Life Story

Koleksi Museum bisa “Bercerita”

Drs. R. Joko Prayitno

Nusa Tenggara Barat kembali kehilangan salah seorang seniman terbaiknya. Drs. R. Joko Prayitno, pematung, perupa dan mantan Kepala Museum Negeri Nusa Tenggara Barat berpulang ke pangkuan Allah SWT Jumat, 14 Juli 2017, dalam usia 62 tahun. Konsistensi dan dedikasi Joko dalam bidang seni budaya serta permuseuman di NTB,  meninggalkan kesan tersendiri bagi para seniman dan budayawan yang merupakan kawan serta sahabat almarhum di Mataram.

Kecintaannya pada dunia permuseuman membuatnya begitu ‘identik’ dengan instansi tersebut. Namanya masih terasa melekat tiap kali menyebut Museum Negeri NTB, bahkan hingga ia menghembuskan nafas terakhirnya. Ucapan-ucapan belangsungkawa yang disampaikan kawan dan sahabatnya, tidak lupa menyebutnya sebagai mantan Kepala Museum NTB.

Joko Prayitno, satu dari tidak banyak orang yang begitu mencintai ruang-ruang yang menyimpan koleksi benda-benda yang secara umum kerap dianggap ‘mati’ itu. Hal itulah yang sempat membuat pria kelahiran Mataram, 27 Februari 1955 ini, semasa hidupnya ingin ‘menghidupkan’ benda-benda bersejarah tersebut dengan caranya. Dalam suatu wawancara panjang dengan Tabloid Tokoh, Joko pernah mengungkapkan keinginan-keinginannya untuk membuat benda-benda bersejarah tersebut bukan lagi setumpuk benda mati melainkan benda-benda yang mampu ‘berkisah’ kepada generasi muda Nusa Tenggara Barat.

Menjalankan penugasan pertamanya sebagai PNS di Museum Negeri NTB hingga menjadi Kepala Museum tersebut membuat Joko tidak bisa dipisahkan dari aktivitasnya dalam melestarikan benda-benda bersejarah yang menjadi koleksi Museum Negeri NTB. Sejak diangkat sebagai PNS Joko telah bertugas di Museum Negeri NTB. Sejak itu ia menghabiskan masa kerja nyaris seluruhnya di Museum Negeri NTB. Hanya empat tahun ia pernah pindah tugas keluar dari Museum Negeri NTB, namun kemudian kembali lagi ke instansi tersebut hingga pensiun di tahun 2011.

Saat menjadi Kepala Museum NTB itu, Joko punya mimpi besar untuk dapat menyajikan sebuah kunjungan berkesan bagi masyarakat dengan cara ”menghidupkan” koleksi museum yang tervisualisasi. Hal ini diungkapkannya sebagai mimpi yang sangat ingin diwujudkannya kala itu. Ia berharap bisa melihat benda koleksi yang selama ini terkesan hanya sebagai pajangan –benda mati di museum menjadi bisa ”bercerita” tentang sejarahnya di masa lalu.

Menurutnya, dengan begitu, orang akan dengan mudah mencintai dan membanggakan daerahnya karena paham bagaimana dahulu kala nenek moyangnya mencipta, berkarya dan membangun daerahnya dengan peradaban yang tinggi. Kecintaan dan kebanggaan pada kampung halaman, adalah ujung tombak keikhlasan dan kesungguhan dalam membangun daerahnya. ”Maka kenalilah kebudayaan itu untuk sebuah kesungguhan ikut serta membangun daerah ini,” kata Joko. Keberadaan museum bisa mengukur kemajuan suatu bangsa –merunut sejarah- apa yang telah dilakukan suatu bangsa di masa lalu.

 

MUSEUM JADI KEBUTUHAN MASYARAKAT

Joko sangat ingin museum dikunjungi karena minat masyarakat terutama dari kalangan generasi muda, bukan kunjungan tersebut semata-mata karena adanya kerja sama antar museum dengan sekolah-sekolah. Ia ingin agar pengunjung Museum Negeri NTB yang terbanyak berasal dari dunia pendidikan, mulai dari TK hingga SMU itu, senang berkunjung ke museum bukan karena tugas atau perintah kunjungan kolektif.

Terhadap kurangnya minat masyarakat umum berkunjung ke museum itulah, Joko merasa perlu melakukan perubahan paradigma tentang museum. Pematung senior yang menjejak kariernya sejak awal di Museum Negeri NTB ini, ingin sekali melakukan terobosan-terobosan untuk itu. Ia tidak ingin apa yang disajikan museum seolah-olah adalah tontotan yang berbau ilmu sosial saja.

Tentu saja mimpi ini bukan mimpi yang sempurna yang mudah untuk diwujudkan. Namun tekad itu terus hidup dalam diri sang perupa ini. Ia bahkan sangat ingin agar Museum Negeri NTB bisa menjadi tempat belajar bagi generasi muda dengan memamerkan karya-karya (penemuan-penemuan)/teknologi tepat guna khususnya dari warga NTB yang berguna bagi kehidupan manusia, seperti koleksi benda-benda yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan (alam dan teknologi).

”Misalnya berbagai alat peraga tentang hukum alam, sehingga bukan hanya anak sekolah yang tengah belajar tentang hukum alam saja yang merasa butuh mengetahui hal tersebut kemudian datang ke museum. Tetapi juga masyarakat umum yang ingin tahu hal tersebut,” ungkapnya kala itu. Keberadaan alat peraga semacam ini, harus pula dilengkapi dengan catatan sejarah asal mula benda ini diciptakan. Orang yang butuh belajar, tentu saja akan datang ke museum. ”Saya ingin membuat museum menjadi kebutuhan bagi masyarakat,” katanya.

Gagasan ini datang dari perhatian Joko pada temuan-temuan penting putra-putri NTB, seperti dalam bidang teknologi tepat guna. Misalnya salah satu yang menjadi perhatiannya kala itu adalah penemuan emiter oleh Hamzah dari Sumbawa. Emiter atau irigasi tetes ini sudah dikenal luas, tapi masyarakat NTB sendiri secara umum belum mengetahui cara kerjanya. “Kenapa tidak, cara kerja emiter/teknologi irigasi tetes yang disebut juga dengan sistem infuse yang merupakan sistem pemberian makanan sesuai dengan kebutuhannya lewat jaringan pada pembuluh kayu ini, dipamerkan dengan alat peraga di Museum Negeri NTB,” kata Joko dengan penuh semangat.

Itulah mimpi Joko yang selalu ada dalam ingatannya bahkan ketika ia telah pensiun di tahun 2011. Sang maestro patung NTB itu kini telah menghadap Sang Khalik, meninggalkan sederet karya yang masih bisa dilihat di Nusa Tenggara Barat. Beberapa karya patungnya yang hingga kini masih menjadi ikon di wilayah Nusa Tenggara Barat berdiri di perempatan Karang Jangkong, Patung Sapi di bundaran bypass BIL di Gerung, patung sapi di Narmada, patung Mandalika di Puyung Lombok Tengah dan beberapa monumen di Bima, Sumbawa hingga di Anjungan NTB di Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta.

Pada pemakamannya di TPU Karang Medain Mataram, Sabtu 15 Juli 2017 yang dihadiri pula oleh sahabat dan kerabatnya itu, doa-doa mengalir mengantar kepegian sosok yang dikenal berperangai baik itu. “Selamat jalan Pak Joko, doa kami menyertaimu,” ungkap Kongso Sukoco, mantan Ketua Dewan Kesenian NTB yang juga sahabat almarhum. (Naniek I. Taufan)

 

To Top