Kolom

RADIKALISME 2

Di TV ada informasi tentang radikalisme. Seorang pakar menjelaskan ada survei yang menunjukkan radikalisme yang ingin mengganti dasar negara Pancasila meskipun jumlahnya sangat kecil dibandingkan 80 persen rakyat Indonesia yang tetap mendukkung Pancasila. Tetapi perkembangannya dalam waktu pendek pesat hingga memerlukan penanganan segera.
Pakar lain cenderung membantah, beliau menyatakan:  bahwa yang menolak dasar negara Pancasila di awal kemerdekaan 4 berbanding 5, sampai Bung Karno menyelesaikannya dengan Dekrit. Jadi 80 persen hasil survei berarti kemajuan pesat.
Amat kontan mematikan TV.
“Mengapa dimatikan?” tanya Amat sendiri, ketika istrinya tak bertanya.
Ketika Bu Amat tak menjawb, Amat kembali menjawab sendiri.
“Ya,, karena aku lihat, sudah ada sandiwara. Sandiwara apa? Ya, sandiwara terhadap dasar negara kita Pancasila. Sandiwara bagaimana? Ya, sandiwara dari pakar. Bagaimana tidak. Coba renungkan saja. Pakar pertama dengan menunjukkan hasil survei mengajak kita yang mendukung Pancasila waspada terhadap radikalisme karena perkembangannya meskipun sekarang jumlahnya masih kecil, tapi terhitung cepat. Nah kenapa pakar kedua mengatakan dukungan terhadap Pancasila berkembang pesat? Seakan-akan ia menyatakan kewaspadaan terhadap radikalisme itu tidak perlu. Itu kan sikap berbahaya? Sikap itulah yang justru ingin dibina oleh radikalisme agar kita terus lengah sehingga perkembangannya tambah pesat lagi! Bahaya sekali, kan?”
Amat berhenti di situ, seperti menunggu reaksi.
“Atau aku yang sebenarnya over-acting?” lanjut Amat karena belum ada tanggpan, “Ini sama sekali bukan over-acting. Ini kecemasanku, kecemasan seorang rakyat kecil yang cinta NKRI yang mendukung Pacasila sebagai dasar negara yang menjamin Bhinneka Tunggal Ika dalam masyarakat kita yang majemuk, sehingga kita dianggap oleh dunia sebagai contoh hidup damai dalam perbedaan itu bukan hanya pepesan kosong tapi nyata ada. Jelek-jelek begini, kita Indonesia negeri ajaib, Bu! Damai dalam perbedaan yang di mana-mana sulit bahkan seperti tidak mungkin terjadi, di negeri kita ini sesuatu yang sudah kita lakoni, sejak zaman baheula, Bu. Hebat kan?”
Masih belum juga ada tanggapan. Amat jadi kesal. Akhirnya dia buka kartu.
“Jadi begini. Bahwa dukungan terhadap dasar negara Pancasila yang dulu hanya 5 berbanding 4, yang berarti hanya menang tipis, kini sudah jadi 80 persen, alias menang telak,  memang kemajuan pesat. Sama dengan populasi kita yang waktu baru merdeka hanya 70 juta kini sudah melonjak jadi 250 juta. Dari angkanya memang seperti melompat tapi jangan lupa itu perlu 72 tahun. Tapi perkembangan radikalisme meskipun kecil namun dalam waktu pendek sudah seperti sekarang itu sudah sangat mengkhawatirkan. Kenapa? Karena tolok ukur untuk ancaman harus dilipatkan 100 kali kalau mau memberantasnya. Umpama sakit, kalau sudah mulai ada tanda-tanda kita akan sakit, harus langsung terapi alias obati. Pasti akan cepat bablas angine. Tapi sebaliknya, kalau penyakit  kita diamkan saja, anggap enteng bahkan dimanjakan, pasti bisa good bye. Ya, nggak? Terus terang aku kecewa, karena pakar yang ngomong itu juga idolaku. Kenapa idolaku yang seharusnya justru pantas menasehatiku supaya waspada pada radikalisme yang mengancam NKRI, kok malah seperti mau mengalihkan persoalan seakan-akan menasehati kita bahwa radikalisme itu tak perlu diganggu?”
Amat menunggu. Tapi istrinya tetap membisu. Amat terpaksa menyerah. Lalu menghidupkan kembali TV. Sambil terus ngeloyor keluar rumah duduk di teras.
Terdengar ketawa Bu Amat yang sedang nonton sinetron kesayangannya.

To Top