Kreasi

Keris Empu Gandring “Tikam” Yogyakarta

Sebilah keris merenggut rujuh turunan. Keris sakti itu seakan memendam dendam kesumat. Keris bertuah hasil karya Empu Gandring tersebut menjadi sakaratul maut yang haus darah. Darah segar yang melumuri sekujur tubuh keris itu membuatnya kian menyeringai menguntit nyawa. Nyawa-nyawa yang berhasil dicabut keris itu membuatnya makin kejam memburu mangsa. Keris pencabut nyawa yang  diciptakan pada abad ke-13 itu, kemudian dikisahkan  menghilang secara misterius. Namun tiba-tiba, pada 29 Juli 2017 lalu tiba-tiba muncul “menikam” Yogyakarta.

“Aku Keris Gandring”, sebuah  pertunjukan garapan baru, dihadirkan oleh para seniman duta Kabupaten Gianyar, serangkaian dengan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) ke-29 tahun 2017.  Adalah sanggar seni dengan bendera Nrityagrha Siwanataraja Sukawati-Bali,  diutus mengemban misi seni dalam forum nasional bergengsi di Kota Gudeg itu. Sebuah genre seni pentas anyar yang disebut rinasila (tari-narasi-lagu) dijadikan bingkai garapan yang lakonnya diangkat dari kitab Pararaton yaitu kisah tentang para raja Jawa.

Mengambil tempat pentas di panggung terbuka Planet Piramid, Bantul. Panggung yang berkapasitas dua ribu orang penuh sesak dijejali penonton yang berkursi dan duduk lesehan. Pementasan malam itu juga disimak oleh para pejabat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan para undangan yang datang dari Bali, para pejabat dari Kabupaten Gianyar. Rupanya penampilan 50 orang seniman muda dari Gianyar-Bali sudah ditunggu-tunggu penonton. Terbukti stan kuliner di depan panggung yang sebelumnya riuh jadi senyap, para pengunjung berkonsentrasi menonton “Aku Keris Gandring”.

Pertunjukan diawali dengan pembacaan sinopsis. “Aku sebilah keris. Aku diciptakan oleh Empu Gandring. Dalam ragaku merasuk jampi-sampi bertuah asupan para dedemit dan anugrah para dewa. Keberadaanku berawal dari birahi Ken Arok yang kepincut dengan sang jelita Ken Dedes, permaisuri Tunggul Ametung. Untuk memiliki Ken Dedes, aku dipergunakan Ken Arok membunuh menguasa Tumapel. Di tangan Ken Arok sekujur tubuhku berlumur darah, aku dilibatkan dalam kekerasan atas ambisi tahta, harta, dan wanita. Aku Keris Gandring. Aku meradang…….!!!!”.

Cerita dimulai dengan adegan kelahiran Ken Arok. Seluruh penabuh duduk melingkar di tengah panggung penggunakan kain hitam putih kotak-kotak. Di tengahnya  empat penari pria menggeliat memainkan boneka bayi. Dalam suasana hening, narator mengalunkan tembang, “Alkisah di dusun Pangkur,  lahirlah si bayi”. Disauti oleh para vokalis wanita, “Dibuang sang ibu pada tengah malam.”  Prolog ini menggambarkan riwayat Ken Arok yang dibuang oleh ibunya, Ken Endok, di sebuah kuburan, dipungut seorang bromocorah yang kemudian dibesarkan jadi maling, perampok dan penjudi.

Untuk menjalin komunikasi verbal dengan penonton, garapan “Aku Keris Gandring” menggunakan  bahasa Jawa Kuno (Bahasa Kawi) dan bahasa Indonesia, baik narasi maupun dalam olah vokal nyanyian. “Pemakaian narasi dalam bahasa Indonesia tak hanya memudahkan jalinan komunikasi namun juga sebagai media estetik dengan rangkaian kata-kata sastrawi, “ ujar Bagus Natya, narator sekaligus pimpinan Sanggar Seni Siwanataraja. Narasi dan nyanyian dalam bahasa persatuan Indonesia itu tampak tepat guna.  Kisah Ken Arok dan Ken Dedes itu disimak penonton dengan sarat paham dan penuh antusias.

Lakon Ken Arok dan Ken Dedes sering diangkat dalam beragam ungkapan seni pertunjukan, baik dalam pengejawantahan seni tradisional maupun dalam wujud seni modern. Melalui bekal cerita yang sudah dikenal umum itu, “Aku Keris Gandring” menawarkan kreativitas seni dan pesan moral yang dieksplorasi dan diinterpretasikan dari penggalan sejarah masa lalu  tanah Jawa. “Dengan paduan atau rajutan seni tari, sastra narasi, dan seni karawitan instrumental dan vokal lagu, kami tawarkan nafas baru seni pertunjukan rinasila, dan kedalaman isi serta muatan pesan yang kontekstual adalah aksentuasi yang dikedepankan tanpa mengabaikan daya gedor artistiknya,” ujar Laras, sang artistik direktor.

“Aku Keris Gandring” hadir dengan totalitas artistik nan apik. Tata tari adegan Ken Arok bersama teman-temannya minum arak-tuak sembari main perempuan, mengundang tepuk sorai penonton. Lewat untaian lagu yang semarak, adegan ini disertai dialog dalam bentuk pantun antara para penjudi dan perempuan penghibur. Wanita penghibur: “Jalan-jalan di Malioboro, jangan lupa makan gudeg, kalau kita memang jodoh, sampai mati cintaku mantep”. Dibalas oleh penjudi: Dari Bali ke Jawa, naik kereta tiba di Jogja, kanda rela berkorban nyawa, demi dinda yang kupuja”. Penggunaan identitas lokal sebagai bahan pantun membuat seni pentas duta Gianyar ini mempesona penonton. Selama hampir satu jam penonton terkesima.

Klimaksnya adalah adegan keris gandring yang meradang. Begitu dipegang oleh Ken Dedes–setelah keris itu dipakai Ken Arok menghabisi Kebo Ijo, petir mengguntur. Roh keris itu merasuk ketubuh dan jiwa Ken Dedes dan mengumpat Ken Arok. “Aku, keris ciptaaan Empu Gandring, berjanji tak akan pernah henti menebar api kekerasan dalam perebutan kepemimpinan bangsamu yang nanti disebut Nusantara. Jika  bangsamu nanti ingin menghindari petaka itu, rintislah mulai sekarang kehidupan berbangsa yang berkeadaban dengan menyemai kerukunan, serta selalu menjunjung kemanusiaan nan cinta damai”.   (Kadek Suartaya)

To Top