Kolom

PENGEJUT

Kabar pengejut dari Jakarta meresahkan Amat. Kalau dengan hanya  mengemis Mukhlis bisa mengumpulkan Rp 90 juta, tidak sedikit orang akan berhenti dari pekerjannya, lalu menjasi pengemis.
“Soalnya bukan hanya Mukhlis, di Medan juga ditemukan pengemis dengan uang jutaan dan bahkan punya paspor. Dia mengaku mengemis untuk bisa dapat tambahan uang guna pelesir keluar negeri,”kata Amat sewot.
“Bukan apa-apa, terserah orang mau bagaimana saja boleh, ini kan negeri merdeka, asal tak melanggar hukum, “lanjut Amat,”tapi kalau mengemis perlahan-lahan beringsut dan meyakinkan prospeknya, ya, kan. pasti ulah itu akan jadi rebutan. Orang akan jor-jorn jadi pengemis. Buat apa mereka banting tulang jadi buruh penambangan, jadi tukang sapu jalan atau jadi tukang  sampah? Kan mengemis enak, bebas, merdeka, tak ada tanggungjawab,  banyak untung lagi!”
“Tapi kehilangan harga diri!”
“Harga diri? Bu, masyarakat kita sedang diberangkatkan menjadi komunitas yang terbiasa hidup tanpa harga diri oleh para pengejut itu!”
“Apa itu pengejut?”
“Pengemis jutawan! Hari ini mantannya Bapak undang ke rumah kita ini!”
Bu Amat terkejut.
“Apa? Bapak mengundang siapa hari ini? Kok tidak bilang-bilang.”
Nah itu, orangnya datang!’
Amat berdiri dari kursi lalu menyongsong ke depan rumah. Bu Amat bingung. Ia tak siap menerima tamu. Hampir ia masuk kamar untuk ganti pakaian, tapi Amat keburu masuk.
“Berapa orang, Pak?”
“Satu.”
“Mau diterima di luar saja atau akan disuruh masuk?
“Masuk.”
“Saya tidak perlu ikut, kan?”
“Perlu. Justru Bapak mau kenalkan dengan ibu.
“Saya untuk apa kenalan dengan bekas pengemis?”
“Supaya paham, mereka itu sebenarnya ‘bekerja’ bukan mengemis. Tapi orang sudah salah kaprah, dikiranya hanya dengan merengek-rengek, menadahkan tangan pengejut itu dapat duit jutaan. Lalu mereka meniru. Akhirnya bukan jutaan yang didapat tapi celaan; pemalesan! Atau deraan dari petugas, ditangkap dan dikembalikan ke daerah  asalnya. Tapi pekerjaan asalnya sudah dia tinggalkan. Akhirnya dia kembali ke Jakarta jadi pengemis dan sekali lagi ditangkap. Pengejut lain. Mereka pakai strategi. Ada targetnya. Kalau target sudah terpenuhi, dia tinggalkan dunia tanpa harga diri itu, lalu jadi petani, ada yang jadi guru, ada juga yang jadi pengusaha. Dan salah satunya ada juga yang jadi …
Bu Amat penasaran.
“Jadi apa?”
“Jadi seorang suami.”
“Maksudnya?”
“Menikah. Punya keluarga. Jadi anggota masyarakat dan … ”
“Dan mengemis lagi!”
“Tidak! Dan punya harga diri yang dia bangun kembali dari reruntuhannya. Karena ia sadar, hidup tak hanya memerlukan uang, tetapi harga diri. Bahkan itu yang paling penting!”
Bu Amat tertegun dan nampak amat terkesan. Ia lupa mau masuk kamar ganti pakaian. Ia merapikan sedikit kebaya dan rambutnya.
“Ya, sudah, Pak, kalau begitu, saya ikut menemani Bapak mendengarkan pengalamannya. Dipersilakan saja masuk.”
Amat tersenyum.
“Tidak usah”
Kok tidak usah?”
“Ia sudah masuk.’
Bu Amat terkejut dan memeriksa.
“Mana?”
“Tepat di depanmu.”

To Top