Kolom

NKRI 72

Bagaimana cara merayakan HUT proklamasi yang ke-72? Tentu dengan mengibarkan sang saka dwi warna. Tapi menurut Amat itu tidak kreatif.
“Kita sudah terlalu lama terjebak pada sekadar upacara tok! Sekarang harus ada terobosan kerja nyata!”
“Misalnya?”
“Bakti sosial!”
“Misalnya?”
“Tidak perlu misalnya! Masing-masing bebas mencari ide, berkreasi sendiri. Tapi lakukan yang belum dilakukan orang lain!”
“Misalnya?”
“Ya misalnya membersihkan saluran air yang bikin banjir tiap kali turun hujan!”
Bu Amat mencibir.
Ah, itu dari dulu sudah biasa dilakukan. Hasilnya malah selokan tambah rusak karena warga tidak biasa kerja kasar. Lebih baik renovasi selokan diserakan pada tukang ahlinya. Di sini kan banyak tukang. Serahkan pada mereka lebih murah lebih tokcer. Betul tidak?”
Amat terdiam.
“Jangan karena saya perempuan dianggap tak tahu strategi. jangan asal beraksi. Nanti bau terasi. Pikirkan ide yang tepat, mudah dikerjakan, banyak manfaatnya dan gampang diikutin warga. Tapi murah dan terjamin berguna!”
“Misalnya?”
“Kumpulkan barang-barang bekas dari semua warga, lalu tawarkan kepada warga lain yang perlu atau masih perlu memanfaatkannya!”
“Misalnya?”
“Ya, seperti akuarium kita. itu dulu milik kesayangan Pak Alit. Waktu mereka beli akuarium baru, akuarium lama mau dibuang, untung kita datang dan sekarang akuarium itu jadi pajangan keren di rumah kita!”
“Tapi itu ide klise! Sudah pernah kita coba dan hasilnya nol besar. Sebab akuarium afkiran Pak Alit itu karena kita rawat jadi lebih bagus dari punya dia yang baru itu. Sejak itu tak ada orang yang mau membuang barang bekasnya. Dus itu  ide jelek! Lebih baik kita mengaktifkan lagi tradisi ronda malam!”
“Kenapa?”
“Karena banyaknya sekarang  kasus terorisme, radikalisme yang tidak semuianya bisa diatasi yang berwajib. Apalagi sasarannya sekarang mereka! Kan sudah diserukan soal keamanan masyarakat jangan hanya tergantung dari yang berwajib. Masalah kenyamanan dan keamanan harus juga jadi tanggung-jawab anggota masyarakat membantu yang berwajib!”
Lho bukannya Bapak sendiri dulu yang menentang soal giliran ronda itu, karena prakteknya tidak jalan, sebab kita sudah punya satpam yang kita bayar tiap bulan. Karena kita ikut ronda mereka jadi malas. makanya tradisi ronda yang bikin semua orang sakit itu dihentikan. Dan itu juga usul Bapak, kan?”
“Memang! Itu kan hanya contoh. Cari ide yang lain! Yang lebih segar!”
“Misalnya?”
“Ya, misalnya kita adakan pertemuan besar warga untuk membicarakan bagaimana caranya memberantas korupsi dan mencegah peredaran narkoba! Untuk ikut menyumbangkan pikiran memperbaiki masyarakat kita yang sakit!”
“Apa di hunian kita ada ini ada yang korupsi dan ada yang sudah kecanduan narkoba dan berpraktek korupsi?”
“Tidak ada! Makanya kita cegah supaya tetap tidak ada dengan mengundang mantan narkobais dan mantan koruptor untuk ceramah menunjukkan bahayanya korupsi dan narkoba! Pasti akan rame!”
“Tapi bagaimana kalau ceramah itu malah memberi inspirasi kepada warga untuk korupsi, sebab meskipun dihukum, hasil korupsinya masih tersisa banyak yang membuat orang akan mencoba menirunya? Apalagi meminta mantan narkobais ceramah, pasti anak-anak muda kita bisa jadi kepingin coba-coba! Ya kan?”
Amat tertawa.
“Ya, bisa saja. Tapi itu kan hanya contoh saja! Pokoknya kita cari ide yang segar untuk merayakan HUT Proklamasi. Jangan hanya terjebak seremoni yang itu-itu saja. Bete!”
“Boleh. Tapi apa misalnya?”
Amat terdiam.
“Yang murah tapi meriah!”
Amat masih diam.
“Yang gampang tapi mendalam?”
Amat berpikir.
“Tidak ada?”
Amat menghela nafas dalam lalu menjawab mantap:
“Ada!!”
“Apa, Pak?”
“Mengibarkan sang saka dwi warna!”

To Top