Advertorial

Prof. Drs. Ketut Rindjin dan Dra. Ida Ayu Putu Astini, M.Hum: Rayakan Pernikahan Emas

“Saya dan istri sebetulnya tidak ada rencana untuk mengadakan acara ini. Tidak tahu semua anak saya sudah berembug untuk mengadakan upacara syukuran 50 tahun perkawinan saya. Saya bilang Bapak dan Ibu tidak ada rencana untuk itu. Usia Bapak dan Ibu sudah tua. Bapak dan Ibu pensiun  tahun 2009 dan 2010, tanggal 28 Juni 2010 sudah mengadakan upacara purnabakti. Apa yang Bapak dan Ibu lakukan selama 18 tahun menjadi Pembantu Dekan, dan Dekan di lembaga ini, lengkap dengan kesaksian dari dosen, pegawai, dan anggota masyarakat. Oleh karena itu, Bapak dan Ibu pikir rasanya upacara itu tidak perlu lagi. Anak-anak saya serentak menjawab, “supaya kami juga dapat berbuat terbaik untuk Bapak dan Ibu. Bapak dan Ibu tidak perlu ikut repot, kami yang akan menyelenggarakan termasuk biayanya,”. Ya kalau begitu, silakan. Asalkan disesuaikan dengan libur sekolah agar semuanya bisa hadir.”

Menikahi seorang putri sulung pasangan Ida Bagus Made Karang dan Ida Ayu Kade Bintang dari Griya Batan Cempaka Liligundi, Ida Ayu Putu Astini, membuat  Ketut Rindjin begitu bahagia. Apalagi pernikahan yang kini telah berusia 50 tahun itu telah dikaruniai lima orang anak. Semua anaknya telah menamatkan studi, telah bekerja dan berkeluarga sehingga punya lima menantu dan sepuluh cucu.

Sepanjang perjalanan karier akademik Prof. Ketut Rindjin selalu ditemani sang istri dalam berbagai keadaan. Sekelumit kisah tentang perjalanan karier Prof. Ketut Rindjin yang tidak mungkin bisa dilepaskan dengan sejarah Undiksha. Berawal  dari berdirinya Kursus B 1 Bahasa Indonesia tahun 1955 dan B1 Perniagaan pada tahun 1957. Kedua lembaga pendidikan ini berkembang menjadi FKIP Universitas Airlangga sejak 1 Januari 1962, selanjutnya berubah menjadi FKIP Unud 9 Agustus 1962, menjadi IKIP Malang cabang Singaraja tahun 1963, kembali diintegrasikan ke Unud menjadi dua fakultas, Fakultas Keguruan dan Fakultas Ilmu Pendidikan tahun 1968. Kedua fakultas itu digabungkan menjadi FKIP Unud 12 Februari 1983, berubah menjadi STKIP Negeri Singaraja 16 Januari 1993, menjadi IKIP Negeri Singaraja 5 Februari 2001, dan akhirnya menjadi Undiksha 11 Mei 2006.

Dalam institusi pendidikan itu, Ketut Rindjin pernah 18 tahun menjabat pimpinan yakni PD III fakultas Keguruan 1968-1972, Dekan Fakultas Keguruan 1976-1980, Pembantu Dekan I FKIP 1983-1986, Dekan FKIP 1986-1993. Ia juga pernah menjabat sebagai Rektor Unipas pada tahun 1986-1990. Tahun 1977 ia ditawari oleh Rektor Unud, Prof.dr. Ida Bagus Oka untuk menjabat sebagai Pembantu Rektor I. Namun, Rindjin tidak memenuhi permintaan itu, karena baru saja menjabat sebagai Dekan Fakultas Keguruan. Suami dari Dayu Astini ini tercatat sebagai guru besar pertama di FKIP tahun 1987 dan ke-17 di lingkungan Unud.

Pengalaman menarik ia dapatkan dalam dunia pendidikan tahun 1987. Ada mata kuliah yang menjadi tanggung jawab Rindjin tetapi tidak berasal dari disiplin ilmunya, yakni Pendidikan Pancasila. Intensitas dalam mendalami ilmu pengetahuan yang satu ini memang tak diragukan. Hal ini ditambah dengan pengalamannya dalam kegiatan politik praktis ketika ia menjabat sebagai Ketua II PNI Cabang Buleleng yang dipimpin Ketut Wijana (alm).

Kini, Rindjin dan Dayu Astini menghabiskan masa pensiunnya di rumah. Setelah pensiun, Ketut Rindjin tidak serta merta berhenti bekerja, ia masih diminta untuk mengampu mata kuliah tertentu sesuai dengan keperluan lembaga. “Sejak pensiun saya memang tidak terikat pekerjaan dengan Undiksha tetapi jika diperlukan saya tetap menyanggupi untuk mengampu mata kuliah tertentu,” ungkapnya saat ditemui Tokoh di kediamannya di Jalan Dewi Sartika, Singaraja.

Menjalani biduk rumah tangga selama puluhan tahun bersama sang istri, tentu banyak pengalaman berharga yang mereka dapatkan. Menemani tumbuh kembang kelima anaknya hingga tumbuh menjadi manusia yang bermoral tentu tidak mudah. Disibukkan dengan pekerjaan akademik membuat Rindjin dan istrinya saling melengkapi untuk mendidik anak. Tidak jarang perbedaan-perbedaan kecil mewarnai riak rumah tangga yang sudah mereka bina. Setiap permasalahan kecil yang menghampiri keutuhan rumah tangga, selalu ditepis agar tidak menjadi besar. “Selama ini, dalam rumah tangga tidak pernah ada permasalahan yang serius, kalaupun ada segera diselesaikan jangan menunggu besok sehingga masalah tersebut tidak pernah sampai di bawa ke dalam hati,” ungkap pria berusia 78  tahun ini.

Hal senada juga disampaikan Dayu Astini. Perbedaan pendapat dan perselisihan memang sangat wajar dalam hubungan suami istri, hanya saja kerendahan hati dan saling percaya merupakan kunci keharmonisan keluarganya. Pernah suatu ketika, suaminya pergi ke beberapa negara untuk urusan pekerjaan. Namun, dirinya tidak pernah mempermasalahkan jika ia tidak diikutsertakan. “Pernah saya ikut ke Australia dan kunjungan ke Jepang,” ungkapnya.

Baru-baru ini, pasangan suami istri yang menikah 16 Maret 1967 ini merayakan ulang tahun perkawinan yang ke-50. Kesibukan anak-anak, menantu, dan cucu-cucunya membuat Rindjin dan istri hanya merayakan ulang tahun pernikahannya di rumah. Namun, siapa sangka, dibalik itu, anak, menantu dan cucunya tengah mempersiapkan pesta perayaan yang begitu berkesan. Tepat 2 Juli 2017, bertempat di Hotel Banyualit sanak keluarga dan kerabat telah berkumpul untuk merayakan pesta ulang tahun pernikahannya. “Awalnya kami hanya rayakan di rumah saja, tetapi anak-anak sudah mengatur semuanya, mulai dari pesan tempat, catering, undangan, pengisi acara, semua mereka yang atur,” tuturnya.

Rupanya, pesta ini telah dipersiapkan jauh-jauh hari oleh anak-anaknya. Pesta yang seharusnya berlangsung 16 Maret, akhirnya diadakan 2 Juli, lantaran menunggu anak dan cucu yang berada di Jakarta. “Ya acara dilangsungkan nunggu mereka libur dulu, agar semua keluarga berkumpul,” imbuhnya.  Acara yang diprakarsai oleh anak, menantu dan cucunya itu terbilang sukses. Tamu undangan yang datang begitu menikmati acara-acara yang disuguhkan. “Jika dalam menghadiri undangan, tamu akan pulang sehabis makan, dalam pesta kemarin semua ikut larut dengan kebahagiaan kami,” ungkap Rindjin.

Menurut Ferry, pesta yang digelar orangtuanya, tidak sekadar perayaan semata, penekanan lebih kepada ucapan dan rasa syukur karena pernikahan yang mereka bina masih tetap ajeg dan harmonis. Rangkaian acara pun disusun dengan rapi, mulai dari sambutan Prof.  Ketut Sarna yang merupakan rekan kerja dari Prof. Ketut Rindjin semasa aktif di bidang akademik. Dalam sambutannya, Prof. Ketut Sarna memberikan kesaksian perjalanan karier hingga kisah cinta yang dilalui oleh Ketut Rindjin dan istrinya.

Acara hiburan pun tak kelewatan. Bahkan pihak keluarga telah menyiapkan beberapa penampilan istimewa, di antaranya pembacaan puisi Bung Karno disampaikan dengan gaya Bali oleh Putu Suastini Koster, menari dan bernyanyi yang ditampilkan oleh anak, menantu dan cucu-cucunya.  Tiup lilin dan pemotongan kue sebagai acara inti dalam perayaan peringatan perkawinan ke-50 Ketut  Rindjin dan Dayu Astini. Di ulang tahun perkawinan emasnya Rindjin berharap selalu diberikan kesehatan dan keharmonisan dalam keluarga. Di tengah banyaknya kasus perceraian yang ada di masyarakat, Rindjin ingin menunjukkan bahwa mempertahankan pernikahan selama 50 tahun bukan perkara mudah.  “Semoga Hyang Widhi selalu melindungi kita semua,” tandasnya.  -win

 

 

 

To Top