Kolom

IKON PRESTASI 2017

UKP Pancasila telah memilih 72 orang ikon prestasi untuk 2017. Termasuk diantaranya Rudy Hartono, Susi Susanti, Nyoman Nuarta, Garin Nugroho dan sejumlah olahragawan serta ilmuwan remaja/anak yamg menyumbangkan prestasi yang mengharumkan NKRI.
Yudi Latif, Ketua UKP Pancasila mengatakan, ini adalah upaya baru dalam menyosialiasikan Pancasila. Berbagai gejolak demo yang muncrat belakangan ini harus diimbangi dengan terapi yang tepat. “Kegelapan tidak boleh dilawan dengan kegelapan, tapi dengan cahaya,” kata Yudi.
“Tapi kalau gelapnya bulan mati, cahayanya jangan cuma bolam 5 watt, bisa mati kutu!” komentar Amat iseng.
Dilalah Bu Amat langsung nyemprot:
“Pakk!!”
“Apa?”
“Jangan asal nyeletuk ini bukan guyonan! ini persoalan negara yang serius!”
Lho, kok membentak? Apa salahnya komentar Bapak?”
“Lucu-lucuan itu ada tempatnya! Jangan ikut-ikutan suka nyeleneh karena mengira diri lebih pintar. Nanti tak laporkan ke polisi!”
Amat tercengang. Sadar istrinya lagi senewen, ia cepat menghindar main ke tetangga.
“Kita jalan-jalan saja cari angin, Pak Amat,” kata Pak Made,”istri saya tekanannya lagi naik.”
“Kenapa?”
“Dia marah kenapa saya tidak termasuk 72 ikon prestasi itu!”
Amat ketawa.
“Terus jawaban Pak Made, gimana?”
“Ya, saya bilang, ooh, tunggu saja! Nanti lama-lama kan sampai juga. Yang begitu kan biasanya seperti arisan. Asal sabar! Tunggu giliran, semua akan dapat!”
Amat terkejut. Ia mau membantah, tapi Pak Made sudah diseret istrinya masuk rumah.
“Pemalas! Maunya pelesiran terus! Bagaimana bisa jadi 72 ikon prestasi! Ayo masuk! Jangan ikut-ikutan Pak Amat yang sudah tak punya cita-cita itu!”
Darah Amat mendidih didiskreditkan begitu. Langsung ia ke rumah Ami.
“Ami, bapakmu ini sedang kecewa sama dirinya sendiri karena kurang dihargai istrinya!”
Ami ketawa. “Bukan hanya Bapak. Sastrawan juga kecewa karena pemerintah kurang perhatian pada sastra. Untung ada ini di FB!”
Ami menunjukkan sebuah posting FB di HP-nya. Amat terpaksa baca:
“Pada 1985, saya mengkuti Festival Sastra Horizonte di Berlin Barat. Seorang penerbit lokal yang ingin menerbitkan kumpulan cerpen saya mengajak saya ke toko buku. Dia menunjuk dua buku, karya Pramudya Ananta Toer dan Romo Mangunwijaya yang diterjemahkan ke bahasa Jerman. Kedua buku itu bagus, kata penerbit itu, tapi di sini tidak laku. Kenapa? Karena orang Jerman tidak punya referensi di Indonesia ada sastra. Pemerintah Anda kurang mempromosikan sastra Anda, berbeda dengan pemerintah Jepang yang sangat gencar mempromosikan negerinya. Di sini sastra Jepang disambut antusias! Saya tertegun dan sedih. Tiga puluh dua tahun saya sedih. Tetapi malam ini kesedihan itu pupus. Bersama 72 ikon prestasi berbagai disiplin (sains dan inovator, olahraga, seni budaya dan pegiat sosial), saya dihargai jadi merasa ada. Ini hikmah dari Pancasila. Terima kasih Festival Prestasi, UKP Pancasila!”

To Top