Kolom

Gerakan Pramuka dan Kemajuan Iptek

Dr. Ir. I Komang Agusjaya, M.Kes.

Menurut Lord Baden-Powell (Bapak Pandu se-Dunia), kepramukaan bukanlah suatu ilmu yang harus dipelajari dengan tekun, bukan pula merupakan kumpulan ajaran-ajaran dan naskah-naskah dari suatu buku.  Kepramukaan adalah suatu permainan yang menyenangkan di alam terbuka, tempat orang dewasa dan anak-anak pergi bersama-sama, mengadakan pengembaraan bagaikan kakak beradik, membina kesehatan dan kebahagiaan, ketrampilan dan kesediaan untuk memberi pertolongan bagi yang membutuhkannya.

Sifat kepramukaan yaitu a) nasional artinya kepramukaan itu diselenggarakan di masing-masing negara disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing negara tersebut,                b) internasional artinya kepramukaan harus dapat mengembangan rasa persaudaraan dan persahabatan antar sesama anggota kepanduan (pramuka) dan sebagai sesama manusia, dan c) universal artinya kepramukaan itu dapat berlaku untuk siapa saja serta dapat diselenggarakan dimana saja. Fungsi kepramukaan yaitu a) merupakan kegiatan yang menarik yang mengandung pendidikan, bagi anak-anak, remaja dan pemuda,                 b) merupakan suatu pengabdian bagi para anggota dewasa yag merupakan tugas yang memerlukan keikhlasan, kerelaan dan pengabdian, dan c) merupakan alat bagi masyarakat, negara atau organisasi untuk meemnuhi kebutuhan masyarakat, alat bagi organisasi atau negara untuk mencapai tujuannya.

Gerakan Pramuka adalah nama organisasi yang merupakan suatu wadah proses pendidikan kepramukaan yang ada di Indonesia. Untuk mencapai tujuan gerakan pramuka para anggota gerakan pramuka harus mematuhi kode kehormatan gerakan pramuka.  Yang dimaksud dengan kode kehormatan adalah suatu norma atau nilai-nilai luhur dalam kehidupan para anggota gerakan pramuka yang merupakan ukuran atau standar tingkah laku seorang anggota gerakan pramuka.  Sebagai contoh kode kehormatan di golongan penggalang terdiri dari janji (satya) berupa trisatya dan ketentuan moral (darma) berupa dasadarma.

Dengan adanya kode kehormatan bagi Gerakan Pramuka, diharapkan pola tingkah laku atau tindakan para anggota Gerakan Pramuka akan menjadi lebih baik sesuai dengan tujuan dan sasaran pendidikan Gerakan Pramuka seperti tercantum dalam Anggaran Dasar Gerakan Pramuka.

Di dalam Gerakan Pramuka terdapat golongan Siaga (S) usia 7-10 th, Penggalang (G) usia 11-15 th, Penegak (T) usia 16-20 th dan Pandega (D) usia 21-25 th.  Masing-masing golongan memiliki syarat kecakapan umum (SKU) dan syarat kecakapan khusus (SKK) yang berbeda. Kegiatan siaga adalah kegiatan yang menggembirakan, dinamis, kekeluargaan dan berkarakter. Kegiatan penggalang adalah kegiatan yang berkarakter, dinamis, progresif dan menantang.  Kegiatan penegak dan pandega adalah kegiatan yang berkarakter, dinamis, progresif, menantang, bermanfaat bagi diri dan masyarakat lingkungannya.

Seorang pembina pramuka diharuskan memiliki keterampilan, kemampuan, kreativitas, inovatif yang berbeda pula sesuai dengan golongan SGTD yang dibina. Latihan rutin anggota pramuka di gugus depan yang dikemas sedemikian rupa, untuk menarik minat anggota pramuka agar tetap berlatih secara rutin.

Materi latihan dapat dikombinasikan dengan kemajuan iptek misalnya anggota pramuka siaga dan penggalang dapat dikenalkan bagaimana cara menelusuri suatu informasi dengan internet.  Seorang pramuka penegak dan pandega yang ingin menekuni bidang SAKA, dapat dibina agar terampil menyusun suatu rencana, melaksanakan dan mengevaluasi. Salah satu contoh adalah Saka Bakti Husada yang menekuni bidang kesehatan, dapat membuat kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).  Kegiatan PSN dapat dikoordinasikan dengan puskesmas dan Dinas Kesehatan kabupaten/kota.  Keberlangsungan program ini dapat diwujudkan dengan pembinaan secara rutin oleh pamong saka atau petugas kesehatan yang bertanggung jawab. Kegiatan ini dapat bermanfaat untuk pengembangan diri dan untuk masyarakat.

Masalah kesehatan yang berkaitan dengan perilaku diantaranya adalah penerapan menu seimbang pada anak sekolah dasar.  Sosialisasi dan penyuluhan dapat diberikan secara rutin sehingga anak-anak sekolah dasar dapat memahami dan kemudian menerapkannya untuk mengonsumsi makanan dengan prinsip menu seimbang.  Manfaat yang diperoleh pramuka penegak dan pandega adalah memahami materi menu seimbang dan pengalaman menyampaikan materi tersebut kepada anak-anak sekolah dasar.

 

Dr. Ir. I Komang Agusjaya, M.Kes.

Ketua SBH Poltekkes Denpasar

Andalan Saka Kwacab Denpasar

 

To Top