Bunda & Ananda

Tanamkan Nilai Sportivitas pada Anak

Ni Gusti Ketut Diana Setiawati, M.Psi.

Dalam setiap lomba/kompetisi, pasti ada kalah-menang. Seringkali dalam lomba, khususnya yang diikuti anak-anak, justru orangtuanya yang kurang sportif. Entah itu mengintimidasi anaknya, berbuat curang, seperti memalsukan data anak (sebenarnya SD tapi dimasukkan TK), bahkan sampai menyogok juri, demi anaknya menang. Singkatnya, orangtua sulit menerima kekalahan anaknya dan belum bisa menerima dengan lapang dada terhadap kemenangan anak lain.

Fenomena ini dikatakan Ni Gusti Ketut Diana Setiawati, M.Psi., Psikolog, menunjukkan adanya sikap yang tidak sportif dalam menanggapi sesuatu pada orangtua. “Bila seorang anak mempunyai orangtua yang hanya peduli pada kemenangan, maka sang anak akan menangkap pesan-pesan bahwa ia boleh melakukan apapun asalkan menang,” ujarnya.

Dini, seorang ibu di Denpasar yang dulu kerap mengikutkan putra-putrinya juga mengakui hal tersebut kerap ditemuinya dalam ajang-ajang kompetisi. Ia berpendapat bahwa orangtualah yang seharusnya belajar untuk sportif. Dalam ajang-ajang lomba khususnya lomba untuk anak mulai usia 0 tahun sampai SD, orangtualah yang banyak berperan. Mulai dari mencari info lomba, mendaftarkan anak, sampai saat perlombaan berlangsung.

Ia menekankan dalam hal ini mood anak harus benar-benar dijaga, karena anak tak selalu mood nya baik. Kedua, mengajarkan anak untuk bisa menerima kemenangan juga kekalahan. Dengan mengikuti lomba, kata Dini, anak juga belajar disiplin, disiplin waktu juga disiplin mengikuti aturan yang diterapkan.

Psikolog Diana menjelaskan, sikap sportif menunjuk pada sikap menghormati aturan, teman dan lawan atau orang lain.  Hal ini juga menuntut  adanya kejujuran untuk tidak melanggar aturan serta mengakui kelebihan dan  keunggulan orang lain dengan lapang dada.  “Apabila anak terbiasa bersikap sportif, maka anak akan bersikap sportif dalam semua aspek kehidupannya,” imbuh Psikolog Klinis RS Jiwa Provinsi Bali ini.

Dengan menanamkan nilai sportivitas pada anak, ada beberapa hal yang didapatkan anak. Pertama, anak akan lebih dapat menghargai kebaikan dan keberhasilan orang lain. Kedua, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, tidak mudah stres saat menemui kegagalan atau kekalahan. Ketiga, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang pandai mengevaluasi diri dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Keempat, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang mudah beradaptasi dalam pergaulan. Kelima, anak akan tumbuh sebagai pribadi yang memahami pentingnya cara-cara yang baik dalam memperoleh keberhasilan.

Sebaliknya anak-anak yang tidak dikenalkan dengan nilai sportivitas akan sulit menerima kekalahan sehingga mudah tertekan, menarik diri dan rendah diri.  Anak juga menjadi sulit untuk mengakui kesalahan dan cenderung menyalahkan orang lain dan berbuat kecurangan.  Karena itulah mengajarkan nilai sportivitas sangat penting bagi anak.

Dalam mengajarkan sportivitas pada anak perlu diingat bahwa sikap lebih berhasil daripada kata-kata.  Karena itu orangtua harus memberi contoh dalam kehidupan sehari-hari agar anak hidup di lingkungan yang sportif.  Contoh dan keleteladanan orangtua menjadi tonggak utama dalam menanamkan nilai sportivitas pada anak.  Pembiasaan diri bersikap sportif ditunjukkan melalui pergaulan sehari-hari di lingkungan keluarga.

Upaya yang bisa ditempuh untuk mengajarkan nilai sportivitas pada anak adalah, anatara lain :

  • Buat aturan-aturan yang disepakati untuk melakukan sesuatu. Ajak anak untuk membuat konsekuensi bila aturan yang sudah disepakati dilanggar.  Konsekuensi ini penting agar anak belajar berpikir sebelum bertindak dan konsisten terhadap kesepakatan yang telah dibuat bersama
  • Uji sportivitas anak dengan mengajak berkompetisi, bisa dengan mengikuti perlombaan atau lainnya. Motivasi anak bahwa yang utama adalah prosesnya bukan hasilnya.  Bukan masalah menang atau kalah tapi bagaimana anak mau melalui proses perlombaan dengan jujur dan menerima hasilnya dengan lapang dada.
  • Berikan dukungan dengan memberikan kalimat-kalimat posistif sebagai apresiasi saat anak bersikap sportif dalam berbagi situasi, baik keberhasilan maupun kegagalan mereka. Hargai apa yang sudah mereka upayakan untuk berprestasi.
  • Berikan contoh pada anak bahwa orangtua juga selalu sportif. Konsisten dan tegas dalam aturan yang telah disepakati dalam keseharian.   Bila orangtua tidak konsisten terhadap aturan, maka anak-anak pun akan dengan mudah melanggar aturan yang dibuat.  Tegas untuk menyatakan kepada anak apabila yang diperbuatnya salah dan bagaimana seharusnya, serta apresiasi bila anak sudah berbuat baik

Ketika sikap sportif ini sudah tertanam kuat pada anak, maka ia akan tumbuh menjadi orang yang tahan banting, kuat untuk menerima tantangan dan memiliki ketahanan saat menemui kegagalan.

Sebuah kompeti/perlombaan dikatakan Diana dapat dijadikan sarana motivasi bagi anak untuk berkreasi, berprestasi sekaligus sebagai kesempatan untuk mengukur kemampuan anak dibandingkan anak lain.  Ajang ini bisa dimanfaatkan menjadi sarana edukasi positif bagi anak untuk mengajarkan sportivitas.

 

Orangtua perlu selalu mengingatkan bahwa perlombaan bukan berati hasil akhir saja.  Orangtua perlu menanamkan pengertian pada anak bahwa lomba merupakan sarana pembelajaran.  Menang atau kalah bukanlah tujuan utama.  Kekalahan dan kegagalan merupakan bagian dari proses belajar dan konsekuensi yang perlu ditanggung jika anak ikut perlombaan.  Hagai apa yang telah mereka upayakan untuk berprestasi.  BIarkan mereka senantiasa memiliki pertanyaan “apakah aku sudah melakukan yang tebaik?” atau “apa yang bisa kulakukan”.

 

Bila anak menang, maka orangtua tidak perlu membesar-besarkan kemenangan tersebut.  Lakukan penekanan pada sisi kebersamaan dan kesenangan saat berlomba dibandingkan sekedar menang atau kalah.

Bila anak kalah, berilah pemahaman bahwa kekalahan bukan sesuatu yang buruk.  Kekalahan adalah penyemangat agar lain waktu anak perlu berusaha dn berlatih lebih baik lagi.  Hargai setiap upaya maupun pencapaiannya.  Hindari untuk memarahi anak, tunjukkan bahwa apapun hasil lombanya tidak akan mempengaruhi rasa sayang kita pada anak.  (Inten Indrawati)

To Top