Griya

Ceritanya Universal, Motif Wayang Banyak Diminati

Wayan Sukarma menghaluskan pahatannya pada panel ukir motif Rajapala

Bagi mereka yang menginginkan ada tampilan ornament dari material alami dan memiliki nilai estetika tinggi pada bidang dinding, panel ukir paras bisa menjadi pilihannya.

Adalah Wayan Sukarma(43), salah seorang pengerajin ukir paras yang menempati sebidang lahan di kawasan Jalan By Pass Ngurah Rai Padanggalak, Sanur, Bali, sebagai showroom sekaligus workshop. Material yang digunakan adalah paras putih Yogya. Wayan Sukarma mengatakan, sebenarnya ada paras Bali, hanya saja warnanya agak abu dan bidangnya kecil-kecil. “Paras putih Yogya ini bidangnya besar-besar, bisa sampai 1×1,5 meter,” ujarnya.

Umumnya, bidang paras yang diukirnya ini memiliki ketebalan 5 cm dengan bidang ukir 3 cm. Proses pembuatan panel ukir ini dimulai dari membuat sket gambar pada kertas putih transparan. Kemudian gmbar itu ditempel dengan lem pada bidang paras yang akan diukir. Selanjutnya, dengan acuan gambar tersebut, paras mulai dipahat dan dibentuk secara global. Berikutnya dipahat (diukir) lebih halus dengan menambahkan rendering (tekstur), dan difinishing akhir dengan pengamplasan. “Agar tidak banyak debu saat memahat, biasanya bidang paras kami sirami air,” ucapnya.

Untuk panel ukir paras berukuran 30 x 60 cm bisa diselesaikan dalam waktu satu hari, dikerjakan mulai pagi sampai sore. Harga jualnya sekitar Rp 250 ribu. Sementara untuk ukuran 50 x 100 cm bisa mencapai Rp 750 rb dengan pengerjaan selama 3 hari.

Saat ini, kata Wayan Sukarma, pemilik Luung Bali Carving ini, konsumen lebih banyak menyukai motif wayang, seperti Rama-Sita (Ramayana), Mahabrata,  dan juga kisah Rajapala. “Tak hanya orang Hindu-Bali, non Hindu-Bali juga banyak menyukainya karena cerita pewayangan ini universal,” ucapnya yang baru saja menjual panel ukir motif Rajapala berukuran 2×1 meter senilai Rp 3,6 juta. (Inten Indrawati)

To Top