Buleleng

Buleleng Digagas Jadi Kawasan Sukarno Heritage

Pembahasan Promosi Sukarno Heritage antara Wabup Sutjidra dengan keluarga besar Bale Agung di Ruang Rapat Lobi Kantor Bupati Buleleng, Senin (247).

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Begitu banyak sejarah-sejarah penting yang pernah terjadi di Nusantara yang tetap bisa diyakini dan dipercaya melalui sebuah buku catatan sejarah maupun situs-situs peninggalan sejarah. Tentu, upaya ini dilakukan untuk tetap mengenalkan dan mendekatkan peristiwa sejarah serta perjuangan pahlawan kepada generasi muda.

Buleleng menjadi salah satu wilayah yang menyimpan banyak perjalanan sejarah penting di Indonesia. Betapa tidak, di Buleleng merupakan saksi kisah perjalanan cinta Nyoman Rai Srimben dan Raden Soekemi Sosrodiharjo. Kisah cinta mereka melahirkan seorang anak laki-laki yang memiliki peran penting dalam kemerdekaan Indonesia. Presiden pertama Indonesia, Sukarno lahir dari rahim seorang perempuan Bali, Nyoman Rai Srimben yang berasal dari Bale Agung, Singaraja.

Hingga saat ini, kawasan-kawasan yang berkaitan dengan latarbelakang kehidupan Sukarno masih sangat djaga dan dilestarikan. Bahkan Pemkab Buleleng berencana menggagas kawasan tersebut menjadi kawasan Promosi Sukarno Heritage dan akan dipromosikan menjadi cagar budaya dan pariwisata Buleleng. Rencana tersebut telah dibicarakan dengan keluarga besar Bale Agung di Ruang Rapat Lobi Kantor Bupati Buleleng, Senin (24/7). Bahkan dari pembicaraan tersebut pihak pemkab dan keluarga Bale Agung juga telah memperoleh kesepahaman.

Rencana Pemkab Buleleng disampaikan langsung oleh  Wabup Sutjidra, kawasan yang digagas Bupati Agus Suradnyana ini dimulai dari Ruang Terbuka Hijau (RTH) Sukasada yang nantinya diberi nama Taman Bung Karno hingga Kantor Bupati Buleleng yang sempat dijadikan Istana Kepresidenan oleh Sukarno dan Rumah Ibunda Sukarno, Rai Srimben di lingkungan Bale Agung. Situs-situs ini nantinya akan terus dilestarikan di Kabupaten Buleleng. “Hal ini merupakan suatu upaya untuk melestarikan situs sejarah dimana di Buleleng dikenal sebagai tempat lahirnya Ibunda dari Bung Karno,” jelasnya.

Hal ini juga sebagai salah satu upaya Pemkab untuk mendekatkan sejarah kepada masyarakat utamanya masyarakat Buleleng.  Persiapan pencanangan kawasan promosi ini juga sudah disinergikan dengan kegiatan internasional yang akan diselenggarakan oleh Undiksha yaitu Simposium Internasional Teknologi Nuklir dalam rangka Hari Teknologi Nasional yang rencananya berlangsung dari tanggal 10 sampai dengan 11 Agustus 2017 yang dihadiri oleh 300 delegasi dari 14 negara. Simposium ini juga akan berdampak pada Kabupaten Buleleng karena akan ada perjanjian-perjanjian kerjasama yang akan ditandatangani terutama mengenai pemanfaatan teknologi nuklir. “Simposium akan dibuka oleh anggota Wantimpres, Prof. Sidarto Danusubroto dan rencananya ditutup oleh Menko PMK, Puan Maharani sekaligus mencanangkan langsung Kawasan Promosi Sukarno Heritage ini,” ujar Wabup Sutjidra.

Sementara itu, salah satu Penglingsir Bale Agung yang juga mengikuti rapat koordinasi, Made Hardika menyatakan pihak Bale Agung sangat mendukung Bale Agung dijadikan objek wisata sejarah. Namun, ada hal-hal yang perlu dijelaskan secara detail oleh pihak pemerintah jika nantinya Bale Agung ditingkatkan menjadi cagar budaya. Hal-hal detail yang harus didiskusikan terus oleh pihak pemerintah dan pihak Bale Agung sehingga jelas apa yang akan menjadi hak dan kewajiban Bale Agung setelah menjadi cagar budaya. “Saya rasa sebagai penglingsir di Bale Agung sangat mendukung gagasan Bapak Bupati ini. Namun, jika nantinya diajukan sebagai cagar budaya kami memerlukan penjelasan yang detail apa yang tidak boleh dan boleh kami lakukan,” ungkapnya.

Dirinya menambahkan kondisi Bale Agung yang merupakan asal dari orang tua Rai Srimben dan Rai Srimben sendiri, seiring dengan perubahan sosial banyak mengalami perubahan. Tapi, ada beberapa bagian masih tetap dan belum mengalami perubahan. Dari bangunan yang belum berubah tersebut diantaranya deretan lumbung padi, tempat persembahyangan, beberapa pintu dan rumah dari ayahnya Rai Srimben. “Ada yang berubah seiring perkembangan jaman dan perubahan sosial. Namun ada pula beberapa bagian yang masih seperti semula,” tandas Made Hardika. (Wiwin Meliana)

 

To Top