Bunda & Ananda

Perbedaan Bersatu dalam Permainan

Ada yang unik dari pelaksanaan upacara bendera di sekolah pendidikan kerjasama (SPK) ini. Memperingati HUT ke-72 RI, Sanur Independent School (SIS) yang notabene muridnya 90 persen ekspatriat ini juga melakukan upacara pengibaran bendera merah putih, Rabu (16/8). “Walau pelaksanaannya lebih sederhana dibandingkan sekolah-sekolah lain, namun esensinya tetap, ada pembacaan teks proklamasi, pembacaan doa, Pancasila, UUD’45, menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, dan  pengibaran bendera merah putih,” ujar National Principal SIS Cokorda Agung Anre Juniana, S.Pd., M. Pd.

Pelaksanaan upacara bendera ini full berbahasa Indonesia. Meski pelafalan bahasa Indonesia mereka masih terbata-bata, dengan berpakaian nuansa merah-putih, mereka tampak hikmad mengikuti peringatan HUT RI hingga selesai. Sebelumnya, para perangkat upacara terpilih ini dilatih khusus 2 sampai 3 minggu sebelumnya. “Mereka tak terlalu fanatik kenegaraan, hanya ketika hormat bendera saja mereka tidak ikut hormat, tapi mereka tetap ikut berdiri tegak. Namun ada yang memiliki darah WNI ikut hormat bendera. Dan kami sangat menghargai itu karena itu pilihan mereka. Selebihnya fun banget. Mereka mengucapkan selamat ulang tahun Indonesia, Happy Independent Day,” imbuhnya.

Dan, perbedaan itu bersatunya di permainan tradisional. Perbedaan itu lebur ketika mereka larut dalam suasana lomba khas 17-an yang digelar usai upacara bendera. Ada lomba lari kelereng, lari karung, makan krupuk, tarik tambang, dan memindahkan bendera (untuk anak TK). “Murid-murid disini sudah cukup familiar dengan permainan tersebut karena perayaan HUT RI setiap tahunnya selalu kami isi dengan lomba-lomba ini. Dan, murid-murid yang baru exited sekali melihat permainan tradisional kita ini,” ucap Cok Anre-sapaan karibnya. Lomba-lomba melibatkan murid, guru staf, orangtua. Orangtua biasanya suka makan krupuk dan tarik tambang.

Cok Anre menyampaikan, dengan pembacaan teks proklamasi, mereka (anak dari bermacam negara) jadi tahu siapa Sukarno dan Hattta, dan dikenalkan juga tentang  sejarah Indonesia hingga berhasil merebut kemerdekaan. Dalam lomba pun dibuat nama Desa Sukarno dan Desa Hatta. “Ada juga kepala desanya, sembari kita mengenalkan desa itu apa? Kampung itu apa? Jadi mereka tahu istilah-istilah dalam bahasa,” imbuhnya.

Sementara dari lomba-lomba tersebut, nilai yang ingin diangkat adalah kebersamaan. Bagaimana ketika bersama-sama untuk meraih sesuatu akan lebih mudah. Demikian halnya dengan kemerdekaan. “Ketika kita terpisah, kita susah meraih kemerdekaan, tapi setelah kerja bersama lebih mudah meraih kemerdekaan,” tegasnya.

Makanya dalam lomba-lomba tersebut, anak-anak dibagi dalam beberapa tim, ada tim merah, timputih, tim biru. Dalam satu tim ada siswa TK, sampai SD kelas 6, dari semua jenjang. “Kami ingin yang besar bisa mengayomi yang kecil, yang kecil bisa bertanya dan belajar pada yang besar, dan mereka berusaha bersama untuk memenangkan lomba-lomba tersebut. Bagaimana mereka mengatur timnya masing-masing,” jelasnya.

Terlepas dari perayaan HUT RI, dalam proses belajar mengajar, meski bahasa pengantarnya bahasa Inggris, namun SIS memiliki jam pelajaran Bahasa Indonesia. Hal ini dikatakan Cok Anre, memang wajib, SPK (Sekolah Pendidikan Kerjasama) itu mengajarkan bahasa Indonesia ke semua anak-anaknya. Ada 2 sesi per minggu per kelas, dan ada satu sesi lagi untuk pengayaan bahasa. Jika ada yang kurang dengan 2 sesi itu, ditambahkan lagi pengayaannya disini.

Terkait budaya Indonesia, SIS memiliki Indonesian Studies, bahasa pengantarnya bahasa Inggris tetapi konteksnya Indonesia, seperti pembahasan tentang rumah tradisional, dll. (Inten Indrawati)

To Top