Advertorial

WARUNG SATE ALA AJIK CHEF DI BALER BALE AGUNG, NEGARA : GUSTI WEDAKARNA APRESIASI KULINER BABI MAKIN MERAMBAH DAERAH JEMBRANA

Satyagraha – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna kunjungi Warung Sate Ala Ajik Chef di Jalan Plawa depan Toko Bangunan Sri Sedana Banjar Baler Bale Agung, Negara 

Dukungan kepada masyarakat Bali khususnya untuk membuka warung sukla sangat didukung dan terus digelorakan oleh Senator RI Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III (Penggagas Gerakan Sukla Satyagraha). Gerakan Sukla ini sudah menjadi budaya bagi semeton Bali. Kesadaran akan membuka usaha makanan yang sangat menjanjikan makin marak.

Kali ini dalam kunjungan kerja Senator Gusti Wedakarna ke Jembrana, berkesempatan untuk mengunjungi warung sate ala Ajik Chef di Baler Bale Agung, Negara yang sangat terkenal menurut masyarakat sekitar. Ida Bagus Pandita dan Ida Ayu Kadek Wirawati (pemilik Warung Sate Ala Ajik Chef) ini menjual makanan khas bali yakni sate babi sebagai andalannya. Warung ini termasuk baru dan sudah terkenal apalagi menjual makanan babi bukan hanya saja untuk masyarakat Bali tapi juga wisatawan.

“Orang Bali harus meniru orang Bali di daerah transmigran. Kenapa umat Hindu di luar Bali lebih sejahtera, karena mereka kuasai tanah dan ekonomi. Kita di Bali harus mengubah strategi. Mulai dari lingkungan keluarga, mulai ngajeng ajengan Sukla Bali, lalu biasakan berbelanja di warung pribumi dan bantu mengembangkan usaha mereka. 90 persen adalah mayoritas Hindu dan pasti sukses dan menang dan itu cita-cita Satyagraha,”ungkap Gusti Wedakarna.

Terkait dengan sarana yang dimiliki, Gusti Wedakarna pun memberikan sumbangan kursi hal ini untuk mendukung usaha semeton Bali agar semakin banyak semeton yang dapat berbelanja ke warung sate ala Ajik Chef di Negara. Sebagai seorang pemimpin kesejahteraan rakyatnyalah yang paling penting. Dukungan agar berdikari dan membuka usaha warung sukla sangat membantu masyarakat Bali. Gerakan Sukla Satyagraha ini akan selalu mendukung agar semeton bali bisa memiliki usaha sukla. Dalam bentuk usaha makanan ataupun usaha ekonomi kreatif.

“Di daerah sendiri memang harus menjadi masyarakat yang maju. Jangan mau kalah dengan para pendatang yang bisa buka usaha dan sukses, orang Bali juga harus menguasai ditanahnya sendiri. Terkait dengan sukla, yang merupakan branding yang sudah digalakkan dari tahun 2015 ini, intinya yakni makanan yang dijual adalah makanan yang suci dan bersih. Bagi orang Bali, tubuh manusia itu ibaratnya sebuah Pura. Maka perlu, orang Bali mendapatkan makanan dan kuliner yang suci dan bersih, karena apapun yang tampaknya bersih, tidak semuanya dijamin suci. Kita bangga dengan konsep Sukla,” ungkap Gusti Wedakarna. (Humas )

To Top