Kreasi

Saatnya Creativepreneur Bali Unjuk Gigi

Produk kreatif buatan Dhamar dan Pot Mi buatan Wikarda

Perkembangan teknologi berimplikasi terhadap perkembangan e-commerce. Produsen dan konsumen dimudahkan untuk saling berinteraksi dan bertransaksi. Industri skala kecil dan menengah pun ikut bergerak. Hal ini memacu lahirnya para creativepreneur dengan produk-produk terbaik mereka.

Salah satu upaya untuk memberdayakan para creativepreneur ini digagas blibli.com melalui kompetisi The Big Start Indonesia 2017. Bali menjadi satu dari empat tempat roadshow kompetisi ini. “Kami pilih Bali karena Bali punya potensi yang luar biasa dan sangat aktif dalam mengikuti kompetisi ini. Selain itu, runner up The Big Start Indonesia 2016 dari Bali,” ungkap Manager PR and Community blibli.com, Christine Lie Hartati.

VP Local Product blibli.com, Ginandjar Widodo menambahkan Bali memiliki banyak pelaku industri kreatif. Namun, di sisi lain produk lokal masih kurang dihargai. “Dari data transaksi e-commerce, hampir sebagian besar pembeli lebih memilih produk merek luar negeri dibandingkan lokal. Padahal dilihat dari kualitasnya, produk lokal tidak kalah dengan produk brand luar. Kini kami memberikan kategori tersendiri untuk produk lokal, yakni Galeri Indonesia untuk lebih mengekspos produk lokal. Ini merupakan kesempatan yang sangat baik bagi produk lokal agar brand-nya dikenal konsumen,” jelasnya.

Dalam roadshow di Bali, Dhamar Perbangkara, founder Gauri Art Division yang menjadi runner up The Big Start Indonesia 2016 dan Gede Wikarda, finalis 20 besar The Big Start Indonesia 2016 dihadirkan untuk berbagi pengalaman.

Dhamar menuturkan dirinya desainer di sebuah perusahaan milik orang asing. Saat bekerja, ia melihat banyak limbah kayu. “Saya termasuk orang yang mendukung konsep recycle, reuse, dan reduce. Karena ada limbah kayu, saya berpikir bagaimana membuat sesuatu yang bermanfaat. Bahan yang kita ambil dari alam, sisanya terbuang percuma. Daripada dibuang lebih baik jadi peralatan seperti, sendok, garpu, gelas, dan mangkok,” ungkapnya. Bahan baku yang ia pakai 90% limbah daur ulang.

Usaha ini pun ia kembangkan dengan serius termasuk memanfaatkan e-commerce untuk berjualan. Dari terbiasa menangani whole sale, kini ia harus membuat produk sendiri. Ia pun sempat bingung ketika ikut kompetisi yang digagas blibli.com dan masuk 20 besar.

“Saya seperti mendapat wake up call. Saya baru belajar bisnis saat masuk 20 besar ini. Momen ini saya jadikan kesempatan untuk mengosongkan gelas untuk diisi ilmu baru. Saya jadi tersentak, Bali punya potensi besar yang bisa terus dikembangkan. Apalagi sekarang era teknologi canggih. Ayo para creativeprenuer bangkit dan unjuk gigi,” tegas pria yang hobi bermusik ini.

Produk-produk yang dibuat Dhamar ternyata diminati konsumen. Namun, ada juga konsumen yang komplain. Baginya protes dan komplain konsumen sangat berharga untuk pengembangan produk. Ke depannya, Dhamar berharap bisa berkolaborasi dengan pelukis. Saat ini, produk yang ia hasilkan masih polos.

POT MI

Sementara itu Wikarda yang memiliki usaha Pot Mi menuturkan ide menjual pot berawal dari teras rumah. “Saya ingin teras rumah enak dilihat. Kalau disuruh berkebun, agaknya ribet. Apalagi sekarang ini generasi milenial senangnya yang praktis,” ungkapnya.

Ia pun mengaplikasikan ilmunya untuk membuat produk yang bermanfaat tanpa harus membuat repot. Wikarda mulai 14 Februari 2016 dengan bahan aluminium foil. Ia membuat media tanam yang sudah berisi benih. Kemasan yang dibuat mirip kemasan mi.

“Konsumen tinggal beli, baca petunjuk lalu tunggu perkembangan tanamannya. Susah dan tidak ribet,” ujar pria yang kuliah sambil bekerja ini. Ia mengaku produk yang ia buat banyak dicari. Untuk mengetes respons pasar, ia kerap ikut pameran mahasiswa. Ternyata yang berminat banyak..

Dari sinilah ia serius untuk mengembangkan produknya. Pot Mi yang dijual ini ada yang berisi bibit timun, tomat, cabai, terong, dan bunga matahari. Karena menggunakan bahan aluminium foil, Pot Mi ini memiliki masa kadaluwarsa 2 tahun.

“Saya sama dengan Dhamar, banyak belajar dari kompetisi ini. Pelajaran yang saya dapat, kalau mau usaha cepat dikenal di e-commerce, perhatikan kemasan. Buat kemasan yang menarik dan unik agar orang tertarik,” ungkapnya. Kini produk buatan Wikarda sudah terjual ke berbagai daerah di Indonesia. (Ngurah Budi)

To Top