Kreasi

Sang Saka

Warga nyaris bergerak melabrak seorang penghuni baru yang radikal. Ia baru seminggu ngontrak rumah Bu Nyoman yang pindah kota diseret pekerjaannya.
“Kok penghuni baru Ini mau mengatur kita, padahal dianya yang perlu ditatar!” umpat Pak Alit senewen.”Masak kenalan saja belum, kok sudah melontarkan kritik pedas, hunian kita kumuh, warga mengucilkan dia, lha dianya sendiri yang ngumpet, memangnya kita yang harus menghadap? Memangnya dia siapa? Pemimpin organisasi? Hah! Itu kan di Jakarta! Ini Bali, Bu! Pulau Dewata! Menolak pasang bendera lagi! Naik Mercy begitu kok ngaku tidak mampu beli bendera! Brengsek! Bakar saja mobilnya! Pasti dia kira kita iri sama Mercynya! Dasar radikal, sikat saja!”
Amat terpaksa turun tangan. Pak Alit yang pernah punya Mercy tapi sudah dijual untuk biaya sekolah putranya, berhasil ditenangkan. Amat janji akan bicara empat mata dengan Bu Jack, penghuni radikal itu.
“Selamat sore Bu Jack, saya Amat, tetangga ibu,” sapa Amat sore itu juga di rumah Bu Jack.
“Selamat sore. Ada apa Pak, saya mau berangkat ada meeting.”
“Ya, sebagai sesama warga apalagi bertetangga saya kira ada baiknya … .”
To the point saja, saya bisa terlambat nanti!”
“O, ya, maaf, ini soal tradisi kami di sini dalam setiap menghadapi masaalah-msaalah yang menyangkut kebersamaan kami sudah punya tradisi …  .”
“Maaf, Bapak salah sambung, saya di sini hanya ngontrak, tidak ada kaitan dengan tradisi. Silakan bicara langsung dengan pemilik rumah! Maaf, saya harus berangkat!”
Bu Jack naik mobil. Amat bengong sampai tak keburu menjawab.
Esok paginya, Amat datang lagi. Ia langsung nembak.
“Ini soal pemasangan sang saka, Bu Jack.”
“Sang saka itu apa?”
Amat kembali bengong. Ia tak bisa mengatasi kejengkelannya karena orang kaya itu kelihatan sok dan pura-pura.
“Bendera merah-putih untuk menyambut HUT ke-72 Proklamasi, Bu Jack”
“Kenapa?”
“Semua rumah harus memasangnya selama bulan Agustus, itu tradisi kita di sini.”
“Terserah. Bicara saja dengan pemilik rumah. Maaf saya sibuk. Saya masih ada briefing!”
Amat kembali ditinggal.
“Sebenarnya saya bisa saja mendebat dia,” kata Amat kemudian  pada Pak Alit,”karena yang bertanggungjawab terhadap rumah dalam kontrak-mengontrak bukan lagi pemilik rumah tapi yang ngontrak!”
“Betul! Mestinya Pak Amat kontan pukul dia sebab meninggalkan orang yang sengaja datang ke rumahnya dengan maksud baik, begitu saja, itu tidak sopan, itu sudah penistaan! Apalagi yang dia hadapi Pak Amat senior kita. Itu kurang ajar, Pak! Orang Jakarta itu mesti diberi pelajaran! Bareti Mercynya dengan paku !”
“Jangan! Tidak ada gunanya melawan orang kurang ajaran dengan kekurangajaran! Tidak akan ada hasilnya! justru dia akan senang, karena reaksi itulah yang diinginkannya untuk memfitnah kita sudah menzoliminya! Jangan!”
“Jadi bagaimana dong?”
Amat berpikir.
“Ini bukan watunya berpikir! Kita perlu tindakan cepat, Pak Amat!”
“Oke. belikan bendera dari uang kas. Lalu pasang di rumahnya supaya dia malu!”
Demikianlah rumah kontrakan yang dihuni warga baru yang menolak pasang bendera itu, jadi mulai ikut mengibarkan sang saka. Sesuai dengan tradisi hunian yang dimulai sejak reformasi.
Angin bertiup gembira melambai-lambaikan bendera. Sang saka berkibar dengan anggunnya
Hunian Amat kembali menjadi lautan merah-putih. Warga yakin akan merebut lagi juara menghias hunian di bulan proklamasi seperti sudah terjadi berturut-urut sejak 4 tahun terakhir.
Tetapi masih ada error. Tengah malam Pak Alit mengetok pintu rumah Amat.
“Pak Amat! Warga radikal itu tambah binal!”
“Apa pasal Pak Alit?”
“Satu: dwi warna yang kita pasang di rumahnya tidak pernah diturunkan waktu malam. Dua: dwi warna dibiarkan kehujanan sehingga merahnya luntur menodai warna putih, mungkin petugas kita sudah korupsi beli bendera murahan. Tiga: “Saya menuntut pengurus  hunian!” kata Pak Alit menirukan Bu Jack,” Saya menuntut mereka yang memasangi rumah saya dengan bendera secara sembrono, sehingga kena angin sedikit saja sudah jatuh menimpa Mercy saya sampai cacad masuk bengkel! Saya tuntut kompensasi 2 juta, bisa lebih, ini kan mobil impor yang special edition!”
Amat keselek. Seperti sapi dicocok hidung, dia mengikut Pak Alit yang menyeretnya ke rumah Bu Jack.
“Selamat malam, Pak Amat,”sambut Bu Jack yang sudah menantikan Amat.
“Saya minta kompensasi karena sudah dipaksa ikut mendukung tradisi yang bukan tanggungjawab saya dan berakibat Mercy saya hancur!”
Tegur sapa itu begitu ketus. Pak Alit tak bisa lagi menahan emosi. Tangannya gemetar. Untung Amat sigap dan mencekal tangannya sambil berbisik:
“Sabar Pak Alit, macan betina ini terlalu garang, saya curiga. Coba kita jebak.”
Lalu Amat berpaling pada Bu Jack sambil tersenyum ramah.
“Maaf atas semua ketidaknyamanan ini Bu Jack. Merdeka tidak berarti orang bebas berbuat apa saja semaunya. Merdeka berarti membatasi kebebasan dengan ada kemerdekaan orang lain. Silakan tuntut saja semua kesalahan kami!”
Bu Jack tak menjawab. Ia cepat-cepat masuk rumah. Pak Alit tak sanggup lagi menahan diri. ia mengeluarkan paku yang sudah disiapkannya, lalu hendak menoreh Mercy Bu Jack. Dengan sigap Amat membekuk dan menariknya pulang.
Esoknya Bu Jack menghilang misterius. Tak pernah muncul lagi. Sebulan kemudian hunian Amat kembali menggondol juara hunian terbaik kali ini dari pusat.

To Top