Metropolitan

Geliat Batik Betawi

Siti Laela

Bicara batik, orang pasti akan menyebut Solo, Yogyakarta, Jawa Tengah, karena memang sejak zaman dulu kala daerah-daerah tersebut terkenal akan batiknya. Tidak ada yang pernah menyebut Jakarta. Padahal, Jakarta pun memiliki batik khas, sayangnya kurang dikenal oleh kebanyakan orang, termasuk warga Jakarta sendiri.

Batik Jakarta atau batik khas Betawi memiliki sejarah panjang yang sayangnya  jarang terpublikasi. Konon batik Betawi telah ada sejak masa penjajahan Belanda di Batavia dibawa oleh pembatik-pembatik  Jawa. Batik-batik luar Betawi ini kemudian berasimilasi dengan budaya  berbagai etnis dan bangsa yang telah lebih dahulu berdiam di Batavia sehingga akhirnya melahirkan batik dengan motif berbeda. Batik tersebut disebut batik Betawi yang bernuansa campuran lokal, Jawa, Tionghoa, Arab, dan Eropa.

Seiring dengan kemajuan jaman dan perkembangan Jakarta, batik Betawi yang dulu sangat populer pun perlahan hilang. Bukan hanya etnis Betawi saja yang ‘terpaksa’ minggir ke pinggiran Jakarta tapi batik Betawi pun semakin langka di pasaran.Upaya sebagian pihak termasuk Pemda DKI Jakarta mengangkat kembali batik Betawi seolah hanya ‘setengah hati’ sehingga tidak bergema. Walhasil, Jakarta saat ini justru menjadi ‘etalase’ bagi batik dan kain dari berbagai daerah, sementara batik Betawi terpinggirkan di ‘rumah sendiri’.

Kenyataan itu juga diamini oleh Siti Laela, pendiri Kampung Batik Terogong. ”Dulu ketika saya kecil, masih melihat para perajin beramai-ramai membatik. Namun kemudian lama-lama menghilang karena sentra batik pada masa itu di sekitar Palmerah, Karet, hingga Tanah Abang tutup. Para pembatik banyak yang pindah ke luar Jakarta. Sejak itu batik Betawi makin langka. Sekitar akhir tahun 1960-an atau awal tahun 1970-an, batik Betawi langka di pasaran,” ujar Siti.

Siti yang mengaku berasal dari keluarga pembatik merasa prihatin dengan kondisi itu. Apalagi pada masa itu dirasakannya perhatian pemerintah sangat kurang.  Sekitar tahun 2010, gerakan mengangkat kembali batik Betawi mulai terdengar meski sayup-sayup. Ketika ada tawaran pelatihan membatik, Siti dan saudaranya pun ikut serta. Itulah awal dari keinginannya untuk menghidupkan kembali batik Betawi.

“Saya dan keluarga besar sangat prihatin dengan kondisi itu yang jika dibiarkan bisa-bisa batik Betawi benar-benar punah. Akhirnya saya bersama beberapa saudara sepakat untuk mengangkat kembali batik Betawi. Kebetulan juga ada program dari Pemda DKI Jakarta yang bekerjasama dengan Lembaga Kebudayaan Betawi untuk pelestarian batik Betawi. Itulah yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Kampung Batik Terogong,” papar Siti yang bersama enam saudaranya patungan untuk menjalankan bisnis kain batik motif Betawi pada 2012.

“Jadi adanya Kampung  Batik Terogong bukan sekadar bisnis semata namun juga upaya pelestarian batik Betawi agar tidak punah dimakan zaman. Impian kami batik Betawi bisa berjaya lagi seperti dulu atau setidaknya sama terkenalnya dengan batik-batik lain yang ada di Jakarta,” ucapnya.

Keberadaan Kampung Batik Terogong (sesuai dengan nama jalan di mana kampung batik itu ada) ini cukup unik. Kampung ini berada di kawasan elite Cilandak Barat, berdekatan dengan rumah-rumah mewah serta gedung-gedung megah. Tak jauh dari Terogong, adalah pusat perbelanjaan mewah Pondok Indah  Mall (PIM) dan sekolah Jakarta Internasional School.

Batik Betawi, tutur Siti, bukan hanya memiliki motif yang khas tapi warna-warnanya pun lebih cerah atau lebih ‘jreg’ dibanding batik lain. Warna merah, kuning, hijau dan warna-warna cerah lainnya dominan di batik Betawi. Motifnya pun khas, semisal menggambarkan tentang Jakarta dan kehidupannya, ikon-ikon Jakarta, budaya Betawi,dll. “Seperti gambar ondel-ondel yang paling digemari, Monas, kehidupan di Ciliwung, dll. Motif-motif yang ada sejak dahulu, ditambah dengan motif-motif yang berkembang, sehingga boleh dibilang motif batik Betawi cukup kaya,” ujarnya.

MOTIF ANDALAN ‘TABUR MENGKUDU’

Batik Terogong sendiri, ujarnya, selain mengangkat motif-motif Betawi yang sudah ada, mengembangkan juga memiliki ciri khas sendiri. Misalnya motif ‘tabur mengkudu’. Pohon mengkudu sendiri dulunya  banyak terdapat di kawasan Terogong. “Tabur mengkudu juga punya makna tersendiri yakni ‘tekun dan sabar memang kudu’. Itu juga prinsip kerja kami,” ucapnya.

Perjuangan mengangkat kembali kepopuleran batik Betawi memang masih panjang. Jalan mewujudkan impian  pun tidak mudah  karena batik-batik asal Jawa sudah lebih dahulu eksis di Jakarta. Namun dirinya serta para pembatik yang ada di Terogong tak berkecil hati. Mereka tetap semangat untuk terus berkarya. Sekarang saja, ujarnya, perkembangannya mulai terasa karena semakin banyak pihak peduli pada batik Betawi.

Kampung Batik Terogong makin banyak mendapat kunjungan wisatawan baik dari dalam maupun dari luar negeri. Mereka bukan hanya melihat-lihat proses pembuatan batik tapi juga membeli, bahkan di antaranya juga ikut belajar cara membatik di sanggar yang ada.

“Banyak wisatawan dari mancanegara datang seperti Jepang, Australia, Amerika,  dll.  Wisatawan dari dalam negeri juga banyak, begitu juga anak-anak sekolah,” katanya. Prinsipnya, pihaknya menyebarkan kegemaran membatik Betawi kepada semua orang.

Selain itu, tambahnya, pihak-pihak yang mau bekerja sama dengan Kampung Batik Terogong pun semakin meningkat. “Kami juga rajin pameran di berbagai tempat juga melakukan pemasaran lewat mal-mal juga online. Jadi edukasi dan bisnis bisa berjalan bersama,” katanya.

Batik Betawi yang diproduksi di tempatnya adalah batik tulis juga batik cap. Tidak ada batik printing sebagaimana batik-batik dari daerah lain. Untuk batik tulis dan cap, harganya cukup lumayan karena pengerjaannya pun memerlukan waktu yang tidak sebentar, khususnya batik tulis yang pengerjaannya bisa berminggu-minggu bahkan sebulan. “Harga batik tergantung dari bahannya (kain), kerumitan motif dan lamanya pengerjaan,” ujar Siti.

KAMPUNG BATIK PALBATU YANG UNIK

Sebenarnya di Jakarta ada juga kampung batik Betawi lainnya yakni di Palbatu yang terletak di kawasan Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan. Palbatu adalah nama jalan di mana kampung batik tersebut berada. Keberadaan Kampung Batik Palbatu ini telah lebih dahulu ada dibanding Kampung Batik Terogong.

Kampung Batik Palbatu juga terbilang unik karena begitu kita memasuki kawasan Palbatu kita akan langsung menjumpai tembok-tembok rumah warga, bahkan di gang-gang kecil, dihiasi dengan aneka motif batik warna-warni. Di sana juga ada sanggar serta galeri-galeri batik yang menjual batik-batik karya warga setempat. Seperti halnya Terogong, Kampung Batik Palbatu pun banyak mendapat kunjungan wisatawan dari dalam maupun luar negeri.

Pengakuan warga setempat, Kampung Batik Palbatu mulai hadir sekitar tahun 2011. Untuk bisa tampil seperti sekarang, dimana seluruh warga mendukung penuh dan bersedia tembok rumahnya digambar motif batik, tidaklah mudah. Dulu itu di awal-awal sempat pro-kontra. Tapi lama kelamaan semuanya balik mendukung karena melihat hasilnya bagus. Terlebih lagi membatik memberi dampak sangat positif.

“Salah satunya adalah memberdayakan masyarakat, khususnya para ibu warga Palbatu untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Ya dari pada waktu senggang hanya dihabiskan untuk ngerumpi atau tidur-tiduran, nonton tv, lebih baik berkarya yang menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,” ungkap Fatimah yang mengaku telah aktif membatik sejak Kampung Batik Palbatu berdiri.

Tentang eksistensi batik di Jakarta sejak jaman dahulu juga dituturkan oleh Ridwan Saidi, budayawan Betawi. Dikutip dari situs resmi Pemprov DKI Jakarta www.jakarta.go.id  ia mengatakan, pada akhir abad XIX batik menjadi bahan pakaian paling populer di kalangan masyarakat Betawi, terutama di wilayah budaya Betawi tengah. Kala itu di lingkungan kaum pria Betawi, celana batik bersaing populer dengan sarung batik corak plekat yang diilhami corak pakaian tradisional Skotlandia.

Yahya Andi Saputra, tokoh Betawi menyebut, setidaknya ada 10-15 motif batik Betawi asli yang berbeda dengan batik pesisir lain. Seperti motif batik tiga negeri, batik buket atau flora seperti yang dikembangkan masyarakat keturunan Tionghoa dan Indo yakni batik pagi sore, batik seser hujar dan batik ler Ciliwung. Sayangnya motif-motif lawas ini sebagian sudah langka, termasuk motif bambu kuning yang dulu sempat populer.

Motif pucuk rebung juga paling populer pada masa lalu, motif tersebut dianggap memiliki akar budaya Betawi yang kental. Motif ini merupakan campuran dari budaya Tionghoa, Arab, Jawa juga Eropa. “Sentra batik berada di kawasan Tanah Abang, Karet Tengsin, Karet Semanggi, Bendungan Ilir, Bendungan Udik, Sukabumi Ilir, Palmerah, Petunduan, Kebayoran Lama, Mampang Prapatan dan Tebet,” jelas Yahya. (Diana Runtu)

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Paling Populer

To Top