Kolom

“Senyum yang Terlambat”

Salam Senyum..

“….. Terlambat sudah… terlambat sudah….. Semuanya telah berlalu….
Telambat sudah Kau datang padaku… Setelah Kudapatkan penggantimu..”

Bagi yang lahir setelah era 1990-an, tidak dapat mengenali penggalan lagu di atas. Lagu ini sangat berjaya ketika dinyanyikan oleh kelompok musik legendaris Panbers sekitar tahun 1970-an. Sampai sekarang masih enak didengar dan dinyanyikan. Bahkan sering dipakai istilah ketika kita terlambat untuk memenuhi keinginan seseorang.
Siang hari dengan terik matahari yang panas, namun diiringi angin berhembus kencang dengan suhu yang dingin, membuat keringnya kulit dan bibir kelihatan pecah pecah. Sebagai seorang wanita yang menginginkan penampilan selalu terjaga, selain dengan minum vitamin, saya berkeinginan mencoba produk lipstik yang lebih banyak mengandung nutrisi. Agar dapat melapisi bibir sehingga tidak nampak pecah pecah.
“Mbak,… coba saya lihat lipstiknya. Yang warna ini ya”, sambil saya menunjuk ke salah satu contoh dalam etalase kosmetik yang dipajang. Setelah melihat sebentar, saya tertarik untuk melihat warna yang lain, dan segera meminta pelayan untuk mengambilkan contohnya. Sambil melihat-lihat, saya meminta pelayan menerangkan kelebihan dari produk itu.
Setelah agak lama melihat lihat, saya teringat kalau saya membawa contoh warna lipstik yang paling saya suka untuk dipakai sehari hari. Saya perlihatkan kembali kepada pelayan. “Kalau warna yang seperti ini ada mbak?” tanya saya. Karena sudah bolak balik memilihkan produk yang akan dibeli, wajah pelayan yang cenderung datar sekarang malah sedikit cemberut. Saya tahu, mungkin dia mulai kesal, karna saya termasuk calon pembeli yang rada cerewet juga detail.
Dengan wajah bersungut dan sedikit kelihatan kesal, pelayan mencarikan permintaan saya. Setelah ditemukan, tanpa berkata, apalagi memandang saya, dia menaruh lipstik itu di atas etalase. “Ini mbak?.. tanya saya kepada pelayan sambil menunjuk lipstik yang itu. Dia mengangguk, dan perhatiannya sudah bukan kepada saya lagi. Waaaahhhh…. perasaan saya sudah mulai terganggu dan tidak nyaman sebagai calon pembeli.
Diburu waktu karena harus datang tepat waktu untuk mengajar sebagai dosen tamu di sebuah universitas, saya memutuskan untuk segera menjatuhkan pilihan dan segera akan membayar. “Saya ambil 5 buah ya Mbak. Tiga warna ini masing- masing satu, dan warna ini dua”. Memang saya membeli lebih dari satu. Selain untuk dipakai sendiri, saya akan menghadiahkan lipstik ini kepada dua staf saya di kantor yang berulang tahun di bulan ini. Naaaahhhh Seperti ada remot/tombol yang memainkan, pelayan tadi langsung tersenyum lebar. Bahkan kalau boleh dibilang, senyum sangat lebar, diikuti dengan mata yang berbinar.
Hmmm… dalam hati saya bergumam… “Senyum yang terlambat…. Kenapa tidak dari tadi ya senyumnya seperti itu…. “. Ternyata pelayan itu hanya mau tersenyum ketika calon pembeli memutuskan untuk membeli bahkan memborong barang yang dijual . Waaaaaahhhh…. sungguh layanan yang sangat miris. Padahal saya sudah memutuskan tidak akan kembali lagi berbelanja di tempat ini karena mendapat perlakuan yang kurang nyaman dari penjualnya.
Tanpa bermaksud menyinggung perasaan dari pelayanan, saya tanyakan kepada pelayan tadi. Kenapa senyumnya lebar setelah saya memutuskan untuk membeli. Dia jawab tanpa ada perasaan bersalah,… “abis…. banyak sih bu… orang datang ke sini hanya lihat-lihat, bahkan mencoba-coba … tapi ujung-ujungnya tidak jadi beli. Kan ngerepotin saya aja… “.. Waaaaah… gimana orang mau beli kalau pelayannya saja bersikap tidak ramah seperti ini… hehehehehh..
Pembaca setia Dhani’s Art in service, sering kita mengalami kejadian seperti cerita di atas. Senyum terlontar ketika harapan dari penjual terpenuhi. Saya ulangi, ‘harapan penjual’. Padahal dalam ilmu layanan ada istilah, pakailah sepatu dari pelanggan Anda. Istilah itu mengartikan bahwa bukan pelanggan yang menyesuaikan diri dengan seorang pelayan. Tetapi para pelaku layananlah yang selalu menyesuaikan diri dengan harapan, keinginan, kebutuhan, dan permintaan dari pelanggan. Bagaimana jika istilah sepatu yang dipakai malah sepatu pelayan itu sendiri…. Maka pastilah tidak akan cocok. Tidak cocok bisa dari warna, model bahkan ukurannya. Dan jelas itu akan kelihatan tidak serasi.
Terlambatnya sebuah senyuman dari seorang pelaku layanan akan berdampak buruk bagi kemajuan bisnis sebuah perusahaan. Bukankah dalam layanan itu kita harus memberi terlebih dahulu? Bukan malah sebaliknya, setelah menerima dari pelanggan baru pelaku layanan tersenyum… Kalau demikian, …. Mari kita biasakan untuk memulai melayani pelanggan dengan senyuman. Agar senyuman para pelaku layanan bukan “Senyum yang terlambat”
Materi ini terdapat dalam pelatihan yang beri judul SERVE WITH LOVE. Ingin mengetahui dan menerapkan bagaimana ‘SERVE WITH LOVE’ di perusahaan/instansi Bapak/Ibu ? Silakan hubungi manajemen kami, dan kami siap sharing dalam pelatihan, IHT (In House Training) atau workshop dan seminar seperti apa yang Bapak/Ibu perlukan.

Salam3SP. Salam Senyum Sang Penyihir .
Sri Sumahardani
srisumahardani3sp@gmail.com

To Top