Buleleng

Terancam Punah, Ubi Sikep Dikenalkan Ke Masyarakat

Nyoman Putra menunjukkan Ubi Sikep yang dipamerkan dalam Twin Lake Festifal.

Berbagai tanaman pangan nonberas sangat potensial dikembangkan di Buleleng. Hal tersebut dapat dilihat dengan tumbuh subur tanaman pengganti beras seperti jagung, kentang, dan ubi-ubian. Selain singkong, ubi jalar dan talas, rupanya jenis ubi yang dahulu banyak ditanam di Kecamatan Busungbiu ini belum terlalu akrab di masyarakat. Ubi Sikep yang merupakan pangan non beras berkualitas yang sudah jarang ditemui.

Ubi Sikep merupakan tanaman yang banyak dibudidayakan  di Kecamatan Busung Biu namun hingga saat ini keberadaannya terancam punah karena hanya segelintir petani yang masih menanam sebagai tanaman penyela di areal perkebunan. Beruntung, petani di Desa Uma Jero rutin menanam namun produksinya tentu sangat minim.

Dilihat dari bentuknya, ubi Sikep berbentuk sayar atau cakar kaki burung Sikep. Bentuknya yang unik itulah, konon petani dahulu menamainya dengan nama ubi Sikep. Meski namanya unik, kandungan gizi sama dengan jagung. Selain itu, tekhnik pengolahannya tergolong mudah, mulai dari direbus atau dikukus dan dijadikan panganan olahan sebagai pengganti nasi.

Menurut Nyoman Putra Penyuluh Pertanian Lapangan Kecamatan Busung biu mengatakan  langkanya petani yang menanam Ubi Sikep disebabkan oleh berminatnya masyarakat dengan tanaman endemik tersebut.  Selain itu, petani enggan menanam karena harganya jualnya kalah dengan tanaman non beras lainnya. Ubi Sikep hanya dicari karena dijadikan salah satu perlengkapan untuk membuat sarana upakara banten menurut tradisi di Bali.

Dari segi rasa, rasa ubi Sikep tidak jauh berbeda dengan talas dan memiliki kandungan gizi yang sama dengan jagung. Proses pembudidayaannya pun tidak rumit. Ubi Sikep biasanya dapat tumbuh di mana saja, terutama daerah yang memiliki tekstur tanah gembur dan berpasir. Jenis ubi ini juga dapat tumbuh dengan baik pada wilayah yang memiliki curah hujan tinggi maupun sedang. “Kalau tidak dikenalkan maka tentu ubi ini lama kelamaan akan punah,” jelasnya.

Ditambahkan Nyoman Putra, untuk mencegah kepunahan, pemahaman dan pengenalan kepada petani harus terus dilakukan. Bahkan beberapa waktu lalu, pihaknya menampilkan produksi ubi Sikep dalam pameran pertanian di arena Twin Lake Festival 2017. Melalui pameran tersebut, kata dia, banyak masyarakat yang baru mengetahui keberadaan ubi Sikep tersebut. “Bentuk dan namanya yang unik membuat masyarakat penasaran dan mencari informasi lanjutan, bahkan ubi yang kami pamerkan ini sudah dipesan oleh pengunjung untuk dibudidayakan kembali,” tutupnya. (Wiwin Meliana)

 

 

To Top