Surabaya

Dr. Sukma Sahadewa, S.H., M. Kes., CHt: Sosialisasi Bahaya Narkotika di Kalangan Seniman

Ranah hiburan tanah air memang santer terdengar paling akrab dengan narkotika. Mulai dari alasan doping hingga awalnya coba-coba karena efek pergaulan. Belum lagi di kalangan para pelaku seni, serentetan nama pernah berurusan dengan barang haram tersebut. Sejauh pengamatan Ketua Paguyuban Seniman (PaS) Kota Surabaya, para pelaku seni dalam masa sekarang makin paham akan bahaya obat-obatan halusinogen yang mampu membunuh itu.

“Kami sedikit banyak memerangi dan memberikan informasi kepada pelaku seni apapun untuk berkontribusi memerangi narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba),” ungkap Dr. Sukma Sahadewa, S.H., M. Kes., CHt.,  Ketua PaS Surabaya saat dijumpai di sela acara Halal Bihalal yang diselenggarakan oleh BNNP Jatim.

Sukma berharap dengan dorongan serta sosialisasi tersebut, Indonesia mampu benar-benar bersih dari narkoba. Karena notabene peredaran telah merajalela, tidak hanya menyasar orang dewasa namun juga memanfaatkan anak di bawah umur sebagai kurir atau agen pendistribusian.

“Kami harus sampaikan pada masyarakat supaya mereka peduli pada anak-anak bahwa narkoba ini harus kita perangi bersama,” imbuh pria maskulin yang terlihat segar dengan balutan kaos polo hitam tersebut. PaS Kota Surabaya juga telah sering melakukan koordinasi baik dengan BNNK Surabaya maupun BNNP Jatim untuk mendapatkan sosialisasi tentang narkoba sekaligus ikut aktif dan peran serta.

“Salah satunya kami mengadakan konser dan di dalamnya para artis memberikan sebuah konsensus serta informasi bahwa mereka menyampaikan tidak menggunakan narkoba, serta menjelaskan bahaya narkoba itu sendiri,” paparnya. Seperti diungkapkan Sukma, banyak para pelaku seni yang telah sadar dan terbuka untuk untuk ikut rehabilitasi.

“Kami bertugas memberi penyuluhan kepada paguyuban ini, dan tugas lainnya adalah legitimasi dari hukum yang mewadahi,” ujar Sukma. Namun, beberapa kasus yang menyerang anak-anak sering membuatnya miris. Ia mengatakan, sempat bertemu dengan seorang anak yang mengaku bahwa ia telah memakai sejak SD.

“Jika dikurskan, usianya tentu masih sangat belia setara kelas 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP),” ucapnya. Anak tersebut memperoleh barang dari teman, dengan kamuflase ‘vitamin’ atau ‘suplemen’. Namun, lama-lama membuat kecanduan. “Ini risiko yang harus kita waspadai,” jawabnya.

Ia menambahkan, setidaknya pondasi agama sangat diperlukan sejak dini dan merupakan bagian fundamental bagi sistem pendidikan. Kemudian dia berharap adanya kurikulum yang mampu mengurai tentang bahaya zat adiktif. “Ini yang belum ada, jadi hanya penyuluhan dalam sifat persuasif saja tidak ada kurikulum secara jelas di institusi pendidikan,” tegasnya. (Lely Yuana)

To Top