Life Story

Ingin Anak-anak lebih Baik

Matanya masih sembab ketika ia ikut terlibat memasak bersama warga di desa tempatnya tinggal. Semalaman Irena (50) menangisi nasib yang menimpanya. Ia memiliki tiga orang anak, dua perempuan dan satu laki-laki. Di kampungnya di salah satu kecamatan di Pulau Sumbawa, Irena dan suaminya dikenal  sebagai warga yang baik. Hidup rukun dan mau berbaur dengan warga. Mereka jarang absen dalam kerja-kerja gotong royong di kampungnya. Kehidupan mereka pun dikenal baik-baik saja. Secara umum, anak-anak mereka jarang terlihat keluar rumah. Mereka lebih banyak tinggal di dalam rumah. Namun, siapa sangka semua itu tidak seperti yang terlihat.

Satu hal yang membuat para tetangganya tidak habis pikir dengan apa yang mereka alami. Rata-rata dari ketiga anaknya itu tidak berhasil baik. “Anak pertamanya yang perempuan ‘nakal’, lalu yang kedua merebut suami orang dan yang ketiga laki-laki tidak sukses kuliahnya karena lebih banyak menghambur-hamburkan uang. Sekarang pulang ke rumah, kuliahnya berantakan,” kata Tata, sepupu Irena. Tata sangat prihatin pada kehidupan sepupunya itu.

Yang terakhir adalah putri keduanya yang dikabarkan kawin lari dengan suami orang. Kabar itu. diperoleh kemarin pagi. “Itu yang membuat Irena menangis sepanjang hari,” ujar Tata. Masalah yang dialaminya di awal bulan Juni itu, cukup berat. Dimulai dari kepulangan anak laki-lakinya yang gagal kuliah meski ia telah menghabiskan uang sangat banyak untuk membiayai kuliah dan kehidupan anaknya tersebut di Yogyakarta selama empat tahun. “Pulang dalam keadaan yang tidak baik,” kata Tata.

Anak pertamanya tidak diketahui pergi ke mana. Ia tiba-tiba pulang tiba-tiba hilang. “Padahal setahu kami juga para tetangga, suami Irena sangat keras pada anak-anaknya terutama anak-anak perempuannya. Si sulung bahkan pernah dikurung di dalam kamar agar tidak keluar dan menghilang. “Tapi tiba-tiba dia sudah pergi entah ke mana. Dan tiba-tiba pula pulang diantar oleh laki-laki,” ujar Tata sedih.

Entah apa yang terjadi pada Irena. Padahal yang dikenal oleh Tata dan juga lingkungan tempatnya tinggal, Irena dan suaminya sangat rajin beribadah. Dan relatif tidak pernah terdengar keributan di rumah mereka. Intinya semua baik-baik saja (tampaknya).  Mereka juga bukan keluarga yang tertutup sehingga lebih banyak aktivitas mereka yang diketahui warga sekitar. “Apakah ini semacam kutukan atau karma? Kami juga tidak tahu,” kata Tata tanpa ingin menjelaskan lebih jauh. Dari raut muka Tata, sepertinya ada hal yang tidak ingin ia ceritakan tentang masa lalu sepupunya itu.

Tata menolak menceritakan kisah masa lalu Irena. Ia hanya berharap sepupunya itu dan juga anak-anaknya bisa menjadi lebih baik. “Saya mengajaknya untuk bersabar dan menyelesaikan semua persoalan ini dengan baik. Agar Irena bisa berkumpul kembali dengan anak-anaknya dan memulai kehidupan baru yang lebih baik. Ketika obrolan dengan Tata akan berakhir, Irena melintas. Ia melempar senyum sembari menyapa ramah. Dari caranya, sesungguhnya tidak tampak bahwa ia adalah ibu yang gagal. Tata mengungkapkan semoga suatu saat Irena mau bercerita tentang masa lalunya. Kisah ini akan berlanjut ketika Irena mau mengisahkan perjalanan hidupnya. (Naniek I. Taufan)

Paling Populer

To Top