Connect with us

Kreasi

“Kambing Takutin Macan”: Drama Pewayangan Sampaikan Manfaat Tumbuhan

Published

on

Menyaksikan seni pertunjukan wayang dari kulit sapi, itu hal yang biasa. Tetapi, bagaimana kalau menonton pertunjukan wayang dengan menggunakan don taep sebagai wayangnya. Ini yang beda, mirip permainan, tetapi bukanlah garapan seni yang main-main. Sebab, dalam penyajiannya tergolong lengkap dan serius. Ada unsur seni tari, musik, vokal, tembang, drama, akting dan sastra.

Itulah suguhan drama pewayangan oleh Komunitas Jalan Air, pada festival ke Uma yang di Subak Uma Ole, Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri, Marga – Tabanan akhir  Juni 2017. Dalam festival yang digelar Sanggar Buratwangi dan Sanggar Wintang Rare itu, Kadek Nova Suryanatha selaku sutradara sekaligus dalang, menampilkan garapan sederhana, namun syarat dengan pesan moral, disamping rasa indah.

Nova demikian sapaan mahasiswa Semester Vl, Prodi Pendidikan Sendratasik, Fakultas Seni itu mengangkat cerita rakyat Bali berjudul “Kambing Takutin Macam”. Uniknya, ia membeberkan kisah lewat permainan wayang dari don taep. Daun lebar itu hanya dipulas dengan pamor untuk mempertegas bentuk. Ada yang berbentuk kayonan (gunung) dan ada pula berbentuk kambing dan anak kambing.

Sementara tokoh macan dan bojok diperankan oleh dua penari, I Wayan Erik Hendrawan dan I Made Bagas yang sebelumnya bertugas memerankan i bapa dan si anak. Garapan sejenis teater ini diiringi gemelan batel yang terdiri dari dua buah gamelan gender wayang, dua kendang (lanang dan wadon), tawa-tawa, cengceng ricik, kempur dan kemong. Penabuh juga tampil apa adanya, namun tetap menyajikan permainan dengan teknik tinggi sesuai suasana adegan yang merupakan pembagian dari garapan itu.

Advertisement

Sang dalang tidak menggunakan kelir dalam memainkan wayangnya. Ia hanya mengandalkan imajinasi serta ekspresi untuk menciptakan tontonan unik dan menarik. Maka itu, pada saat dalang memainkan wayang juga menjadi bagian dari adegan, sehingga ditata dan dikemas sesuai dengan kebutuhan pentas. Tentu, memerlukan imajinasi yang kuat serta kreativitas handal dalam menciptakan suasana. Sebab, ruang yang besar, harus mampu dimainkan oleh sang dalang sesuai dengan pedum karang.

Meski minim pengalaman pentas, semua pendukung seni drama pewayangan itu mampu mengeksplor tempat pentas di tengah sawah yang sederhana itu. Mereka memanfaatkan properti yang ada, seperti keranjang padang milik petani dan arit (sabit) serta didukung dengan kostum, seperti para petani di sawah. “Kami harus menyesuaikan dan harus mampu mengeksplor Festival ke Uma yang memiliki misi mengajak anak-anak bermain tradisional serta mengenal uma,” kata Nova serius.

BACA  Bank Sampah BaliKu: Berolahraga Sambil Menabung Sampah

Drama pewayangan ini tampil di tengah-tengah sawah. Beralaskan jerami, tanpa atap serta stage berbentuk kalangan. Ornamen kalangan dihiasai dengan ranting pohon, lelakut, jerami dan daun enau yang dihiasi janur. Pada saat salah satu kaki pemain masuk tanah karena becek diguyur hujan, bukan sebuah kecelakaan, tetapi menjadi bagian dari kreativitas mereka menari. Demikian pula suara-suara alam persawahan seakan menjadi bagian dari iringan drama itu sendiri. Suasana malam menjadi lebih akrab, ketika terjadi komunikasi antara penari (pemain) dan penonton.

Drama pewayangan ini diawali dengan penampilan seorang anak desa yang malas dan tak mau membantu orangtuanya. Seleranya tinggi, banyak teori dan sering ngeledek orangtuanya yang sebagai petani. Pada saat memainkan layang-layang di sawah, ia bertemu dengan I Bapa (ayahnya) dan I Pekak (kakeknya). Kesempatan itu kemudian dimanfaatkan oleh I Pekak dan I Bapa untuk memberikan pendidikan budi pekerti lewat satwa (cerita).

Mereka duduk di sebuah kubu kecil yang damai. Sang Kakek kemudian mengambil daun lalu melukis menjadi sebuah wayang berbentuk kayonan dan dua ekor kambing. Kakek langsung menarikan wayang kayonan untuk memulai cerita. Kemudian muncul dua ekor kambing, yaitu ibu dan anaknya. Mereka berdua mencari makanan berupa daun-daunan. Sang Kakek lalu memaparkan manfaat tumbuhan mulai dari akar, batang, daun hinga bunganya yang bisa dimakan, dijadikan obat ataupun yang mengandung racun.

Advertisement

Tiba-tiba muncul I Macan (Harimau) yang sombong sebagai penguasa hutan. Ia hendak memangsa anak Kambing, namun dengan tipu daya mereka akhirnya selamat. Kambing mengatakan, badannya bisa keluar api, tanduknya tempat berstana Dewa Siwa sehingga memiliki kesaktian yang bisa memangsa apa saja termasuk Macan. Mendengar hal itu, Macan takut dan lari tungang langgang.

BACA  TP. PKK Kota Denpasar Gelar Workshop Literasi Puspa Bali

Dalam perjalanan, Macan bertemu dengan Bojog (kera) lalu merayu I Macan agar kembali bertemu I Kambing. Mulanya Macan tak setuju, setelah terkena rayuan maut I Bojog ia akhirnya mengalah. Setelah mereka bertemu, I Kambing lalu bertanya kepada I Bojog bahwa kekalahan bertarung sebelumnya akan berjanji membawakan empat ekor Macan, lalu mana lagi tiga. Mendengar hal itu, I Macan lalu lari tunggang langgang, sehingga jatuh ke jurang.

Itulah, I Macan yang hanya mengandalkan kekuatan saja, tanpa memiliki pikiran yang cerdas untuk menghadapi situasi. Berbeda dengan I Kambing, walau sebagai binatang lemah, namun ia bisa memiliki kecerdsannya sehingga bisa menipu I Macan untuk menghindar dari maut. (Darsana)

Advertisement
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kreasi

Ini Kejutan Spesial Dul Jaelani untuk Tissa Biani

Published

on

Jakarta (cybertokoh.com) –

Dalam berkesenian, Dul Jaelani selalu membuka pintu jiwa dan berusaha mendengarkan sanubari yang paling dalam. Sebuah kejujuran yang ditempuh tanpa dorongan dari siapapun. Segala yang dilewatinya tentu menguatkan sikapnya. Apalagi sejak memiliki kisah masa depan yang sangat berarti, Dul semakin bersemangat. Begitu banyak keceriaan menyeruak di wajah Dul dan emosi itu tidak lain hadir karena kegembiraan sukma bersama tambatan hati, Tissa Biani.

Penyuka warna putih ini mensyukuri getar kasih yang selalu dipancarkan oleh kerinduannya. Tissa selalu nyata dalam lagu dan kata. Menuju hari kelahiran Tissa, sebuah lagu baru lengkap dengan video klipnya berjudul “Song For Tissa” diciptakan Dul Jaelani sebagai kejutan spesial di tanggal 24 Juli 2021. “Lagu ini adalah ‘surprise’ rilis untuk Tissa, karena aku nggak bisa memberi kado yang berbau materi, jadi sebagai musisi dan sadar bisa membuat lagu, maka aku berikan Tissa sebuah lagu yang dirilis serius” ujar Dul dalam siaran pers yang diterima cybertokoh.com .

“Karena lagu ini benar-benar aku tujukan untuk Tissa Biani, mulai dari nada hingga lirik-liriknya khusus untuk Tissa yang kucintai dan mencintaiku. Tissa adalah sosok perempuan yang luar biasa, mungkin yang terbaik yang pernah aku kenal. Nilai-nilai kehidupannya luar biasa. Selain agama dan adabnya tinggi, dia banyak mengajariku hal-hal tentang cinta, dari hal terkecil sampai hal terpenting tentang cinta. Dia juga mengajariku untuk selalu berkarya dengan tulus, ikhlas, dan penuh rasa syukur. Dia juga merubah hidupku menjadi lebih positif. Maka, Tissa berhak sekali menerima lagu ini,” jelas pengagum Chrisye tentang kehadiran lagu “Song For Tissa”.

Advertisement

Seperti pada goresan pada karya cipta sebelumnya, Dul selalu punya gambar utuh yang dibingkai dengan penuturan musikal yang tersambung dengan keseluruhan lirik di lagu barunya. Pada lagu ini Dul bersikap seperti lagu dan juga sebaliknya, dimana postur tersebut sangat fleksibel menyampaikan pesan. “Lagu ini menggambarkan suasana damai saat bersama orang yang kita cintai, rasa senang, bahagia, berbunga-bunga dan bisa memberikan rasa tenang saat mendengarkannya. Dan lagu ini sedikit lebih elektronik dan asik dibuat goyang daripada lagu-lagu sebelumnya. Dom Dharmo juga piawai menerjemahkannya ke dalam video klip” katanya lugas.

BACA  Ini Kejutan Spesial Dul Jaelani untuk Tissa Biani

Meski terbilang lancar dalam menjalani proses rekaman lagu “Song For Tissa” dengan memproduserinya sendiri, namun Dul sempat mengendalikan situasi teknis di tengah jalan. “Mungkin di aransemen ya, karena setelah lagu Kamu dan Aku (2017), aku gak pernah memproduksi lagu sendiri tanpa produser dan lagu ini aku aransemen sendiri sebagai produser dengan bantuan teman dekat dan sumbangsih suara Bunda Maia pada vocal latar tanpa andil produser ternama,” jelas Dul yang mempercayakan mixing dan mastering lagunya ke Stephan Santoso.

Di luar hubungannya, Dul juga berharap siapapun dapat merayakan kasih sayang melalui lagu “Song For Tissa”. “Lagu ini mengandung hawa perdamaian dan penuh energi kasih sayang. Aku ingin orang yang setelah mendengar lagu ini, langsung teringat orang kesayangannya dan langsung melakukan tindakan yang penuh kasih sayang terhadap orang yang disayanginya. Minimal memberikan sesuatu terhadap orang yang disayangi,” ungkap pelahap buku-buku sejarah dunia ini.

Lagu “Song For Tissa” dari Dul Jaelani dirilis melalui labelnya sendiri, Jaelani Music pada 24 Juli 2021 di seluruh platform musik digital diantaranya Spotify, Apple Music, JOOX, Langit Musik, YouTube Music dan Resso. (Ngurah Budi)

BACA  Gek Mirah: Cerdas Menyiasati Waktu

Advertisement
Continue Reading

Kreasi

Mau Jadi Penulis Film, Ini Kuncinya

Published

on

Jakarta (cybertokoh.com) –

Ditengah maraknya perkembangan perfilman dan banyaknya platform untuk menonton, para penulis cerita harus makin kreatif. Pengalaman empiris yang dipadukan dengan kemampuan teknis menjadi kunci untuk meraih kesuksesan.

Program Viu Pitching Forum kembali hadir memompakan energi segar bagi Industri kreatif Indonesia melalui kemunculan para talenta muda dari berbagai kota di Indonesia. Viu Pitching Forum adalah inisiatif pengembangan industri untuk mengangkat penulis muda dan memberi mereka kesempatan menerima bimbingan dari para pakar ternama.

Sahana Kamath, Head of Original Production, Indonesia & Malaysia, Viu memberi apresiasi luar biasa bagi para peserta yang ikut dalam program Viu Pitching Forum ini. “Selamat untuk finalis yang membuat juri kerja keras. Semua luar biasa. Keberanian para peserta patut diacungi jempol. Risetnya luar biasa dengan topik yang menarik,” ujarnya dalam jumpa pers virtual yang dipandu Arif Tirtosudiro, Kamis (22/7).

Advertisement

Ada 10 finalis yang telah diseleksi oleh dari ratusan konsep yang masuk. Mereka adalah
Gazwani Altrisa/Yogyakarta (Asking Alexandria), Asmi Nur Aisyah /Jawa Barat (The Sandwiches), I Dewa Kadek Surya Gemilang Shivling/Bali (A Childish Love Story), Lia Hadist/Kalimantan Timur (Birthday Wish), Futria/Jawa Barat (Seberkas Kisah Lalu), Muhammad Fiqih Sugesty/ Jawa Barat (Pencucian Jiwa), Saphira Sarah Dewi/Jawa Barat (Captured), Dana Wardhana /Banten (Cerita Tukang Parkir), Novi Assyadyah MC/Jawa Barat (The Secret of A Class), dan Jatmiko Wicaksono/Kalimantan Selatan (Cheating with Me).

BACA  “Legenda dari Desa Dirah” : LARUNG MENGGUGAT TIRANI SANG PENGUASA

Sepuluh finalis tersebut, telah berpartisipasi dalam Masterclass dari Viu Pitching Forum. Terpilih sebagai pemenang adalah Futria. Karyanya akan diproduksi menjadi Viu X PFN Original, hasil kolaborasi Viu dan Perum Produksi Film Negara (PFN).

“Program ini sangat menarik dan luar biasa. Kita bisa ukur kemampuan buat cerita. Viu sangat konsisten membuat konten original. Ini kesempatan menarik bagi saya. Pengalaman dari mentor sangat membantu. Kita harus terbuka terhadap berbagai pandangan,” ujar Futria. Ia juga memberi sedikit bocoran tentang naskah yang ditulisnya tentang perjuangan atlet meraih mimpi.

Angga Dwimas Sasongko, salah satu Mentor Viu Pitching Forum 2021 menambahkan kreativitas tidak seperti balap lari, nomor satu sampai finish jadi pemenang. Dalam kreativitas, peserta harus menunjukkan komitmen terhadap proses. “Mentor berkontribusi untuk memberikan pandangan atas materi yang di-pitch peserta. Mentor ndak berarti lebih kreatif, tapi lebih punya pengalaman dan metode. Tim Viu juga melihat mana cerita yang punya marketing power,” ungkapnya.

Ia juga mengatakan generasi konten kreator sekarang ini dibantu teknologi dan banyaknya platform. Ini harus disyukuri. Terkait Viu Pitching Forum ini, Angga mengingatkan komitmen finalis. Forum ini membuka peluang untuk scouting talent dan idea.

Advertisement

“Kita akan punya industri yang kuat ketika punya cukup talenta untuk bersaing. Hambatannya adalah akses. Karena itu, buatlah script yang menarik dari halaman pertama. Buat premis yang menarik. Mampu menulis sinopsis yang menarik. Kadang kita punya ide bagus tapi tidak cukup bagus untuk mempresentasikan. Bagi saya, 1 persen ide, 99 persen eksekusi,” ujar sutradara, penulis skenario, dan produser film ini.

BACA  Ini Kejutan Spesial Dul Jaelani untuk Tissa Biani

Dari pengalaman pribadinya, komitmen dan determinasi merupakan hal penting. Ada yang bakat menulis tapi tidak mau menulis, ada yang mau menulis tapi kadang tidak mau riset. “Kuncinya harus punya keinginan untuk berkembang dan menggali diri. Satu lagi, harus cinta sama film,” tegas CEO Visinema ini.

Sementara itu Erwin Arnada, Vice President Production Perum PFN mengatakan program yang digagas Viu sangat ideal, ada kesempatan sinemaker berkarya. “Keterlibatan PFN sejalan dengan program ini, kami mulai melebarkan sayap dari produksi film ke pembiayaan film. Apresiasi luar biasa kepada para mentor yang ditengah kesibukan bisa memberi pandangan kreatif. Berkah buat peserta, sudah dapat resep. Selalu ada yang pertama buat semua orang. Beri kesemapatan orang untuk mengeksplorasi dan hasilkan karya terbaik,” ujar pria yang mengawali karier sebagi jurnalis ini.

Bagi Erwin, kemampuan menulis itu teknis, yang penting pengalaman empiris yang bisa dieksplor. PFN pun akan memberi kesempatan kepada sutradara, penulis untuk diberikan pelatihan dan kesempatan. Baginya, harus punya banyak saluran untuk menyalurkan kreativitas para pekerja film. (Ngurah Budi)

BACA  Konsep Minimalis dengan Ornamen Stylish

Advertisement
Continue Reading

Kreasi

Perupa Agar Beradaptasi di Tengah Pandemi Covid-19

Published

on

Denpasar (cybertokoh.com) –

Ny. Putri Suastini Koster selaku Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali memfasilitasi 50 perupa menggelar pameran lukisan secara virtual melalui e-marketplace Balimall.id. Guna mematangkan rencana tersebut, Ny Putri Koster yang didampingi Ketua Harian Dekranasda Bali I Wayan Jarta mengelar rapat koordinasi di Ruang Rapat Gedung Jayasabha, Denpasar.

Dalam arahan singkatnya, Ny. Putri Koster memantik semangat para perupa agar mampu beradaptasi di tengah pandemi Covid-19. Ia sangat memahami, seorang perupa biasanya lebih akrab dengan kanvas dan kuas. Mereka umumnya enggan berurusan dengan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi. Namun saat situasi pandemi, menuntut semua komponen untuk mencari alternatif agar bisa bertahan. Salah satu alternatif yang bisa dilakukan adalah memanfaatkan kemajuan teknologi untuk memasarkan produk yang mereka hasilkan. “Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus mulai bermain dalam pasar digital,” ucapnya dalam siaran pers Humas Pemprov Bali, Selasa (1/6).

Sosok yang dikenal sebagai seniman serba bisa ini mengingatkan tingkat penjualan bukan satu-satunya orientasi dari pelaksanaan pameran virtual kali ini. Yang lebih penting, menurutnya, adalah pelajaran yang bisa dipetik dari proses tersebut. Selain itu, melalui pameran ini, para perupa juga bisa menunjukkan bahwa kreativitas mereka tak padam di tengah pandemi.

Advertisement

Ketua Harian Dekranasda Wayan Jarta menyampaikan apresiasi kepada Balimall.id yang sangat getol memfasilitasi pemasaran produk kerajinan khas Bali. Terkait dengan pameran lukisan virtual, ia menyebut persiapannya sudah hampir final. Selain melibatkan Balimall.id, pameran lukisan ini juga didukung penuh oleh BPD Bali.

BACA  "Saling Bantu", Persembahan Nosstress di Tengah Pandemi Covid-19

Rakor lebih banyak diwarnai diskusi terkait tampilan pameran rancangan tim IT Balimall.id yang secara langsung dipresentasikan pimpinannya Ni Wayan Sri Ariyani. Dari rancangan yang dipresentasikan, Ny. Putri Koster dan para perupa memberi masukan yang akan menjadi bahan evaluasi untuk penyempurnaan tampilan pameran. Pameran lukisan virtual bertajuk ‘Merajut Rasa Menilik Rupa’ ini rencananya akan digelar mulai pekan pertama bulan Juni. Terkait jadwal, pihak panitia masih akan membahasnya lebih lanjut. (Ngurah Budi)

Continue Reading

Tren