Bunda & Ananda

Kompak Tekuni Olahraga

Ngurah Santosa-Nardiani bersama putra-putrinya kompak menyukai olahraga

Buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya. Mungkin ungkapan ini bisa mewakili kekompakan keluarga I Gusti Ngurah Putra Santosa-Ni Nyoman Nardiani bersama ketiga putra-putrinya yang getol berolahraga.

Dulu pada zamannya, ngurah Santosa adalah atlet taekwondow dan Nardiani pebasket. Kini aktivitas olahraga pasutri itu pun mengalir kepada ketiga anaknya.

“Ketiga anak saya sangat aktif, tidak bisa diam kecuali tidur. Makanya saya arahkan ke kegiatan yang banyak gerak dan bisa berprestasi, kebetulan mereka juga mau,” ujar Nardiani.

Putra pertama mereka, I Gusti Bagus Arjun Pratam Yoga. Sekarang duduk di bangku kelas 1 SMPN 3 Denpasar. Sejak kelas 1 SD sudah diikutkan ekstra senam di sekolahnya SDN 8 Dauh Puri. “Karena anak saya suka jungkir balik, saya coba ikutkan senam. Dan ternyata dia senang malahan berkembang dan sering mendapat juara, bahkan hingga tingkat nasional,” ujar Nardiani. Yoga juga sempat mendalami taekwondow hingga pernah beberapa kali ikut lomba.

Prestasi Yoga-panggilan akrabnya yakni menyabet medali perunggu dalam Olympiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tahun 2015 di Makasar. Dan berhasil menggondol 3 medali emas dalam Porsenijar 2017 tingkat Provinsi.

Rupanya keberhasilan sang kakak ini juga menjadi penyemangat adik-adiknya, I Gusti Agung Khrisna Pranata dan I Gusti Ayu Putri Sanjiani Kanya Dewi. Ketika Yoga latihan, kedua adiknya kerap ikut menunggui Yoga latihan bersama sang ibu. “Daripada di rumah tidak ada siapa-siapa, saya ajak mereka mengantar kakaknya sambil saya melihat perkembangan latihan Yoga,” ujar Nardiani.

Dari sering melihat Yoga latihan apalagi kerap menyabet piala ditamah dukungan orangtua, Khrisna dan Kanya pun akhirnya ikut ekstra senam. Ketika diikutkan lomba dan berhasil menang, mereka semakin semangat latihan. Bahkan, saat Wali Kota Cup 2017, ketiga bersaudara ini berhasil membawa pulang medali emas masing-masing 3 piala untuk cabor senam lantai (senam artistik).

Setelah lolos seleksi, Sabtu (2/9)Khrisna berangkat ke Medan mewakili Bali dalam O2SN tingkat SD. “Dari dulu dia ingin naik pesawat udara, akhirnya kesampaian juga. Sama seperti kakaknya Yoga,” ujar Ngurah Santosa tersenyum. Dia selalu menyemangati anak-anaknya jika ingin naik pesawat harus berprestasi dulu. Impian Yoga dan Khrisna pun terwujud bahkan membawa nama Bali.

DUKUNGAN ORANGTUA

Selain semangat anak dan dukungan pelatih, dukungan dari orangtua sangat penting dalam perkembangan aktivitas anak. “Saya selalu menunggui anak saat latihan, biar tahu perkembangan latihan anak. Jadi secara tidak langsung saya tahu gerakan yang benar. Kadang saya juga cari gerkan di youtube untuk bisa dipelajari anak,” ujar Nardiani.

Ketika ayahnya, Ngurah Santosa kerja malam, ia pun pasti menyempatkan diri ikut mengantar putra-putrinya latihan. “Sesekali ketika latihan di Lapangan Renon, saya dan ibunya juga ikut, sekalian olahraga bareng,” ucap Ngurah Santosa, yang pegawai hotel ini.

Ia mengatakan untuk bisa melakoni itu semua, salah seorang harus mengalah tidak bekerja. “Istri mengalah tidak bekerja, sehingga bisa mengurus anak. Sembari di rumah, dia membuat sampyan ental untuk dijual,” ujarnya.

Nardiani menambahkan semua itu dilakoninya dengan senang hati. Dari pagi ia sudah sibuk menyiapkan masakan di dapur agar anak-anak dan suami bisa sarapan. Pukul 6.45 anak-anak sudah siap diantar ke sekolah. Selepas sekolah, mereka pulang sebentar ke rumah untuk berganti pakaian dan makan siang, berlanjut mengantarkan mereka les pelajaran. “Jika pas Selasa, Jumat, biasanya langsung pakai baju olahraga karena sepulang les langsung ekstra senam di SDN 8 Dauh Puri,” kisahnya.

Ketiga bersaudara itu tak pernah tidur siang. “Kalau mereka sampai tidur artinya kondisinya kurang sehat,” ucap Nardiani yang sudah memahami kondisi anaknya. Sorenya mereka bermain sebentar, mandi dan belajar, setelah itu tidur sekitar jam 8-9 malam. Begitu rutinitas mereka setiap hari.

Ketika ditanya apa tips agar anak-anak bisa berprestasi, pasutri ini kompak menjawab, aktivitas yang ditekuni tersebut harus sesuai dengan kesenangan anak. Kemudian orangtua tinggak mendukungnya dengan siap mengantarkan, menunggui, dan mencari referensi untuk memperdalam aktivitas tersebut (dalam hal ini gerakan senam). “Biarpun anak senang, pintar, jika orangtua tidak mendukung, aktivitas anak tak akan maksimal,” tandasnya. (Inten Indrawati)

To Top