Kolom

RADIKALISME 3

“Maaf, siapa, ya?”
“Pak Amat?”
“Betul.”
“Begini, Pak Amat!”
“Bapak siapa?”
“Saya mau bicara dengan Bapak.”
“Urusan apa, Pak? Saya bukan pengurus lingkungan di dini. Saya warga biasa.”
“Tidak apa. Saya harus bicara dengan Bapak. Masih Pak Amat kan?”
“Masih, masih.”
Orang itu masuk.
“Jadi begini, Pak Amat, saya memang penjahat, tapi apa yang saya katakan ini sama sekali tidak jahat. Juga saya jamin tidak akan membuat Bapak jahat. Hanya saja memang saya bisa mengatakan ini pada Bapak, karena saya jahat. Sebagai penjahat mata saya, telinga, mulut. pendeknya panca indera saya jadi bisa mengetahui apa yang tak mungkin diketahui orang biasa seperti Bapak, yang tidak jahat. Tapi apakah Bapak betul tidak jahat? Sebab kalau Bapak jahat apalagi lebih jahat dari saya, Bapak akan saya sikat sekarang. Kenapa? Karena Bapak pasti marah sebab saya akan membuka topeng rahasia kejahatan yang Bapak rencanakan itu. Bapak sendiri belum tentu mengetahuinya, ya bagaimana bisa tahu karena itu baru rencana. Rencana jahat Itu rahasia perusahaan yang tidak boleh dibocorkan kepada siapa pun. Termasuk kepada Bapak sendiri yang nanti melaksanakannya. Ini sudah merupakan esensi pakem kejahatan. Pelaksanannya harus mendadak-sontak, tiba-tiba, bahkan sesudah Bapak melaksanakannya dengan sukses pun, tak jarang tetap dirahasiakan, termasuk dirahasiakan pada Bapak yang sudah jadi biang keroknya. Dengan begitu jejak kejahatan itu tak pernah bisa dilacak oleh anjing pelacak lulusan mana pun, apalagi oleh dukun-dukun kampung yang bisanya nebak-nebak nomor yang juga hanya dikarang seenak udelnya. Jadi sebelum nasi jadi bubur lebih baik ente berterus-terang. Apakah Pak Amat orang jahat?”
Sadar sedang berhadapan dengan orang gila, Amat menjawab tenang.
“Ya.”
“Ya apa?”
“Terserah.”
“Bapak penjahat?”
“Betul.”
“Jahat sekali?”
“Terlalu jahat.”
“Lebih jahat dari aku?”
“Sedikit di bawahnya.”
“Berapa strip?”
“Setengahnya.”
Orang itu diam. Seperti tak percaya apa yang barusan didengarnya.
“Bisa diturunkan atau dinaikkan sedikit?”
“Tidak. Itu sudah dikunci.”
“Betul?”
“Betul.”
“Serius?”
“Begitulah!”
“Kenapa?”
“Hanya Tuhan yang tahu!”
Orang itu heran dia menatap Amat tak percaya.
“Kamu orang gila?”
“Ya.”
Tiba-tiba orang itu tertawa lalu menepuk-nepuk Amat akrab.
“Kamu jujur sekali, seperti aku, Mat!”
“Tentu saja!”
Oang itu terkejut lagi. Lalu termenung.
“Kok kamu bilang, tentu saja?”
“Ya tentu saja. Habis kamu bilang aku seperti kamu.”
“Memang! Persis! Seratus persen persis. Apakah itu berarti?”
“Persis!”
Orang itu kaget.
“Persis?”
“Ya? Sama sebangun!”
Orang itu tambah bingung. Ia memasang kacmatanya dan menatap Amat lama. Lalu berbisik.
“Kamu kok tahu apa yang belum kukatakan?”
“Bukan hanya tahu. Aku yang menciptakannya.”
Orang itu memekik.
“Sialan! Jadi kamu ini, aku sendiri?”
Amat tak menjawab. Sekali lagi orang itu bertanya.
“Apa kamu ini, aku, Bro?”
Amat tak menjawab orang itu penasaran. Lalu berteriak.
“Jadi kamu ini, aku?!!!”
Amat bingung. Sampai di situ teks tuntunannya dalam manual habis. Seharusnya, sudah sejak tadi orang gila itu menyerah, ingat kembali ke alam sadar.
“Tetapi aku mungkin terlalu bagus memainkan perananku, sehingga dia terseret makin dalam kelelap di demensi gilanya,” pikir Amat dalam hati. “Bahkan aku bisa diseretnya sekarang kalau salah langkah!”
Orang gila itu nampak panik. Seperti terlibat pertempuran sengit. Tergerus arus misterius atau balik ke alam nyata.
Amat melirik kanan dan kiri, menunggu isyarat dari panitia yang sudah merencanakan kejadian itu. Tapi tak ada yang muncul. Mungkin mereka juga panik lalu gentayangan membaca lagi  buku manual pemakaian software baru itu.
“Jangan-jangan sudah salah klik,” pikir Amat cemas.
Kepala Amat mulai pusing. Rasa ada arus liar mau menyeretnya. Ia mulai takut. Buku panduan memang bilang, kalau ada error, mesti sabar, jangan panik. Tunggu beberapa jam untuk di, tidak, dia tidak bisa menunggu. terlalu berisiko.
Orang gila yang sedang diterapi itu tiba-tiba berbalik. Mukanya berubah jadi monster. Dia menghampiri Amat seperti mau mencabik-cabik, mengunyah Amat habis.
Amat terpaksa mendahului menyerang dengan segala risikonya.
“Tunggu! Kau tak perlu ngomong! Aku sudah tahu apa yang mau kamu katakan! Kamu jadi radikal mau mengganti dasar NKRI Pancasila sebenarnya bukan untuk menghapus Pancasila tapi justru untuk memancing agar kami mayoritas yang diam dan sibuk ngurus kepentingan politik kelompok sendiri-sendiri ini, kembali bersatu merawat dan mempertahankan Pancasila, Bhineka Tunggalk Ika demi kejayaan NKRI!!!!”
Orang gila itu berteriak kesakitan. Wajah monsternya  berubah, kembali seramah ketika ia baru muncul. Lalu tersenyum  santun, dengan kebersahajaan khas Indonesia.
Amat tersadar di depan TV yang kedap-kedip minta dimatikan.

To Top