Sosialita

Tengkuluk Lelunakan Kian Populer

Bu Agung bersama Istri Kapolda Bali Petrus Golose yang berbalutkan busana tengkuluk lelunakan

Salah satu busana adat Bali yang kini makin populer dikenakan dalam tiap kesempatan adalah tengkuluk lelunakan. Bu Agung menuturkan, pada zaman dulu sekitar tahun 60an, busana tengkuluk lelunakan ini hanya digunakan saat upacara pengabenan/palebon di Denpasar dan Badung, dan juga sebagai busana Tari Tenun.

Berikutnya, pada 9 Desember 1996, busana tengkuluk lelunakan ini diseminarkan oleh Ketua TP PKK Bali sat itu Ibu Ida Ayu Asiawati Oka dan dijadikan busana untuk acara-acara resmi, seperti untuk menyambut tamu, untuk seka gambel, MC, paduan suara, dan acara lainnya.

Oleh Ibu Asiawati Oka, setiap tamu atau pejabat (perempuan) yang berkunjung selalu dikenakan tengkuluk lelunakan. “Tradisi” ini kemudian dilanjutkan oleh Ibu Mas Beratha (almarhumah), dan Ibu Bintang Puspayoga saat menjabat Ketua TP PKK Denpasar. Busana tengkuluk lelunakan ini pun telah menjadi ikon Kota Denpasar, yang mana dalam malam grandfinal Pemilihan Teruna-Teruni Kota Denpasar yang digelar sejak tahun 2010 sampai sekarang, para finalis putrinya menggunakan busana ini.

Upaya Bu Agung, Ketua Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung ini untuk menyosialisasikan salah satu busana adat Bali (tengkuluk lelunakan) ini pun mendapat dukungan masyarakat luas, terutamanya dari istri orang nomor satu di Kota Denpasar, Ibu Selly D. Mantra.

Bekerjasama dengan TP PKK Denpasar, Kelompok Media Bali Post, dan salah satu merek kosmetik, di tahun 2009 Bu Agung menggelar “Lomba Tengkuluk Lelunakan” yang berhasil menyabet Rekor MURI. Perhelatan akbar ini diikuti ribuan peserta yang melibatkan guru PAUD, PKK dan masyarakat umum di Kota Denpasar. Bahkan, Ibu Selly D. Mantra bersama ibu-ibu jajaran SKPD Kota Denpasar menari untuk memeriahkan acara tersebut.

Selanjutnya, busana tengkuluk lelunakan mulai dilirik masyarakat luas yang menilai busana ini praktis dan simpel, namun tetap mencirikan kekhasan budaya Bali. Di Jakarta, busana tengkuluk lelunakan ini turut dipromosikan oleh Ibu Otie Ary Suta bersama The Ary Suta Center Philharmonic dalam tiap pementasannya. Dan, ditangani langsung oleh Bu Agung beserta tim. Selasa (22/8) istri Kapolda Bali Petrus Golose juga membuat dokumentasi dengan busana tengkuluk lelunakan.

Berlanjut 22, 23, 24 Agustus, rombongan Korp Wanita Angkatan Laut (KOWAL) menggunakan busana tengkuluk lelunakan dalam acara “International Maritim Security Symposium (IMSS) Tahun 2017” dihadiri KASAL dari 42 negara.

Bu Agung menjelaskan, dulu tengkuluk lelunakan memakai selendang Bali. Sekarang, selendang sudah disesuaikan dengan warna baju, dll., namun tetap tidak meninggalkan pakemnya.

Karena itu, Bu Agung masih berharap busana tengkuluk lelunakan ini ke depannya bisa menjadi ikon Bali, karena dinilai paling simpel dan praktis. Impiannya, Bali bisa seperti Volendam, sebuah desa nelayan di Belanda, yang mana setiap wisatawan yang berkunjung pasti membuat dokumentasi diri dengan mengenakan pakaian Volendam. “Saya optimis Bali bisa seperti itu. Tiap wisatawan yang datang ke Bali, merasa belum afdol jika belum memiliki dokumentasi berbusana tengkuluk lelunakan,” ucapnya.

Meski simpel dan praktis, tengkuluk lelunakan ini tak bisa dikerjakan sembarang orang, perlu tenaga terampil. Untuk itu, Bu Agung mengajak warga Kota Denpasar untuk bersama-sama belajar membuat tengkuluk lelunakan. “Silahkan dikoordinir tiap kecamatan, kami akan memberikan pelatihan membuat tengkuluk lelunakan, gratis,” ujarnya antusias.

Sebagai wujud komitmennya terhadap pelestarian tata rias dan busana adat Bali, Bu Agung memberikan diskon 50% untuk Kursus Tata Rias yang meliputi Tata Kecantikan Kulit, Tata Kecantikan Rambut, dan Tata Rias Pengantin. Info lanjut, silahkan menghubungi Sekretariat LKP Agung. Jalan Anggrek 12 Kreneng-Denpasar. Telepon 0361-231985, 233850, 0811393602.  –inten

To Top