas. Namun, Kunto tetap yakin akan ada jalan tak terduga untuk berangkat ke Portugal. Ia juga mengatakan belum mendapat dukungan dari pemerintah.
“Karena semua dana inisiatif sendiri, belum ada dukungan dari manapun. Saat ini, bahkan aku belum mengantongi tiket keberangkatan untuk lima orang, termasuk kru dan penerjemah,” ungkap Kunto, saat dijumpai di rumahnya, Jalan Hayam Wuruk Dodik, Surabaya, pekan lalu.
Pertunjukan yang menggandeng Unicef untuk penggalangan dana bagi anak-anak korban perang Syria dan tragedi Rohingnya sudah di depan mata. Event besar di Eropa dengan isu besar kemanusiaan. Kunto hanya bermodal niat dan tekad. “Untuk teknis sampai latihan fisik pasti sudah, tinggal kendala tiket, akomodasi dan uang saku,” imbuh pria kelahiran Banyuwangi ini.
Kunto Hartono mengawali karier sejak remaja di dunia musik. Kondisi ekonomi yang kurang mendukung, membuat Kunto hanya mampu berlatih menggunakan bantal dan guling setiap hari. Lalu beralih memanfaatkan kaleng susu serta ember.
“Peralatan tidur banyak yang rusak, dan waktu beralih ke kaleng juga sering dimarahi karena berisik,” kenang pria kelahiran 1977 tersebut. Beranjak dewasa, ia mulai menapaki dunia kerja hingga kemudian membentuk sebuah grup band. Namanya mulai dikenal karena sering tampil di berbagai festival. Tahun 1990-an ia hijrah ke Bogor. Di tempat baru, Kunto memiliki kerja sampingan sebagai tukang sol sepatu dan vermak jeans selama 1999 – 2002 untuk bertahan hidup.
Mimpinya menjadi jawara pemain musik Indonesia tak pernah pupus. Ia mulai berpikir membuat terobosan sebagai pemecah rekor main drum. Tak sia – sia, 2003 namanya tercatat dalam Rekor Muri mengalahkan Jelly Tobing. 2004, Kunto mulai menorehkan prestasi sebagai “The Strongest Drummer in the World from Indonesia” versi rekor dunia. Sejak saat itu ia mulai menancapkan nama di jajaran drummer kenamaan dunia. Kali ini ia kembali berjuang bukan demi sebuah rekor dunia, namun untuk sebuah misi kemanusiaan. (Lely Yuana)

To Top