Kreasi

Patoyan Ganggadwara: Kreativitas Seni Memuliakan Sumber Mata Air

Suguhan seni yang atraktif dinikmati warga di sekitar Taman Mumbul, Sangeh, Sabtu (26/8) malam. Mereka menyaksikan pergelaran kecak inovatif yang  digelar di atas air. Kecak air ini merupakan karya kolaborasi antara pemuda Desa Sangeh dan Sanggar Yudistira Sangeh yang dibina oleh Sanggar Seni Pancer Langiit. Ini menjadi embrio menggeliatnya aktivitas dan kreativitas seni di objek wisata yang mulai naik daun tersebut.

Agung Rahma Putra, Pemimpin Yayasan Pancer Langiit mengatakan, proses kreatif kecak air “Patoyan Ganggadwara” terinspirasi dari keindahan Taman Mumbul yang dikenal sebagai pusat aktivitas spiritual dan material masyarakat Desa Sangeh. Bentang kolam berair jernih dan bersih yang terdapat di salah satu sisi kawasan Taman Mumbul sejatinya menawarkan panggung alam yang cukup luas bagi seniman-seniman Bali untuk berkreativitas.

“Kami bersama komponen pemuda Desa Sangeh dan Sanggar Yudistira Sangeh mencoba merespons ruang tersebut untuk menggerakkan semangat dan potensi kreativias seni yang dimiliki. Kami memendam impian tempat ini bisa menjelma menjadi barometer pendidikan dalam menjaga, melestarikan dan memuliakan sumber mata air sebagai sumber kehidupan,” kata mahasiswa Program Doktoral (S3) ISI Surakarta, Solo ini.

Nantinya, atraksi kecak air ini diharapkan mampu menjadi “trade mark” Taman Mumbul yang juga dikenal oleh masyarakat Bali sebagai salah satu situs penyucian diri atau pelukatan tersebut.

Gung Rahma menambahkan, dalam kultur masyarakat Bali, patoyan dikenal sebagai wadah sumber air suci yang sangat berperan penting dalam kehidupan masyarakat Hindu pada umumnya dan umat Hindu Bali pada khususnya. Sementara gangga merupakan anugerah Hyang Paramamesti Guru sebagai pencerahan dan nilai kebajikan. Adanya pencerahan bagaikan lentera yang memberikan tuntunan hidup manusia.

“Patoyan Ganggadwara” dimaknai sebagai gerbang atau pintu masuk penyucian diri yang menjadi langkah awal dalam meraih kebahagiaan sejati. “Kami sengaja mengemas konsep karya ini dalam kemasan kecak air yang nanti kami harapkan mampu menjadi salah satu ikon atau trade mark kesenian yang dipentaskan di Taman Mumbul. Mudah-mudahan, karya ini juga mampu menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Taman Mumbul,” jelasnya.

 

DUA RAKIT

Ia juga mengatakan, pergelaran “Patoyan Ganggadwara” ini merupakan malam kesenian untuk mendukung program Desa Sangeh menjadi Desa Wisata dirangkaikan dengan malam kesenian dari program Pengabdian Masyarakat Universitas Warmadewa.

Pergelaran dengan durasi sekitar satu jam itu didukung oleh 70 orang penari dan penabuh. Untuk menampilkan pergelaran di atas air tersebuh, pihaknya menyiapkan empat buah rakit dari bambu. Dua buah rakit difungsikan sebagai panggung para penari kecak, satu rakit untuk panggung penari utama dan satu rakit lainnya untuk tempat para penabuh. “Sebagai langkah awal, tentunya karya ini masih memerlukan proses penyempurnaan di sana-sini. Tapi kami meyakini, menari di atas air tentunya memberikan kesan yang sangat menarik. Selain memberikan pengalaman baru bagi para pelaku seni, hal ini dapat menjadi sebuah karya inovatif dengan mengeksplorasi alam,” tegasnya. (Sumatika)

To Top