Sosialita

Putu Sudiadnyani dan CWCC: Tebarkan Rasa Peduli dan Kasih Sayang

Foto bersama usai tirtayatra

Celuk Woman Care Community (CWCC) adalah komunitas perempuan dengan misi sosial yang tinggi. Mereka berbagi dengan penuh kasih dan sayang di kawasan di Desa Celuk.
Jangan menunggu kaya untuk berbagi dan jalani semuanya dengan ikhlas. Itulah salah satu moto yang dipegang oleh anggota CWCC saat ini. Begitu disampaikan sang penggagas Putu Sudiadnyani atau dikenal dengan nama populernya Bu Bara,  ketika ditemui di Galerinya.
CWCC yang saat ini beranggotakan 20 orang, dibentuk pada 17 Agustus 2016, bertujuan menggugah  dan mengajak  ibu-ibu di Celuk untuk melihat bahwa masih banyak orang yang memerlukan bantuan dan mereka patut peduli.
Untuk perayaan HUT ke–1 CWCC tahun ini dilaksanakan  sederhana namun penuh kebahagiaan. Aktivitasnya pun berlangsung lebih awal, yakni pada (13/8). Hal ini, mengingat pada bulan Agustus  kegiatan masing-masing anggota cukup padat.
Diakui oleh Bu Bara bahwa awal adanya CWCC dari sebuah obrolan. Mengingat dirinya bukan siap-siap dan bukan apa–apa, sebelumnya ia sempat pesimis. Apakah ibu–ibu di Celuk bersedia diajak melakukan aksi peduli. ”Ternyata ketika ia membisiki seorang temannya di acara persembahyang bersama, gayung pun bersambut. Kami mendapatkan respons yang cepat dan positif, hingga akhirnya keberadaan CWCC dikenal dari mulut ke mulut,” ungkap Bu Bara.
Bahkan, katanya mereka yang tidak bergabung di CWCC, saat ada kegiatan sosial,dengan antusias turut menyumbang. “Ternyata aliran jiwa sosial para perempuan di Celuk sangat kuat,”  kata Bu Bara sembari menambahkan jika saat melakukan arisan mereka semua selalu mengumpulkan koin.
Selama ini CWCC telah menjalankan kegiatan sosialnya, diantaranya baksos  untuk mereka yang tertimpa musibah longsor di Songan, Bangli dan baksos di Klungkung. Sedangkan untuk di kawasan tempat tinggal mereka, anggota CWCC  melakukan kujungan sosial kepada  para orang tua atau lansia, orang yang tidak sempurna atau cacat dan sakit menjelang Hari Raya Galungan. Bersyukur untuk data atau informasi, mereka dibantu bukan hanya oleh kelian setempat tapi juga masyarakat Celuk, sehingga semua kegiatan dengan mudah dapat dilaksanakan.
Mengenai alasan dilakukannya bantuan langsung ke rumah-rumah orang yang memerlukan bantuan, adalah untuk menanamkan rasa bersyukur dalam diri, dengan melihat langsung mereka yang wajib ditolong.
Bu Bara juga mengatakan bukan hanya persoalan memberikan bantuan materi semata, tapi datang menemui mereka dengan kasih sayang disertai ucapan selamat Hari Raya  Galungan  dan Kuningan membuat wajah mereka berseri. “Melihat mereka bahagia maka rasa bahagia yang lebih ada di hati kita,” lanjutnya. Ia mengajak kita semua untuk selalu peduli orang tua yang ada di sekeliling kita, orangtua sendiri maupun mertua.  “Jangan biarkan mereka  kurang kasih sayang,” tegasnya.
Salah seorang yang tergabung dalam CWCC, Ni Made Sri Santi Dewi, yang bekerja di RSU Ganesha dan mengajar di Kampus STD Bali, mengatakan dirinya adalah tipe orang yang tidak suka kumpul-kumpul tidak jelas dan tanpa tujuan atau hanya ngobrol  yang tidak bermanfaat. Mengingat kegiatannya yang  wajib menghargai waktu. Namun, CWCC berbeda.
“Berkumpulnya perempuan Desa Celuk di wadah bernama CWCC memiliki tujuan pasti dan mulia, yakni menolong orang yang kurang mampu. Dengan diajak ikut bergabung di komunitas ini juga, saya selain bisa berbagi juga bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Di sini saya mendapatkan dua manfaat, selain membantu orang , saya juga bisa sharing dengan ibu-ibu lainnya di komunitas ini,” ungkapnya.

BERKARYA DAN BERKARYA
Perjuangan itu perlu waktu dan kesabaran. Begitu pula berbuat baik itu tidak ada yang instan. Waktulah yang akan menunjukkan semuanya. Begitu disampaikan Bu Bara yang menggagas dua komunitas dengan misi sosial ini.
Apa yang dipikirkan orang lain tentu tidak sama dengan apa yang ada di dalam pikirannya. Dalam hidup,  wajar ada yang suka dan tidak suka. “Contohnya kaki saja ada kiri dan kanan. Bayangkan kalau hanya ada kaki kanan, pastinya kita sulit melangkah,” katanya.
Makanya, Bu Bara cukup menunjukkan dengan berkarya dan berkarya. Seperti saat di PKB belum lama ini, ia berhasil menyabet juara 1 dalam  lomba mendesain aksesori dengan tema teratai.
Bukan hanya itu, karya-karyanya yang selalu unik dan baru, bukan hanya menarik perhatian para desainer nasional untuk berkolaborasi tapi juga dikenakan oleh istri  para petinggi di negeri ini. Selain itu Bara Silver juga mendapat kesempatan dari Bank Indonesia untuk tampil di Pameran Karya Kreatif Indonesia 2017 tanggal 18 – 20 Agustus  di JCC dan 24 Agustus di Palembang.
Untuk berbagai pameran yang dilakoninya Bu Bara mengucapkan terima kasih kepada Bank Indonesia (BI) , Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Dekranasda Provinsi Bali, yang telah mensupornya selama ini.
Bagi Bu Bara, yang saat ini tengah disibukkan dengan kegiatannya berlatih akting ,  sahabat adalah  aset terbesarnya. Sementara kehadiran CWCC  di Desa Celuk, bisa menjadikan desa Celuk tetap dikagumi dunia dengan orang-orangnya  yang ramah dan baik hati. Penduduknya pun bangga berada di di desanya. Disamping itu, ebersamaan juga menjadikan persaudaraan lebih dekat dan hidup semakin indah di lingkungan sendiri. -ard

To Top