Kolom

Semangat Kepahlawanan dalam Konteks Kekinian

Memaknai semangat kepahlawanan dapat dimulai dari pertanyaan mendasar tentang apa itu semangat kepahlawanan, mengapa semangat kepahlawanan muncul, dan bagaimana mewujudkan serta mempertahankan semangat kepahlawanan dalam diri bangsa Indonesia.

Semangat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didefinisikan sebagai seluruh kehidupan batin manusia; perasaan hati; kemauan, gairah untuk bekerja, berjuang dan sebagainya. Dalam konteks yang lebih luas semangat menandakan suatu keinginan batin yang kuat untuk merealisasikan ide serta tujuan yang diharapkan. Ketika seorang petani menggarap sawahnya tanpa memperdulikan teriknya matahari itu adalah semangat. Ketika seorang atlet tanpa kenal lelah terus berlatih untuk mencapai target yang diharapkan maka itu adalah semangat. Saat para pejuang bangsa rela mengorbankan jiwa dan raga untuk merebut kemerdekaan bangsa maka itu disebut semangat. Sedangkan kepahlawanan diartikan sebagai perihal sifat pahlawan, seperti keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban, dan pantang menyerah.

Lalu mengapa semangat kepahlawanan muncul? Bila kita mengingat kembali sejarah bangsa ini, sesungguhnya yang membuat para pejuang pada masanya rela mengorbankan nyawa tidak lain karena sebuah tujuan. Tujuan untuk membuat Indonesia menjadi negara yang dapat memproklamirkan kemerdekaannya dengan lantang kepada dunia, tujuan untuk memerdekakan seluruh rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan. Sebagaimana diungkapkan oleh Bung Karno bahwa, kemerdekaan Indonesia itu hanyalah jembatan emas untuk menyempurnakan masyarakat. Di seberang jembatan emas itu, ujar Bung Karno, kita akan menyelenggarakan masyarakat adil dan sempurna, yang di dalamnya tidak ada lagi penghisapan dan penindasan. Inilah yang selanjutnya menjadi lokomotif dari sejarah panjang semangat kepahlawanan bangsa Indonesia.

Untuk mewujudkan dan mempertahankan semangat kepahlawanan di masa kini, sebenarnya bukanlah hal yang sulit untuk direalisasikan. Generasi penerus bangsa haruslah memiliki tujuan hidup yang kuat. Memiliki ide yang luhur untuk menjaga estafet kemerdekaan bangsa Indonesia. Bung Karno pernah berpesan, “selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk maka pekerjaan kita belumlah usai.” Artinya, selama masih ada rakyat kita yang tertindas, ide yang diperjuangkan oleh para pahlawan belumlah sepenuhnya tercapai. Dengan demikian, mewarisi semangat kepahlawanan berarti melanjutkan memperjuangkan sebuah ide. Perjuangan tentang ide masa depan masyarakat yang lebih baik masih terus berlangsung.

Memaknai semangat kepahlawanan di masa kini tidak hanya sebatas melibatkan diri dalam peperangan. Kepahlawanan harus dimaknai sebagai mereka yang memperjuangkan ide-ide tentang masyarakat yang lebih baik, berjuang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, entah dalam bentuk mengerjakan apapun dengan tekun dan sepenuh hati, memiliki rasa tanggung jawab dan kepedulian terhadap sesama, ataupun belajar giat untuk mendapat prestasi. Dengan demikian, orang bisa menjalankan semangat kepahlawanan kapanpun dan dimanapun ia bekerja menjalankan profesinya. Semangat kepahlawanan di masa kini juga dapat diwujudkan dengan menjaga NKRI dari berbagai ancaman, tantangan, baik internal maupun eksternal yang merongrong persatuan dan kesatuan bangsa. Salah satu cara adalah dengan tidak mudah terprovokasi oleh berbagai isu SARA yang sengaja disebarluaskan oleh oknum-oknum tidak bertanggungjawab.

Indonesia saat ini tidak membutuhkan generasi pemalas, generasi yang mudah terpengaruh dampak negatif globalisasi, dan tidak mengindahkan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai philosophische Grondslag (filsafat dasar bangsa Indonesia). Jadilah generasi muda yang memiliki jiwa nasionalis, religius, semangat tinggi, dan generasi muda yang berani mengemukakan pendapat, berani bertindak, serta berani bertanggung jawab. Semangat kepahlawanan di masa kini melekat pada mereka yang dengan berani memperjuangkan sebuah tujuan untuk kepentingan yang lebih luas. Sekecil apapun tindakan yang kita lakukan, apabila didasari atas semangat kepahlawanan maka tindakan-tindakan kecil tersebut apabila digabungkan dengan 257,912 juta penduduk Indonesia tentu akan mampu mengubah dunia dan membawa Indonesia pada cita-cita dan tujuan yang diharapkan.

 

Ratna Artha Windari, S.H., M.H.

Ketua Jurusan Ilmu Hukum, FHIS Undiksha

To Top