Buleleng

Siasati Lahan Sempit dengan Hidroponik

I Made Dwi Sucipta menunjukkan sayuran hidroponik miliknya.

Jika dulu bercocok tanam identik dengan tanah dan lahan yang luas serta berada jauh dari perkotaan, lain halnya dengan saat ini.  Seiring berkembangnya teknologi pertanian, berbagai teknik bercocok tanam pun ditemukan. Hingga kemudian ditemukan teknologi pertanian yang tidak lagi tergantung pada tanah sebagai media tanam tapi beralih menggunakan media air sebagai suplai nutrisi tanaman. Dengan sistem pertanian hidroponik hambatan lahan bisa diatasi dengan hasil yang tak kalah bagusnya dengan sistem pertanian konvensional.

Hal ini juga yang tengah digeluti oleh I Kadek Dwi Sucipta warga yang tinggal di Jalan Damai, Desa Kalibukbuk, Buleleng. Berawal dari kegemarannya mengonsumsi sayuran membuat pria yang akrab disapa Dwi ini memanfaatkan lahan sempit dikontrakannya untuk mengembangkan sistem hidroponik. “Ini untuk mengatasi keterbasan lahan karena semua sudah di beton, susah cari tanah,” jelasnya.

Hidroponik merupakan budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman. Kebutuhan air pada hidroponik lebih sedikit daripada kebutuhan air pada budidaya dengan tanah. Selain itu, pengembangan tekhnik hidroponik juga tidak terlalu tergantung dengan cuaca atau musim asalkan asupan nutrisi dan air mencukupi.

Dwi mengaku kesibukannya dalam mengembangkan tanaman di rumah tidak menganggu pekerjaannya sebagai tenaga honorer di SMK Negeri 3 Singaraja. Meskipun hanya belajar secara otodidak, dirinya tidak pernah sungkan untuk sharing dalam grup hidroponik di media sosial. Menurutnya, yang harus diperhatikan dalam teknik budidaya hidroponik adalah tak semua jenis tanaman bisa ditanam. Hanya sayuran dengan akar serabut yang bisa ditanam dengan metode ini. Beberapa sayur dan buah yang dibudidayakan, antara lain kangkung, bayam merah, bayam hijau pakchoy, caisim sedangkan sayuran buah yang bisa ditanam seperti cabai, tomat, terong, mentimun, labu dan lainnya. “Sayuran daun bisa dikembangkan dengan metode ini,” ungkapnya.

Jika dibandingkan dengan pertanian konvensional, pengembangan tekhnik organik akan lebih menghasilkan sayuran yang berkualitas. Ciri hasil panen sayur dan buah dengan media air ini,  batang dan daun sayuran cukup bersih, demikian juga dengan akarnya.  Dengan demikian, tak perlu membuang bagian yang rusak akibat bekas hama penyakit seperti yang sering terjadi pada pertanian konvensional. “Dalam pengembangannya memang tidak menggunakan pestisida kimia, jika pun terserang hama akan saya buatkan pestisida alami, misalnya dengan bawang putih ataupun air cabai,” jelasnya. Pria kelahiran 21 September 1987 ini  menambahkan, jika hasil dari sayuran hidroponik akan memiliki kualitas yang sama dengan sayuran organik.

Selain memiliki keunggulan, pengembangan tekhnik hidroponik ini menuai beberapa kendala, di antaranya permodalan. Biaya yang dikeluarkan untuk mengembangkan tekhnik hidroponik lumayan mahal dibandingkan dengan pertanian konvesional. “Dalam pengembangannya kita kan menggunakan pipa paralon yang harganya lumayan, belum lagi selang, dan mesin. Modal awal memang lumayan besar,” ungkapnya. Selain itu, harga jualnya pun belum mampu mengimbangi harga sayuran organic, sebab masyarakat di Buleleng masih awam dengan tanaman hidroponik. “Kalau dijual kami masih samakan denga harga sayuran biasa, memang tidak rugi, tetapi untungnya ga banyak,” pungkasnya. (Wiwin Meliana)

 

 

 

To Top