Buleleng

Dinas Kebudayaan Gagas Pembangunan Museum Sunda Kecil

Pelabuhan Buleleng di Kota Singaraja pernah mengalami masa kejayaan hingga tahun 1950an. Kala itu, Pelabuhan Buleleng menjadi pintu utama Bali sejak masa pendudukan Belanda hingga menjadi ibu kota Provinsi Sunda Kecil. Di zaman pendudukan Belanda, pelabuhan itu dipakai untuk bongkar muat barang dan juga kapal pesiar asing yang membawa wisatawan menikmati Pulau Dewata. Saat itulah pamor pantai utara mengalami zaman keemasan.

Tapi saat ini nama besar Pelabuhan Buleleng nyaris tak berbekas.  Bekas kantor kepabeanan sudah berubah fungsi. Sementara bangunan tua lainnya pun sudah menjadi sebuah gedung pertemuan, ketika Buleleng menjadi sasaran penyelenggara IMACO. Memang sudah cerita usang yang hanya ”terkunci rapat” di sejumlah literatur serta mulut- mulut pelaku sejarah yang usianya menjelang senja.

Menarik secara historis, membuat Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman melalui Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng berencana melaksanakan kegiatan revitalisasi Museum Sunda Kecil di Kabupaten Buleleng. Rencana tersebut disambut baik oleh Kepala Dinas Kebudayaan Buleleng, Putu Tastra Wijaya. Menurutnya Buleleng diberikan kesempatan untuk membangun museum Sunda Kecil di kawasan Eks. Pelabuhan Buleleng. “Kami sangat bersyukur diberi kesempatan dan tentu segera akan kami tindak lanjuti,” ungkapnya.

Tastra menjelaskan, rencana pembangunan museum itu masih terkendala tempat, sebab bangunan yang rencananya digunakan sebagai museum masih ditempati oleh Dinas Perkimta. Atas kondisi tersebut, pihaknya telah mencari jalan keluar dengan berkoordinasi langsung kepada Bupati Buleleng. Menurutnya solusi yang diberikan oleh Bupati dengan memindahkan OPD tesebut dengan opsi dipindahkan ke Rumah Jabatan Ketua DPRD atau ke SMP Negeri 1 Singaraja. “Ya kami sudah koordinasikan juga dengan Perkimta, mereka setuju asalkan sudah disediakan tempat lain,” imbuhnya.

Museum Sunda Kecil direncankan dapat terealisasi tahun depan, bahkan dalam waktu dekat pihak pusat akan berkunjung ke Buleleng untuk meninjau kesiapan Buleleng dalam penyedian lokasi museum. Jika dibanding dengan museum Buleleng, museum Sunda Kecil akan menyimpan    benda-benda yang lebih spesifik. Tidak hanya benda, bahkan gambar-gambar, buku serta cerita  tentang Buleleng yang pernah menjadi pusat pemerintahan di Bali juga turut menjadi koleksinya. “Koleksi museum Sunda Kecil akan lebih spesifik tentu yang hanya berkaitan dengan sejarah Sunda Kecil,” tambahnya.

Sementara itu, untuk melengkapi koleksi museum, Tastra mengungkapkan telah berkoordinasi dengan masyarakat Buleleng yang selama ini menyimpan benda   dan barang peninggalan sejarah Sunda Kecil. Dengan pendekatan humanis, ia yakin masyarakat mau meyumbangkan benda sejarahnya untuk menambahkan koleksi museum. Bahkan dirinya juga telah menjalin kerjasama dengan beberapa museum di Belanda untuk mengembalikan benda-benda sejarah Sunda Kecil yang terdapat di sana. “Beberapa museum di Belanda ada yang telah bangkrut, mereka bersedia mengembalikan   benda-benda sejarah itu asalkan kita di Buleleng sudah ada tempat yang layak,” ungkapnya. ( Wiwin Meliana)

 

To Top