Griya

Sanggah Jadi lebih Praktis

Secara turun-temurun, masyarakat Desa Jehem, Tembuku, Bangli-Bali dikenal sebagai pengrajin sanggah. Salah satu di antaranya adalah I Ketut Adnyana. Ia mengatakan, dulu se-Desa Jehem masyarakat menggeluti bidang ini. Namun sekarang, pengrajin sanggah sudah menyebar ke desa-desa lain di sekitarnya. “Perbedaan sanggah buatan pengrajin Desa Jehem daripada desa lainnya, bisa dilihat dari kualitasnya,” ujar Tut Nano-sapaan akrab pria yang sejak berstatus pelajar SMP itu sudah menggeluti dunia undagi (tukang).

Bagi konsumen yang teliti, mereka bisa melihat perbedaannya dari sikut sanggah. Variasinya bisa sama tapi taksunya beda.

Diakuinya, memang tak sembarang kayu boleh dijadikan bahan baku pembuatan sanggah-yang notabene sebagai tempat yang disucikan umat Hindu. Kayu yang bisa dipakai di antaranya kayu cempaka, kayu cendana, dan kayu majegau. Ia sendiri memakai kayu cempaka karena bahan bakunya lebih mudah dicari dibandingkan kayu lainnya.

Dalam proses pengerjaannya, Tut Nano memulainya dari kayu yang masih berbentuk balok. Sebelum diproses, kayu ini sudah dikeringkan dulu selama 5-6 bulan. Sebut saja pengerjaan Sanggah rong tiga (kemulan) diselesaikan dalam waktu 1,5 bulan. Sanggah jadi yang sudah difinishing prada (warna emas/gold) lengkap dengan ukiran standar ini ditawarkan dengan harga Rp 17 juta. Ada juga sanggah taksu dengan ukiran super yang ditawarkan hingga Rp 35 juta. “Ini kualitas bahan dan ukirannya berbeda,” ujar Tut Nano, yang mengatakan kini masyarakat lebih suka membeli sanggah jadi yang full ukiran, karena lebih praktis.

Konsumennya sendiri tak hanya dari wilayah sekitar Desa Jehem, namun hingga ke Karangasem, Klungkung, Denpasar, Nusa Dua, bahkan Nusa Penida.

Selama proses pengerjaan dari nol sampai jadi, ia mengaku tak ada kendala berarti. “Paling yang membuat prosesnya agak lama ketika bahan bakunya sulit dicari dan proses ngukirnya karena dilakukan manual oleh khusus tukang ukir (bukan dirinya),” ucapnya.

Dalam pengerjaannya itu juga melalui banyak tahapan. Setelah membuah sikut, sanggah dirakit. Kemudian dibuka untuk diukir, selesai diukir dirakit kembali. “Pada saat dirakit ini harus mencari hari baik (dewasa ayu),” ujar Tut Nano.

Ia yang memberi label “Nano Sanggah” pada produk kerajinannya itu juga menjual karas-tempat prasasti dan pratima sebagai benda yang disakralkan umat Hindu. Ada juga variasi naga, dan variasi simbar waton yang umum dipasang di bucu, serta  tabing/dinding sanggah. “Respons pengunjung sangat bagus,” ujar Tut Nano yang mengaku baru pertamakalinya ikut berpameran di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-39 ini. (Inten Indrawati)

To Top