Dara

Dinda Jelantik dan Dhanan: Wakil Bali di Jambore Generasi Hijau Nasional

Jambore Generasi Hijau Nasional  (JGHN ) 2017, adalah ajang pertemuan delegasi dari 27 provinsi yang peduli lingkungan. Kegiatan JGHN diselenggarakan di Bontang oleh Green Generation Indonesia (NGO) yang bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup .

Pekan lalu Tokoh menemui dua remaja energik dan memiliki kepedulian tinggi pada lingkungan, yakni I Gusti Ayu Agung Istri Dinda Larasshanti Jelantik, yang akrab dipanggil Dinda Jelantik dan Ni Putu Dhanan Kumaradewi M yang biasa disapa Dhanan. Keduanya murid SMA Negeri 1 Gianyar, delegasi wakil Bali di ajang Jambore Generasi Hijau Nasional  2017.

Menurut Dinda Jelantik, puteri kedua dari dua bersaudara pasutri I Gusti Ngurah Jelantik Manuabe, S.E. dan Dr. AAA Ngurah Sri rahayu Gorda S.H., M.M., M,H., ini, Jambore Generasi Hijau di Bontang kali ini adalah pelaksanaan tahun ke-3. Sebelumnya, Jambore pertama tahun 2015 di  Balikpapan dan Jambore ke-2 tahun 2016 di Mamuju. Rencananya, Jambore tahun 2018 bakal berlangsung di Siak.
Dikatakan oleh Dhanan, sulung dari 2 bersaudara pasutri I Wayan ada dan Ni Made Arythi ini, awalnya mereka anggota  Green Generation Indonesia, Bali. Ketika mengetahui bahwa ada Jambore Generasi Hijau Nasionali, mereka sepakat mendaftar. “Dan kami pun melalui proses seleksi. Setelah mengisi form pendaftaran dan membuat video, akhirnya kami terpilih mengikuti JGHN  2017,” kata Dhanan yang memiliki suara merdu ini.

Motivasi mereka mengikuti JGHN 2017 adalah ingin membangun dan mengembangkan Green Generation di Bali. “Kami dari Green Generation Bali belum sempat mengikuti pelatihan. Jadi dengan mengikuti JGHN ini, bisa mendapatkan banyak informasi dan ilmu terkait cara mengembangkan Green Generation yang peduli lingkungan,” ucap Dinda Jelantik, kelahiran 10 September tahun 2000, yang ingin menjadi seorang akuntan publik ini.

Mereka juga mengaku melakukan persiapan cukup banyak Setelah lolos seleksi, mulai mencari permasalahan di daerahnya  dan mencari solusinya, dilanjutkan  membuat suatu project lingkungan. “Bukan hanya tugas yang dipersiapkan, juga perlengkapan pakaian, obat-obatan, hingga busana adat daerah yang akan di pergunakan untuk pentas budaya (culture perfomance). Satu lagi, yang wajib disiapkan peserta, yakni membawa tumblr dan lunch box , tempat minum dan makan selama di sana, untuk mengurangi sampah dan botol plastik,” lanjut Dhanan yang punya mimpi menjadi pengusaha ini. “Selain itu persiapan sebelum keberangkatan kami juga diberikan challenge yaitu meng-upload foto I’m Ready For JGHN dan Isi koper,”  cetus Dinda Jelantik  tersenyum. -ard

Dhanan dan Dinda Pulang dengan Prestasi
Bicara pengalaman mengikuti Jambore, Dhanan mengatakan ada sharing dan mendengarkan masalah lingkungan di seluruh Indonesia dan mencari solusinya melalui  forum group discussion (FGD). Dari persoalan yang ditemukan  mereka membuat project nasional regional Jabalnus (Jawa, Bali, Nusa Tenggara). Selain itu mereka juga sempat mengunjungi TPA Bontang, Mangrove Bontang, PT Pupuk Kaltim,  PT Badak LNG  dan mengunjungi 4 sekolah Adiwiyata Mandiri.

Meski kegiatan cukup melelahkan karena jadwal yang padat, namun tetap semangat apalagi di sana mereka bertemu teman-teman baru yang semakin seru dengan bertukar cerita dan informasi tentang kebudayaan daerah masing-masing. Yang menarik lainnya, lanjut Dinda Jelantik bahwa, ia tiba-tiba diminta membaca dua nominasi sekaligus. Ia mengaku deg-degan dan bingung mau bilang apa. Namun, dengan support para panitia agar ia santai saja dan sempat berlatih 5 menit, akhirnya Dinda bisa menjalankan tugasnya dengan lancar. Di samping itu Dinda Jelantik juga bahagia bisa masuk Top 10 MS Green Generation 2017 dari 125 peserta.

Begitu juga Dhanan, kelahiran 1 Januari tahun 2000 ini, dirinya pun bahagia berhasil masuk Top 5 MS Green Generation 2017 serta menjadi Runner Up 1 MS Green Generation 2017. “Kami berdua juga berhasil menang dalam JGHN Challenge (challengen ii memposting setiap foto setelah kegiatan yang kami lakukan),” ucap Dhanan yang diamini Dinda Jelantik sambil mengucapkan terima kasih atas support orangtua mereka juga Sekolah mereka SMA Negeri I Gianyar yang memberikan dispensasi mereka bisa mengikuti JGHN 2017 tersebut.

Kini setelah kembali, keduanya ingin membagikan pengetahuan yang diperoleh selama di JGHN. Mereka berniat mengembangkan Green Generation di Bali dan membentuk Green Generation Sekolah, untuk bersama-sama menyebarkan kebaikan lingkungan. Untuk langkah mereka yang tidak mudah ini, Dinda dan Dhanan mengaku berpegang pada prinsipnya Pandu, Presiden Green Generation Indonesia, yakni  “Mata picek kuping budek” tutup mata tutup telinga kalau ada orang mencibir, mengejek atau menghina. Jangan dihiraukan, yang penting apa yang kita lakukan baik dan berguna bagi orang lain jalankan dan lanjutkan dengan penuh semangat. -ard

To Top