Buleleng

Tingkatkan Produksi Padi, Petani Lakukan Penangkaran

Penangkaran varietas padi unggul di Desa Tukad Mungga.

Cuaca yang tidak menentu dan sulit diprediksi, membuat para petani di Buleleng meradang. Bagaimana tidak, beberapa hasil komoditi pertanian terus menurun bahkan terancam gagal panen akibat perubahan cuaca tersebut. Salah satunya hasil produksi padi. Selain faktor cuaca, hal yang paling mempengarui hasil produksi padi adalah jenis dan kualitas benihnya.

Menyikapi hal tersebut, pemerintah terkait melakukan berbagai program untuk mengatasi penurunan hasil produksi tersebut. Kelompok penangkar benih padi Sari Gopala, Desa Anturan, Kecamatan Buleleng bergerak melakukan kerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali untuk mengatasi persoalan tersebut. Informasi dihimpun, empat varietas benih padi diseminasi untuk memenuhi produksi benih sumber padi (UPBS). Program yang dibiayai dari dana Kementerian Pertanian dilakukan di lahan seluas 0,2 hektare (ha) untuk  masing-masing varietas di tanah milik Putu Wijaya Tusan terletak di Desa Tukadmungga, Kecamatan Buleleng. Masing-masing benih unggul seperti Inpari 14 Pakuan, Inpari 20, Ciherang, dan Tuwoti di tanam untuk dilakukan penangkaran.

Menurut Putu Naya Kasi Perbenihan dan Perlindungan Tanaman Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, penangkaran benih dengan berbagai varietas bertujuan untuk memperbanyak benih unggul berlabel putih menjadi label ungu agar bisa ditanam oleh petani. “Benih yang ditanam di penangkaran merupakan benih pokok dan nantinya akan diperbanyak agar bisa ditanam langsung petani,”jelasnya.

Ia juga menambahkan jika masing-masing varietas memiliki masing-masing keunggulan dan kekurangan. Varietas Ciherang misalnya, tingkat produksi benih padi ciherang sangat cepat dan tahan terhadap hama penyakit namun rasa nasinya kurang enak sehingga kurang disukai oleh petani. Selain itu varietas Towuti juga memiliki keunggulan dapat bertahan dalam musim hujan maupun kemarau sehingga sangat cocok ditanam saat musim tidak menentu seperti saat ini. “Hasil dari penangkaran juga sangat bergantung dari topografi wilayah sehingga varietas yang ditanam pada dataran tinggi belum tentu hasilnya sama dengan varietas yang ditanam di dataran rendah,” ungkapnya.

Sementara itu, Pengawas benih BPTP Bali Nyoman Liper mengatakan dari penanaman benih unggul, petani nantinya dapat memenuhi ketersediaan benih unggul, selain itu benih padi yang dihasilkan sangat bermutu. “Kita kenalkan beberapa varietas baru, tentunya untuk mendukung program peningkatan produksi padi. Semua benih yang ditanam itu merupakan benih unggul,” imbuhnya. Liper menambahkan jika selama ini petani hanya menanam varietas Bundoyudo sebagai varietas yang diunggulkan. Nantinya dari hasil diseminasi akan diketahui varietas mana yang juga cocok dikembangkan di Buleleng. “Nanti kita akan tunggu hasilnya setelah 105 hingga 115 hari,” tandasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Buleleng, Nyoman Swatantra menyambut positif program yang bersumber dari dana APBN tersebut. Menurutnya, dengan adanya program tersebut, Buleleng diharapkan mampu menjadi salah satu pilar lumbung benih padi di Bali. Selain itu, Buleleng juga diharapkan dapat menjaga produksi padi, dan mencapai swasembada beras. “Kebutuhan benih aman, bahan pangan terpenuhi, dan jika dijual pun memiliki pasar yang sangat luas sehingga kedepan petani bisa memproduksi benih dan padi untuk mencapai swasembada beras di Buleleng,” pungkasnya. (Wwin Meliana)

 

To Top