Buleleng

Lolak jadi Tamu Kehormatan Presiden

Masih ingat Lolak? Dia mewakili Indonesia dan sukses menyabet dua medali emas di Kejuaraan Coupe Internationale de Kayl 2016 di Luxemburg 12-18 Oktober 2016 lalu. Beberapa waktu lalu, ia diundang secara langsung oleh Presiden Republik Indonesia untuk menghadiri acara puncak peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan ke-72 Republik Indonesia pada Kamis (17/8) di Istana Negara, Jakarta.

Orang tua Lolak, Wayan Sukarta (38) dan Kadek Manisyoni (39) ketika ditemui dikediamannya mengatakan sangat bangga terhadap anak bungsunya. Diundang langsung oleh Presiden merupakan suatu kebanggaan yang tak ternilai harganya bagi pasangan suami istri miskin yang berasal dari Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng ini.

Manisyoni mengatakan sang anak berangkat ke Jakarta sejak selasa, (15/08) pukul 05.00 Wita lalu menumpangi pesawat terbang dengan ditemani, Ketut Suanda sang kakek. Ketut Suanda merupakan pelatih Lolak yang memiliki peran penting dalam pencapaian prestasinya. Manisyoni juga menambahkan begitu senang, anak dari seorang buruh di desa bisa bertemu langsung dengan Presiden. “Ya Senang sekaligus bangga.  Anak saya yang berasal dari keluarga buruh, bapak dan ibunya buruh,  diundang secara langsung oleh Bapak Presiden untuk bertemu di Istana Negara,” ujarnya.

Dibalik kisah inspiratifnya, rupanya ada hal yang masih menjadi beban pasangan suami istri ini. Meskipun tidak mengeluarkan biaya untuk transportasi sang anak terbang ke Jakarta, akan tetapi Manisyoni harus menyiapkan biaya untuk keperluan lain. “Biaya transportasi memang sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah, akan tetapi untuk membeli kemeja putih, celana panjang, dan jas hitam kami harus menyediakan sendiri,” ungkapnya. Pakaian-pakaian itu wajib dikenakan oleh putranya selama berada di Istana Negara.

Biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli kebutuhan sang anak mencapai Rp.540 ribu. Bagi orang mampu, uang dengan jumlah tersebut mungkin tidak seberapa, tetapi bagi buruh dengan penghasilan tidak tetap ini tentu menjadi beban berat. Ia terpaksa meminjam uang tersebut dengan tetangga dan harus mengembalikan dalam waktu dekat. Penghasilan mereka tidak menentu. Jika ada yang membutuhkan tenaganya, dalam sehari pasutri ini hanya mampu mengumpulkan uang Rp 80 ribu. “Undangannya juga cukup mendadak. Tidak punya uang untuk beli jas, baju dan celana. Jadi terpaksa ngutang dulu di tetangga,” ungkapnya.

Sang anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar memang telah banyak menorehkan prestasi. Diumurnya yang terbilang masih sangat belia, ia sudah mampu membuat nama Buleleng, Bali, bahkan Indonesia harum.  Sudah 21 kali ia meraih juara dalam perlombaan karate, baik ditingkat nasional maupun internasional. Manisyoni dan Sukarta selalu mengajarkan Lolak untuk tidak mengharapkan imbalan dari apa yang sudah ia capai. Pasutri ini selalu berpesan kepada anaknya untuk selalu fokus dalam berlatih, dan tidak pernah berhenti mengharumkan nama daerahnya. (Wiwin Meliana)

 

To Top