Kolom

HOAX

Selvi, pacar Bagus, mencak-mencak di rumah Ami. Ia mengaku sudah membaca hoax di FB. Orang menempuh berbagai cara agar bisa jadi caleg. Misalnya dengan menarik perhatian masyarakat, melaporkan orang-orang yang terlibat narkoba.
“Tapi pacar saya, bukan narkobais! Kebetulan saja sial. Ada temannya yang nakal menyelipkan lintingan rokok gelek di backpack-nya. Itu dipakai alasan lapor ke polisi. Sekarang dia diungsikan ke tempat rehabilitasi yang  tidak bisa dihubungi!”
Ami hanya memasukkan curhat itu di telinga kiri dan keluar di telinga kanan. Tetapi begitu nama bapaknya disebut-sebut, ia mulai fokus.
“Amat? Amat siapa? Itu nama bapak saya?”
Selvi mengangguk.
“Maaf, itu memang bapakmu. Itu sebabnya aku ke sini. Masak bapakmu itu tega-teganya mengadukan Bagus ke polisi. Rumahnya langsung digeledah. Ya, terang saja  tidak menemukan apa-apa. Hanya orangtua Bagus senewen. Dia menuduh Bagus beneran terjerumus narkotika gara-gara  aku. Bagus dikirim ke rehabilitasi dan harus memutuskan hubungan kami!”
Ami terkejut. Ia langsung mengunjungi orangtuanya. Kebetulan Amat lagi keluar rumah. Ami langsung merongrong ibunya.
“Kenapa Ibu biarkan, Bapak melaporkan Bagus ke polisi? Emang Bapak beneran mau jadi caleg?”
Bu Amat heran, kenapa berita itu begitu cepat bisa sampai ke Ami. Siapa yang sudah membocorkannya?
“Kata siapa itu, Ami?”
“Ada di FB!”
“Apa katanya?”
“Kata Selvi, Pak Amat melaporkan tetangganya yang tidak bersalah sudah jadi pengedar narkotika, hanya karena ingin dapat publisitas biar jalannya mulus jadi caleg! Begitu menurut Selvi.”
“Siapa Selvi?”
“Pacarnya Bagus.”
“Selvi siapa? Janda yang baru saya menceraikan suaminya yang dikirim KPK ke penjara itu?”
“Ya.”
Kok kamu berteman dengan perempuan seperti itu?”
“Sebetulnya Ami juga baru kenal. Dia nyamperin Ami ke rumah, ketika tahu Ami ini anak Bapak.”
Bu Amat langsung mengindoktrinasi Ami.
“Ami, jangan sembarangan percaya kepada orang. Kamu kan tahu sendiri di televisi ramai dibicarakan hoax-hoax yang ada di FB itu. Kamu kok percaya sama Selvi. Pasti memang dia yang sudah menyeret Bagus. Anak itu kan sebenarnya sopan, pinter dan hormat pada orang tuanya. Tapi sejak pacaran dengan janda itu, jadi berubah. Masak dia memaki orangtuanya: anjing?”
Ami terkejut.
“Masak?”
“Ya! Anjing kata Bu Alit. Berkali-kali dan telak-telakan lagi. Tapi waktu bapakmu mancing-mancing  bercanda, menyebut dia anjing, Bagus langsung memukul!”
“Oya? Memukul Bapak?”
“Ya! Memukul Bapakmu! Langsung ditepis Bapak sampai dia kesakitan lantas Pak Alit datang melerai?”
“Jadi karena itu Bapak melaporkan Bagus ke polisi?”
“Bukan! Tapi ini panjang ceritanya.”
“Tak apa, ibu cerita saja.”
Bu Amat menarik nafas panjang. Lalu mencoba menceritakan apa yang sudah terjadi. Tapi sedikit direkayasa, supaya Ami lebih jelas mengertikan.
“Begini. Pak Alit, ayahnya Bagus, takut sekali putranya ditangkap polisi, sebab beliau ingin jadi caleg.”
“O, jadi yang ingin jadi caleg Pak Alit, to?”
“Dengerin dulu Ibu. Pak Alit minta Bapakmu melaporkan Bagus ke polisi, tapi sesudah dia terlebih dahulu membersihkan rumah. Jadi waktu polisi menggeledah rumah, nama Bagus bersih. Tapi Bagus sendiri jadi ketakutan dan menurut waktu dikirim ke tempat rehabilitasi sehingga putus dengan janda itu!”
“O, begitu?”
“Ya! Bapakmu dasar orangnya baik, untuk menolong mau-mau saja. Yang sudah main politik itu Pak Alit! Dasar calon caleg!”
Ami manggut-manggut kagum. Waktu itu, sebetulnya Amat sudah datang. Tapi begitu masuk rumah dari pintu samping, ia dengar ada pembicaraan serius Ami dan ibunya. Amat terpaksa berhenti dan mundur selangkah, nguping.
“Jadi, Bapak itu justru mau menyelamatkan Bagus dan menjaga nama Pak Alit?”
“Memang!”
“Kenapa? Bapak tahu tidak,  ada hoax yang menjelek-jelekan namanya?”
Ah, Ami, bapakmu itu kepribadiannya bukan saja luhur tapi kuat. Bagi dia, kalau memang orang baik dijelek-jelekkan bagaimana juga, akan tetap baik dan malah tambah baik!”
“Wah hebat sekali, pantesan dulu Ibu jatuh cinta sama Bapak!”
“Bukan hanya dulu, sekarang juga!”
Amat, tidak bisa lagi sembunyi. Istrinya pasti sudah tahu dia sedang nguping. Amat lalu pura-pura baru masuk dan berseru.
Kok ada motor Ami di depan? Ada Ami ya? Amiiii!”

To Top