Advertorial

Penyakit Akar Putih pada Cengkih Hantarkan Wayan Suanda Raih Gelar Doktor

Dr. Wayan Suanda (lima dari kiri) diapit oleh Ketua Yayasan Arthanegara dan Dekan FPMIPA berfoto bersama para penguji

Dr. Wayan Suanda (tiga dari kiri) berfoto bersama keluarga

Tanaman cengkih merupakan salah satu tanaman perkebunan penghasil rempah-rempah yang telah digunakan sebagai obat tradisional, bahan anastetik dalan dunia kedokteran dan banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam farmasi.

Cengkih juga memiliki nilai ekonomi cukup tinggi dalam komoditas perkebunan di Bali. Namun kondisi ini tak berlangsung lama, karena secara tiba-tiba tanaman cengkih terserang patogen menyerupai jamur dengan gejala tanaman layu, mengering dan akhirnya gugur. Beberapa cara telah dilakukan petani untuk mengendalikan dan mencegah penyebaran patogen penyakit akar putih pada tanama cengkihnya ini, di antaranya penggunaan bibit sehat, eradikasi, sanitasi lingkungan dan pemberian fungisida kimia sintetis, tetapi tidak memberikan hasil memuaskan.

Hal inilah yang melatar belakangi Dr. Drs. I Wayan Suanda, S.P., M.Si. untuk melakukan penelitian pada petani di Desa Unggahan, Seririt dan Desa Busungbiu, Kabupaten Buleleng.

Berdasarkan hasil peneliannya tersebut, disimpulkan bahwa spesies dari patogen menyebabkan penyakit akar putih pada tanaman cengkih di Kabupaten Buleleng adalah jamur Schizophyllum commune. Isolat mikroba antagonis yang diisolasi dari rizosfer tanaman cengkih dan tanaman duwet tanpa gejala penyakit akar putih dapat menghambat pertumbuhan patogen penyakit akar putih pada tanaman cengkih dengan daya hambat >80%. Isolat JB1 mampu menghambat pertumbuhan koloni patogen sampai 90,11% secara in vitro dan mampu menekan tingkat serangan patogen sebesar 98,33% pada bibit cengkih dalam polybag rumah kaca.

Disimpulkan juga, bahwa berdasarkan identifikasi morfologi dari isolate JB1 adalah Trichoderma sp. Dan identifikasi secara molekuler dari jamur antagonis Trichoderma sp. (isolate JB1) adalah Trichoderma asperellum. Berikutnya, disampaikan Dr. Wayan Suanda, mekanisme antagonik Trichoderma asperellum isolate JB1 dalam menghambat pertumbuhan jamur patogen Schizophyllum commune adalah antibiosis dengan mendegradasi membrane sel patogen. Senyawa pendegradasi tersebut mempengaruhi organel sel patogen sehingga tidak terorganisasi secara teratur.

PREDIKAT SANGAT MEMUASKAN

Hasil penelitian promovendus Wayan Suanda ini dikatakan Ketua Sidang Prof. Dr. Ir. Nyoman Rai, M.S. menjadi penemuan baru, yang tentunya sekecil apapun bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

Karena itu, dalam Ujian Terbuka Fakultas Pertanian Universitas Udayana Promosi Doktor, yang dilaksanakan Kamis (10/8) di Gedung Program Pascasarjana Unud, dengan judul disertasi “Identifikasi Patogen Penyakit Akar Putih pada Tanaman Cengkih dan Pengendalian secara Hayati”, Wayan Suanda dinyatakan lulus dengan predikat Sangat Memuaskan.

Wayan Suanda menyampaikan terimakasih kepada semua pihak, di antaranya Prof. Dr. Ir. Nyoman Rai, M.S., Prof. Dr. Ir. I Made Sudana, M.S., Prof. Dr. Ir. I Gede Rai Maya Temaja, M.P., Prof. Dr. Dra. Ni Putu Ristiati, M.Pd., Prof. Dr. Ir. I Made Adnyana, M.S., Prof. Dr. Ir. I Gede Mahardika, M.S., Dr. Ir. I Dewa Nyoman Nyana, M.Si., Dr. IGN Alit Susanta Wirya, SP., M.Agr, I Putu Sudiarta, SP., M.Si., Ph.D. Juga, kepada Dr. Drs. Ida Bagus Gede Darmayasa, M.Si., Ir. Ni Putu Pandawani, MP., Ir. Ni Nyoman Darsini, M.Si., I Komang Juliarta, S.P, Putu Agus Apriastika,S.P., dan semua pihak yang tak bisa disebutkan satu persatu, termasuk keluarga, serta jajaran Rektorat dan Yayasan IKIP PGRI Bali.

Diraihnya gelar Doktor oleh Wayan Suanda ini menambah jumlah deretan Doktor di IKIP PGRI Bali. “Kami sangat bangga atas apa yang diraih oleh dosen  kami Wayan Suanda. Dia adalah Doktor pertama di Jurusan Biologi, Doktor ke 3 di FPMIPA, dan Doktor ke 17 di IKIP PGRI Bali. Ini berarti SDM (dosen-dosen) yang ada di IKIP PGRI Bali kualitasnya bertambah. Sesuai dengan aturan, tidak ada lagi dosen S-1 minimal S-2. Dan, ada lagi beberapa kandidat Doktor yang akan menyusul. Ke depannya kami harapkan IKIP PGRI Bali terus berkembang, apalagi persiapan kami menuju Universitas,” ucap Ketua YPLP PT IKIP PGRI Bali Drs. IGB Arthanegara, S.H., M.H., M.Pd. yang turut menghadiri acara tersebut. –ten

To Top