Kolom

PERSPEKTIF TERHADAP WANITA BALI

Ketut Netra, S.H., M.Kn.

Kalau ingin melihat wanita Bali, maka kita dapat memakai kaca mata atau sudut pandang (perspektif) yang berbeda. Tergantung siapa yang melihat, objek mana dipotret dan kapan dilakukan.

Bagi orang luar  Bali, katakanlah teman-teman kita dari Jawa yang melakukan perjalanan wisata ke Bali. Mereka melakukan pengamatan selintas sambil lalu. Kesimpulan yang diperoleh adalah wanita Bali itu pekerja keras, tidak pernah lelah dan tidak memilih pekerjaan. Bagi mereka (wanita Bali), yang penting halal. Itulah kenyataan.

Tidak bisa dimungkiri, bahwa pendapat demikian timbul manakala ada wanita Bali yang melakukan pekerjaan sebagai tukang batu di jalan, mengecet rumah, mencangkul di sawah, dan menjunjung beban berat di kepala. Tambahan pula ada berita yang merupakan stigma buruk yakni wanita Bali pekerja keras, sedangkan laki-lakinya suka mengelus ayam jago.

Kalau kita lihat kenyataan yang ada sekarang di Bali, hal semacam itu hanya sebagian kecil saja. Kalau zaman dulu hal itu merupakan mayoritas. Bagaimana tidak, sejarah kehidupan orang Bali sebagian besar sebagai petani. Alam mengharuskan mereka untuk bekerja keras untuk mencukupi keperluannya.

Wanita yang menjalani kehidupan sebagai petani, dengan sendirinya akan membantu pekerjaan suami di sawah dan bahkan memelihara ternak  untuk membantu ekonomi keluarga. Sudah merupakan tugas untuk membantu suami, melaksanakan upacara agama, menyiapkan makan bagi suami dan anak. Istri yang hanya bertugas di dapur. Kalau di Jawa hal semacam itu dikenal dengan istilah, istri hanya sebagai “konco wingking”.

Berbicara waktu, itulah tempo dulu, sejalan dengan perkembangan zaman dan tuntutan emansipasi wanita, maka cerita itu sedikit berubah. Bukan semuanya harus berubah. Kenyataan yang ada sekarang di Bali banyak wanita Bali berprofesi sebagai politisi, guru besar dan menduduki jabatan tinggi, dimana hal ini dulu hanya dipegang oleh kaum laki-laki.

Namun, betapapun tingggi jabatan seorang istri, mereka tidak boleh meninggalkan tugasnya, yaitu istri sebagai ibu rumah tangga yaitu ibu yang mengurus kegiatan seperti mencuci, memasak, menyapu, mendidik anak. Menjadi anggota masyarakat yang aktif serta harmonis terhadap lingkungannya

Hukum positif yang berlaku di Indonesia yaitu Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan telah menggariskan, suami sebagai kepala keluarga, sedangkan istri sebagai ibu rumah tangga. Kalau keluarga diibaratkan sebagai pemerintahan.  Suami itu adalah Presiden,  maka istri sebagai pembantu presiden yaitu Menteri Dalam Negeri yang khusus mengurus rumah tangga. Mencampuradukkan peran atau mereka tidak mengerti peran masing-masing, mengakibatkan keluarga tidak harmonis.

Bagaimana kedudukan wanita Bali, ditinjau dari sastra Hindu? Dalam sastra Hindu, wanita mempunyai kedudukan terhormat. Manawa Dharma Sastra III.56 menyebutkan: “dimana wanita dihormati, di sana para Dewa akan merasa senang…..”. Sebaliknya dimana wanita tidak dihormati, maka di sana akan terjadi kehancuran.

Legenda lokal tentang wanita, dimana wanita tidak dihormati mengakibatkan malapetaka bagi suami. Misalnya cerita Rajapala di  Bali dan Jaka Tarub di Jawa. Karena suami tidak setia kepada janji sucinya, akibatnya suami ditinggalkan oleh istrinya. Demikian juga ceritra Dayang Sumbi–Sangkuriang, dimana seorang anak menikahi ibunya secara tidak sengaja. Setelah diketahui hal itu pernikahan terlarang, maka ibunya menjadi marah. Namun, anaknya tetap tidak mau berpisah. Akibatnya anaknya dikutuk menjadi batu.

Dalam cerita pewayangan, dimana wanita tidak dihormati mengakibatkaan perang besar. Misalnya dalam ceritra Ramayana, karena  Rahwana menculik Sinta (istri Rama), mengakibatkan kerajaan Alengkapura hancur diserang rombongan Ramadewa. Demikian juga perang besar terjadi karena wanita dihina yaitu Drupadi (istri Panca Pandawa) ditarik rambut dan pakaiannya oleh Dursasana. Akibatnya, perang Baratayuda antara keluraga Pandawa dengan keluarga Korawa.

Karena diilhami oleh sastra agama, legenda dan cerita pewayangan tersebut di atas, maka dapat berdampak buruk pada sebagian kecil wanita Bali terutama pada keluarga muda yang baru menikah. Ada wanita atau istri berpendirian bahwa wanita wajib dihormati oleh suaminya, sehingga istri menuntut agar dilayani oleh suaminya.

Akibatnya istri tidak berperan sebagai ibu rumah tangga yang baik. Tidak mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Tidak melestarikan adat budaya dan tidak bertutur bahasa ibu (lokal) kepada anak. Akibatnya akan terjadi disharmoni di keluarga, karena ada salah pemahanan tentang ajaran penghormatan terhadap wanita.  Inilah suatu sudut pandang yang salah.

 

Ketut Netra, S.H., M.Kn.

Praktisi hukum

To Top