Buleleng

Madu Putih dan Madu Kopi Kesulitan Budidaya

Herny Suwarni menunjukkan madu produksi KTT Puspita Werdi Mekar.

Madu merupakan minuman alami yang memiliki segudang manfaat. Madu yang dihasilkan lebah ini mampu menjaga stamina, untuk kesehatan dan juga kecantikan. Rasanya yang manis, tentu membuat siapa saja tidak mempunyai alasan untuk tidak menyukainya. Bagi orang awan, semua madu sama saja memiliki khasiat dan rasa yang sama. Namun tahukah Anda, jika madu memiliki fungsi yang berbeda tergantung dari jenis lebah penghasilnya.

Berbagai jenis madu dihasilkan oleh kelompok tani ternak Puspita Werdi Mekar Desa Gerokgak, Kecamatan Gerokgak. Sejak beberapa tahun yang lalu, anggotanya telah membudidayakan lebah untuk menghasilkan jenis madu unggul. Madu putih dan madu Kopi merupakan produk unggulan yang telah berhasil dikembangkan dan menjadi incaran konsumen.  Pembina Penyuluh Petani Lapangan (PPL) Kecamatan Gerokgak, Hery Suwarni mengatakan untuk menghasilkan madu Putih, anggota telah membudidayakan lebah di pohon juwet. Berbeda dengan madu pada umumnya, tampilan madu Putih berwarna putih seperti susu. Dari segi rasa pun, madu jenis ini memiliki rasa manis dan sedikit kecut. Hery Suwarni menambahkan, madu Putih sangat baik dikonsumsi oleh anak-anak karena bermanfaat untuk menambah nafsu makan. “Tampilannya seperti susu jadi bisa langsung diminum dengan dicampurkan air hangat-hangat kuku,”jelasnya.

Berbeda halnya dengan madu Putih, madu Kopi pun memiliki manfaat yang berbeda. Madu Kopi diklaim dapat mengobati penyakit diabetes dan mengurangi kecanduan terhadap rokok. “Kandungan kopinya dapat menetralisir nikotin yang terkandung dalam rokok,” ungkapnya. Madu ini dihasilkan dari lebah yang menghisap bunga kopi, rasanya pun ada manis dan pahit seperti kopi.

Perempuan murah senyum ini juga menjelaskan, untuk satu botol madu Putih dan madu Kopi dibandrol dengan kisaran harga Rp. 200 ribu hingga Rp.230 ribu per botol sirup. Harga ini sebanding dengan lamanya budidaya lebah hingga menghasilkan madu dengan kualitas super. Juwet dan kopi yang merupakan tanaman musiman sangat mempengaruhi jumlah madu yang dihasilkan. Dalam setahun pihaknya hanya mampu melakukan panen 1 sampai 2 kali dengan hasil 10 hingga 15 botol per sekali panen. Untuk memanen lebah dengan kualitas madu baik, diperlukan waktu 2,5 bulan hingga 3 bulan. “Kalau produksi tergantung musimnya, kadang-kadang lebah yang dibudidayakan juga gagal panen karena cuaca yang tidak menentu,” imbuhnya. Akibat kondisi tersebut, pihaknya belum bisa memproduksi dengan jumlah yang banyak, ditambah produk yang dihasilkan merupakan madu alami tanpa campuran.

Selama ini Kelompok Tani Ternak Puspita Werdi Mekar telah memasarkan madu produksinya secara menyeluruh di Kabupaten Buleleng dan Bali, bahkan jika terdapat pesanan pihaknya juga melayani sampai ke Pulau Jawa. Kendala yang ditemui masih masalah klasik yaitu pasar yang kurang menunjang dan alat-alat pengolahan yang terbatas sehingga masih diproduksi secara tradisional. Selain madu Putih dan madu Kopi, anggotanya juga memproduksi madu Kele-kele, madu Asli, dan madu super. (Wiwin Meliana)

To Top