Kolom

SERTIFIKAT

Ada gagasan untuk memberi sertifikat pada pelaku seni pertunjukan. Sesuai dengan bidang masing-masing. Kedengarannya seperti pemberian SIM pada pengemudi kendaraan. Apa artinya: siapa yang tidak bersertifikat akan dilarang bekerja di bidangnya?
“Atau setidak-tidaknya akan diwajibkan melengkapi dirinya dengan sertifikat, sebelum diperkenankan bekerja pada bidangnya?” tanya Amat.
Tentu saja Bu Amat tidak tahu.
“Tanya saja pada Pak Made, Pak. Saya kok baru dengar juga itu. Jadi kalau tidak punya sertifikat, tidak boleh menari di perpisahan sekolahnya? Kami ibu-ibu yang suka koor pada perayaan 17 Agustus juga harus punya sertifikat?”
Amat terpaksa konsultasi dengan Pak Made. Tapi Pak Made juga tidak tahu. Cuma menjawab sok tahu.
“Pak Amat, tidak mungkin ada asap kaau tidak ada api!”
Maksudnya?”
“Tidak mungkin ada kebijakan, kalau tidak ada tujuannya. Dan pastilah banyak pertimbangannya. Kalau tidak menguntungkan, untuk apa ada sertifikat? Seperti sekarang ini saja, kita sudah menggelinding tanpa ada sertifikat. Ya kalau ada sertifikat pasti bergulir kita lebih afdol! Cobalah kita lihat perkembangannya nanti. Jadi Pak Amat tidak setuju?
Amat geregetan.
Percuma ngomong dengan politikus mentah. Gayanya saja nyaplok, padahal tong kosong nyaring bunyinya.
“Seperti kita juga Pak Alit,” curhat Amat ke rumah Pak Alit yang sering berpikiran luas. “Pak Made gengsi mengaku tak tahu. Setelah ngecap ke sana-ke mari, akhirnya malah nanya saya, apa saya tak setuju? Ya saya kan kurang tahu persoalan, mana bisa bilang setuju atau tidak. Ya kan, Pak Alit?”
“Betul, Pak Amat. Setuju!”
“Ya, kalau sertifikat itu nanti bisa meningkatkan kehidupan sosial ekonomi dan kualitas karya-karyanya, itu memang baik sekali. Sebab saya dengar sampai sekarang, standar upah mereka jauh di bawah pemain-pemainnya. Itu kan kurang adil. Jadi kalau sertifikat bisa membuat jadi adil, ya bagus sekali.  Ya, tidak, Pak Alit?”
“Betul, Pak Amat.”
“Tapi, kalau sertifikat itu malah hanya jadi tujuan, jadi seperti bumerang nantinya! Saya dengar dulu di film, sertifikat dibuat untuk menjaga kualitas film. Misalnya, jangan sampai orang yang bukan sutradara, tapi hanya temannya produser, bisa menyutradarai film. Film Indonesia bisa jatuh mutunya. Tapi setelah ada sertifikat, kejadian itu malah terulang, karena ada orang yang bersertifikat namanya dipasang, tapi yang kerja orang tak bersertifikat!”
“O, ya, begitu, Pak Amat?”
“Begitu. Saya juga baru tahu itu setelah diceritakan oleh anak saya! Ribet Pak Alit!”
“Wah, kalau begitu, bahaya, Pak Amat!”
“Betul! Bisa jadi bumerang, pak Alit!”
“Iya, ya! Jadi karena itu Pak Amat tidak setuju ada sertifikat?!”
Amat tertegun. Ia tak meneruskan lagi bertanya-tanya. “Kenapa aku yang mau bertanya, kok  jadi menjelaskan? Goblok!” gerutunya
“Bagaimana sertifikatnya, Pak?” tanya Bu Amat, begitu suaminya nongol. Amat pura-pura tak mendengar.

To Top