Life Story

Keluarga Guru di Tanah Rantau

Said Muhammad, berangkat merantau dan kini Kepala UPT Layanan Kependidikan Dinas Pendidikan Kecamatan Muara Badak Kutai Kartanegara Kaltim

Said bersama istri tercinta

Menyeberangi lautan, melintasi angkasa, nun jauh di Kalimantan Timur, Said Muhammad mengejar cita-citanya. Tahun 1993 usai tamat sekolah di SMAN 1 Bolo, Bima, ia meninggalkan kampung halamannya di Desa Rasabou Sila, Kecamatan Bolo Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat. Keputusannya untuk merantau itu akhirnya membawanya pada kehidupan yang lebih baik.

Datang dari keluarga biasa yang orangtuanya hanya petani, Said sesungguhnya telah memiliki tekad bahwa ia akan meraih kehidupan yang lebih baik. Ia dan keenam saudaranya yang lain, harus tinggal diurus oleh seorang ayah yang petani dan ibu penjual jamu keliling di kampungnya itu. Karena itulah, Said dan saudara-saudaranya pernah mengalami pahitnya hidup yang benar-benar getir.

Tiap pagi, Said harus berangkat ke sekolah lebih banyak dengan berjalan kaki cukup jauh. Setidaknya ia menghabiskan waktu untuk berjalan kaki lebih dari 40 menit. Siang sampai sore hari ia harus berangkat ke sawah membantu ayahnya. Bisa dibayangkan anak muda itu harus berjuang untuk kewajiban itu. Merasakan beratnya menjadi seorang petani yang semua hal harus dikerjakan secara manual dengan tenaga. Panas terik matahari menambah pahitnya tugas itu. Hal itu melengkapi sakitnya hidup dalam kondisi ekonomi orangtua yang pas-pasan, bahkan kerapkali kekurangan.

Said sudah melihat jika bertahan di kampung maka ia tidak mungkin bisa berkembang. “Kalau saya bertahan, saya tidak punya pilihan lain, pasti bertani,” kata suami dari Nuritam ini. Itulah sebabnya ia kemudian berpikir dengan tekad yang bulat, bahwa ia harus merantau demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Orangtua Said, H. Karim Halik dan Rukayah (alm), tidak pernah mengeluh mengurus ke tujuh anaknya yang semuanya bersemangat sekolah dan bercita-cita ingin kuliah itu. Keringat mereka cucurkan demi anak-anak yang kesemuanya memiliki tekad yang sama. Sama-sama ingin keluar dari kehidupan yang serba kekurangan itu dengan berjuang meraih cita-cita mereka. Luar biasanya lagi, orangtua mereka mengajarkan ke tujuh anaknya ini untuk bahu membahu saling membantu saudara-saudara mereka untuk bersama-sama meraih cita-cita. Sesama saudara mereka saling urus. Orangtua mereka bukannya tidak mau membiayai tapi karena kondisi ekonomi yang memang tidak memungkinkan.

“Saudara saya yang duluan menjadi PNS, membiayai adik-adiknya yang kuliah. Begitu seterusnya,” kata Said Muhammad yang kini menjadi Kepala UPT Layanan Kependidikan Dinas Pendidikan Kecamatan Muara Badak Kutai Kartanegara Kaltim. Akhirnya, ketujuh bersaudara ini sukses menjadi guru plus dengan pasangan hidup masing-masing yang juga adalah guru. Mereka menjadi keluarga guru yang mengabdi (enam) di Kalimantan Timur dan seorang yang sulung di Lombok Timur.

Meski tidak sempat melihat seluruh anaknya berhasil menjadi PNS, Rukayah yang meninggal di tahun 2000 setidaknya bangga sudah bisa melihat setidaknya empat anak yang dapat mandiri dan membantu saudaranya yang lain. Sejak ibunda mereka meninggal Said dan saudara-saudaranya membawa ayah mereka untuk ikut bersama mereka di Kaltim. Tahun 2003, Said dan saudara-saudaranya, berhasil membiayai ayahnya untuk naik haji dari dana urunan antar mereka. Kini ke tujuh bersaudara (Abubakar S.Pd., Mukhdar S.Pd, Fatimah, S.Pd, Syamsudin, S.Pd, Said Muhammad, S.Pd, Junaidi, S.Pd dan Ratnah, S.Pd) ini satu menjadi pengawas, empat orang menjadi guru, seorang menjadi Kepala UPT dan seorang lagi, Syamsudin yang pertama kali ke Kaltim dan merasakan pahitnya merantau sebelum akhirnya menjadi guru PNS itu, kini telah menjadi Sekretaris Kecamatan di Kecamatan Muara Badak Kukar diangkat pada Januari 2017 lalu.

 

IJAZAH “SELAMAT”

Kisah perjalanan ketujuh bersaudara ini untuk menjadi guru tidaklah mudah. Sebuah insiden kebakaran pernah membuat mereka nyaris kehilangan harapan. Di tahun 1996, rumah Syamsudin, kakak Said yang nomor 4, sempat terbakar. Kebakaran yang terjadi di perumahan guru SDN 012 Muara Badak tempat tinggal Syamsudin itu menghanguskan seluruh isi rumah hingga rata dengan tanah. Tidak ada yang bisa diselamatkan dalam kebakaran itu. Kesedihan jelas melanda Said dan saudara-saudaranya yang lain karena semua ijazah mereka dititipkan di rumah tersebut untuk alasan keamanan.

Setelah kebakaran usai, tidak ada yang lain yang dicari oleh Said dan saudara-saudaranya itu, hanya ijasah tersebut. Apa yang terjadi? Dalam reruntuhan sisa-sisa kebakaran rumah yang rata dengan tanah itu, mereka membongkar tumpukan kertas dan ajaib, semua ijazah itu ada di sana dalam keadaan baik. “Hanya pinggiran ijazah yang terbakar. Allah SWT telah menyelamatkan ‘keringat’ orangtua kami. Semua ijazah kami masih utuh, hanya terdapat kerusakan yang tidak berarti,” kata Said mengenang kala itu baru dua orang kakaknya yang menjadi PNS.

Perjalanan hidup Said Muhammad sendiri untuk sampai ke Kalimantan Timur dimulai dari saat ia memutuskan kuliah D2 PGSD di Universitas Mulawarman Kaltim, tahun 1993. Ia sebenarnya ingin melanjutkan sekolah di SPG namun kala itu SPG sudah tutup. Akhirnya ia mengikuti jejak tiga orang kakaknya yang telah lebih dahulu berangkat ke Kaltim. Atas biaya dari kakaknya ia berhasil menyelesaikan kuliahnya itu tahun 1996. Tahun 1997 ia diangkat sebagai guru PNS di SDN 024 Rantau Pulung Sangatta Kutai Timur Kaltim. Tahun 2000-2003 ia menjadi PLT Kepala Sekolah di SDN 024. Lalu tahun 2003-2006 ia menjadi Kepala Sekolah di SDN 024 Sangatta.  Tahun 2006-2009 menjadi Kepala Sekolah di SDN 001 Sangatta.

Tahun 2009 ia pindah ke Kecamatan Muara Badak Kabupaten Kutai Kartanegara dan menjadi guru di SDN 015 Muara Badak. Dewi fortuna selalu mengikuti pria yang sejak SD memang sudah bercita-cita menjadi seorang guru ini. Di tahun 2012 ia kembali diangkat menjadi kepala sekolah di SDN 012 Muara Badak. Sampai akhirnya pada bulan Januari 2017, ia diangkat sebagai Kepala UPT Layanan Kependidikan Dinas Pendidikan Kecamatan Muara Badak Kutai Kartanegara Kaltim.

Kelebihan ke tujuh bersaudara ini berhasil membawa kehidupan menjadi lebih baik, diraih dengan cara yang melewati masa-masa pahit. Karena banyak orang yang berhasil dengan dukungan fasilitas dan kenyamanan yang yang penuh. Itu sudah biasa. Mereka ini menjadi luar biasa karena berangkat dari kampung tapi dengan cara berfikir yang maju dan melihat masa depan dengan kesungguhan hati. Said Muhammad dan saudara-saudaranya, adalah satu dari tidak banyak anak kampung yang berpikir maju dengan bekerja keras di perantauan.

Satu hal yang tidak bisa mereka lupa adalah kampung halaman dan rumah sederhana dengan sawah sepetak milik ayahnya yang ada di kampung. “Kami sudah sepakat untuk tidak akan pernah menjual rumah dan sawah tersebut,” ungkap ayah dari Ayat Ankak Risky, M. Ziadatul Haq dan Dzihni Fadhil Qaishar ini. Rupanya, terlalu banyak kenangan bagi ke tujuh bersaudara ini pada rumah dan sawah tersebut. “Itulah saksi bisu pahitnya kami menjalani hari-hari dalam kondisi serba kekurangan. Sawah itulah yang telah mengantar kami menyelesaikan sekolah dan merantau hingga ke Kaltim ini,” tutup Said. (Naniek I. Taufan)

Paling Populer

To Top