Surabaya

Ninik Suprihatin: Manfaatkan Bemo untuk Jualan Es

Ada yang tak biasa di kedai es milik Ninik Suprihatin. Biasanya, pedagang menjajakan dagangannya di tempat terbuka nan luas. Tetapi tidak dengan wanita kelahiran Surabaya, 21 Mei 1977 ini. Dia berdagang dengan menggunakan bemo bekas, sebagai tempat usahanya. Tentunya, kendaraan umum yang butut itu sudah didesain sehingga dapat digunakan menjadi kedai berjalan untuk tepat berjualan. Sehingga, menarik pelanggan untuk mencicipi dagangannya.

Mengapa bemo? Ibu dua anak ini mengatakan, bahwa dirinya hanya memanfaatkan bemo bekas yang dimiliki. “Dinamakan es bemo, karena menjualnya di dalam bemo,”kata Ninik,. Ia memilih menjual es karena paling mudah dibuat dan dapat bertahan lama. Modal yang digunakan sekitar Rp 500.000. Dia memulai usaha ini karena tuntutan ekonomi.

Wanita paruhbaya ini, mengaku mempelajari cara membuat minuman lezat melalui internet. Walaupun tak ada warisan rasa dari keluarganya, es buatannya ini tak kalah bersaing dengan usaha turun temurun dari keluarga yang biasanya lebih unggul. Dapat dibuktikan dari banyaknya orang yang membeli maupun memesan untuk acara besar.

Anak pertama dari enam bersaudara ini, siap menerima pesanan, berapapun jumlahnya. Dagangannya yang berlokasi di Kota Baru Driyorejo (KBD) Gresik ini tak pernah sepi pengunjung. Mulai dari anak–anak, remaja, hingga orang tua. Terutama saat jam pulang sekolah tiba. Siswa yang baru pulang sekolah menyerbu dagangannya. Es Bemo milik Ninik Suprihatin, mulai buka tengah hari sampai pukul 20.00.

Menu yang disajikan beragam. Terutama yang paling diminati es manado dan es teler mini. Harga pun dibandrol cukup murah, mulai Rp 6.000–Rp 8.000. Ninik membangun usahanya bersama suami sejak 2012 lalu. Bahkan, kini keuntungan yang didapat cukup menggiurkan, sekitar Rp 600.000 per hari. Kedepan, wanita energik ini berharap memiliki cabang di beberapa tempat dan meningkatkan produksi.

Istri dari Agus ini ingin meningkatkan usahanya. Namun, tak mau menambah menu makanan di kedainya. Karena menu makanan terlalu rumit untuk dibuat. (Aldilla Diera)

 

To Top