Life Story

Tetap Dianggap “Pasukan Dapur”

Takbir berkumandang mengiringi Hari Raya Idul Adha tahun 2017. Rieke (54) bersama anak semata wayang dan suaminya, berjalan beriringan menuju tempat dilaksanakannya Salat Idul Adha di salah satu kota di Mataram. Dengan senyum yang mengembang di bibirnya, Rieke menikmati hari raya tersebut dengan suka cita di kampung halamannya.
Tahun ini ia berkesempatan mudik untuk menikmati kebahagiaan hari raya bersama keluarganya. Puluhan tahun ia kehilangan momentum kebahagiaan bersama saudara dan keluarganya itu, karena tidak memiliki biaya yang cukup untuk pulang bersama anak dan suaminya.
Perempuan kuat yang menghabiskan lebih dari separuh hidupnya untuk bekerja sebagai karyawan pabrik garmen di Surabaya ini, telah menelan pahit getirnya kehidupan yang penuh perjuangan. Bahkan sejak usianya yang masih sangat kecil, ia menghabiskan waktunya tinggal dengan salah seorang bibinya di Pulau Sumbawa. “Dia bibi yang bahkan hingga sekarang tidak pernah saya rasakan memperlakukan saya sebagai keponakan, apalagi anaknya,” ujar Rieke.
Ia ingat betul bagaimana ia harus bekerja keras di rumah bibinya itu pada usia yang masih sangat kecil, ketika duduk di kelas tiga sekolah dasar. Hampir semua urusan rumah tangga harus ia lakukan seperti seorang asisten rumah tangga. Sampai-sampai kala itu, tubuh kecilnya tersiram air panas. Tangan mungilnya tidak mampu mengangkat panci air mendidih dari atas kompor. Bagian dada dan perutnya ketumpahan air mendidih yang meninggalkan bekas hingga hari ini. “Ini bekasnya, mengingatkan saya pada hari yang tidak pernah bisa saya lupakan itu,” ujarnya dengan mata berkaca sambil memperlihatkan bekas luka di bagian perutnya. Air mata menggenangi bola matanya yang mulai menua itu. Namun, semua itu tidak ingin dikenang oleh Rieke apalagi sampai terjadi pada anak semata wayangnya.
Kehidupan Rieke dan dua adiknya, memang mengalami hal sulit bahkan hingga usia mereka dewasa. Perceraian orangtua mereka membuat ketiganya telantar ke rumah-rumah keluarga ayahnya. Mereka terpisah dari ibunya dan tidak diperbolehkan bertemu dengan ibunda tersebut. Sementara ayahnya mengikuti perjalanan tugasnya ke Pulau Jawa. Meski dengan segala upaya ibu mereka ingin membawa ia dan adik-adiknya, usaha itu selalu digagalkan oleh bibi-bibi yang dinilainya jahat itu. “Bahkan kami sempat lari menemui ibu, tapi dipaksa jemput lagi oleh bibi,” ujarnya.
Sejak itulah, kehidupan mereka kocar-kacir mengikuti adik-adik ayahnya. Rieke yang anak kedua itu ikut bibinya tinggal di Jakarta, kakak sulungnya tinggal bersama bibinya di Pulau Sumbawa dan adik bungsunya tinggal di Jawa Timur. “Kami sama sekali tidak dapat berkomunikasi satu sama lain,” kata Rieke sedih.
Di tahun 1970-an itu, era komunikasi memang sangat sulit. Sehingga mereka seperti terpisah tanpa kabar sedikit pun, satu sama lain tanpa saling mengetahui keadaan masing-masing. Begitu juga dengan ibunda mereka di Pulau Lombok. “Saya tahu ibu sangat sedih dan terpukul ketika terpisah dari kami,” kata Rieke. Dalam kondisi ekonomi yang terbatas ditambah komunikasi yang sulit, membuat sang bunda tidak mengetahui sama sekali kondisi anak-anaknya.

BELUM SEMPAT BAHAGIAKAN IBU
Kisah ibundanya yang terpukul itu akhirnya ia ketahui ketika di tahun 1990-an Rieke pernah pulang menemui ibunya untuk pertama kalinya sejak mereka terpisah puluhan tahun. Saat itu Rieke sudah bekerja dan lepas dari bibinya. Ia kumpulkan rupiah demi rupiah agar bisa bertemu dengan ibunya. “Ibu merangkul saya erat sekali, kami menangis dan rasanya tidak ingin berpisah lagi,” ujar Rieke. Namun, ia harus kembali ke Jakarta karena cutinya tidak banyak waktu. Betapa bahagianya ibu dan anak ini bisa bertemu kembali. Rieke juga sempat mengunjungi kakak dan adiknya, yang juga sudah bekerja namun belum cukup uang untuk bisa menemui ibunda mereka kala itu. “Semua masih berjuang di tahun 1990-an itu,” katanya. Sejak itu, Rieke lalu mencatat alamat dan nomor kontak ibundanya dan juga kakak serta adiknya, agar bisa menghubunginya setiap waktu.
Dari kontak inilah, di suatu ketika di tahun 1996, ia mendapat kabar jika sang bunda meninggal dunia. “Dunia saya runtuh seketika. Saya pingsan di kantor,” kata Rieke. Meski ia bersyukur sudah bisa ketemu lagi dengan sang bunda setelah terpisah sangat lama kala itu, kepergian ibundanya yang mendadak membuat ia tidak bisa menahan kesedihannya. “Saya belum sempat membahagiakan ibu,” kata Rieke yang giat menabung untuk bisa bertemu kembali dengan ibu dan saudara-saudaranya. Namun belum sempat cita-cita itu dilaksanakan, ibundanya telah kembali menghadap Sang Khalik. “Uang tabungan itulah yang saya pakai untuk pulang melihat jenazah ibu untuk terakhir kalinya,” katanya.
Sebelum tahun 1990-an, kehidupan Rieke berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya mengikuti pamannya (suami bibinya) yang pejabat. Meski begitu, ia tetap saja menjadi “pasukan dapur” alias ditempatkan bersama para asisten rumah tangga oleh bibinya. “Padahal itu bibi kandung saya, adik kandung dari ayah saya,” kata Rieke. Justru pamannya yang memperhatikan dan kasihan padanya. “Paman suka sembunyi-sembunyi memberi saya uang jajan dan juga untuk ongkos angkot,” katanya.
Situasi ini membuat Rieke remaja mulai merasa memiliki keluarga dengan perlakuan baik pamannya itu. Namun itu belum cukup membuat Rieke lepas dari pahitnya perlakuan bibinya. Bahkan hingga dewasa, ia masih belum merasa bahwa bibinya itu memperlakukannya sebagai keponakan kandung. “Bahkan sampai saat ini, kalau bertemu, bibi masih memandang saya seperti dulu,” kata Rieke yang tiap berkunjung ke rumah bibinya ini masih sering ke dapur. Seperti otomatis itu terjadi. Hal itulah yang membuat Rieke tidak terlalu sering berkunjung ke rumah bibinya. “Bukannya saya tidak mau, tapi saya menjaga perasaan suami dan anak saya,” kata Rieke. (Naniek I. Taufan)

To Top