Buleleng

Monumen Jagaraga Ramai Dikunjungi Dinsos Imbau Masyarakat Patuhi Aturan

Dinas Sosial Kabupaten Buleleng mengevaluasi pembangunan Monumen Jagaraga pasca diresmikan Januari lalu. Monumen yang dibangun dengan tujuan awal untuk menghormati dan menghidupkan kembali sejarah perjuangan pahlawan Buleleng kini mulai ramai dikunjungi. Monumen yang banyak memberi pembelajaran penting mengenai makna filosofi perang Jagaraga ini selalu mendapat kunjungan dari pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat umum yang ingin mengetahui bagaimana perjuangan Patih Jelantik dan Jro Jempiring.

Menurut Kepala Dinas Sosial  Buleleng, Drs. Gede Komang,M.Si, setelah dibuka secara resmi beberapa bulan lalu, pembangunan monument Jagaraga memang telah memenuhi tujuannya dalam memberikan gambaran kepada generasi muda mengenai perang terbesar dan pertama di Buleleng tersebut. Generasi muda secara langsung akan melihat diorama tentang penggambaran perang yang dipimpin oleh Patih Jelantik dan Jro jempiring. “Bagi pengunjung yang melihat diorama pertama hingga terakhir akan melihat penggamabaran perang Jagaraga,”jelas Gede Komang saat ditemui di ruang kerjanya

Hal mendasar yang diutamakan dalam pembangun monument bersejarah tersebut adalah dibangunnya tokoh Gusti Ketut Jelantik dan Jro Jempiring sebagai symbol heroik perang puputan Jagaraga. Awalanya, hanya Gusti Jelantik yang ingin ditampilkan karena hanya Gusti Jelantik yang sudah mendapat pengakuan secara nasional. Akan tetapi banyak tokoh masyarakat yang meminta untuk ditampilkan juga istri dari Patih Jelantik yaitu Jro Jempiring dengan tinggi patung sekitar 6 meter dan terbuat dari perunggu.

Sebagai sarana edukasi, pembangunan monument ini juga dilengkapi dengan perpustakaan yang menyediakan berbagai macam buku-buku peristiwa sejarah Buleleng. Gede Komang menambahkan, dari data yang dimiliki Dinsos Buleleng, pengunjung dari Bulan Januari hingga saat ini telah mencapai 4 ribuan dari kalangan pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum. Melihat kondisi tersebut, pihaknya telah menempatkan 9 staff yang ditugaskan untuk melayani pengunjung. Bahkan secara rutin pihaknya menugaskan para staff untuk melakukan pemeliharaan baik dari segi kebersihan, perawatan dan pengawasan terhadap pengunjung. “Setiap Sabtu dan Minggu pengunjung pasti full, sehingga staff kami siagakan dari jam 7 pagi hingga jam 8 malam,” ungkapnya.

Belakangan, masyarakat yang datang tidak hanya untuk mempelajari sejarah perang Jagarag, tetapi juga datang untuk mengabadikan gambar atau berselfie. Untuk mencegah hal yang tidak diinginkakn, Gede Komang menghimbau masyarakat yang datang agar mematuhi peraturan saat berkunjung ke monument. Pengunjung tidak diperkenankan menggunakan alas kaki saat hendak masuk ke dalam gedung. Hal ini agar tidak menyisakan debu di dalam ruangan. Pengunjung juga diharapkan menjaga kebersihan agar taman-taman yang sudah tertata dengan rapi tetap terjaga keasriannya. Hal yang paling penting, pengunjung yang ingin berselfie agar tidak menyentuh patung-patung yang ada di dalam ruangan untuk mencegah kerusakan. Meskipun dibuka untuk umum, akan tetapi pihaknya juga membatasi jam berkunjung sehingga untuk masyarakat yang datang di luar jam berkunjung tidak akan dilayani. “Kami buka dari jam 7 pagi hingga 8 malam, jadi diatas jam itu tidak akan kami layani,” tandasnya. (Wiwin Meliana)

To Top