Bunda & Ananda

Menabung untuk Kontrol Diri

Retno I G. Kusuma

Di sebuah TK swasta di Denpasar, dalam acara graduation diumumkan juga anak yang memiliki tabungan terbanyak yang mencapai angka jutaan rupiah. Kemudian anak tersebut mendapat reward dari sekolahnya. Adakah yang salah dengan fenomena ini?

“Jika dilihat fenomena tersebut, pada dasarnya orangtua maupun guru ingin mengajarkan prinsip menabung pada anak,” ujar Retno I G. Kusuma, Kepala Sub Unit Psikologi Rehabilitasi Medik RS Sanglah. Bahwa, anak harus menyisihkan uangnya untuk ditabung. Disini mereka diajarkan untuk menyeimbangkan antara pemasukan dan pengeluaran. Walaupun sebenarnya konsep menabung itu harusnya disisihkan di awal, bukan di belakang. Jika disisihkan di belakang, pasti tak pernah ada sisanya.

Dalam proses “menabung”, anak akan belajar bagaimana merencanakan keuangan yang baik. Jangan sampai besar pasak daripada tiang. Dan cara anak sekarang,  bisa dimulai dari sekolah dan ada sistem reward. Bahwa, ketika anak menabung seperti ini nanti dapatnya seperti  ini, meski akhirnya yang berlomba-lomba menabung justru orangtuanya.

Namun jika dilihat dari sisi positifnya, anak menjadi tahu bahwa semakin banyak punya tabungan, ia akan semakin mendapat reward yang banyak atau pujian. Sebetulnya bentuk-bentuk reward ini yang membuat anak merasa eksis dan merasa bangga akan kondisi seperti itu.

Bagi Retno, fenomena itu positif dan oke-oke saja. Mau seberapa banyak menabung, meski orangtuanya, itu tidak apa-apa. Dibandingkan uangnya dipakai belanja yang lain-lain. Secara tidak langsung, hal ini juga mendidik orangtua karena ia juga menyisihkan uangnya.

Di sekolah biasanya ada “Hari Menabung”. Jadi anak memang khusus diberikan uang oleh orangtua untuk ditabung, dan uang jajannya tersendiri. Ini sebenarnya salah satu hal yang sedikit kurang tepat. Karena justru jika orangtua ingin mengajarkan anak di level TK atau SD, untuk mengelola keuangannya dengan baik, beri anak uang harian buka bulanan.

Misalkan sehari anak diberi uang jajan Rp 10 ribu. Meski sebenarnya anak sudah dibawakan bekal makanan dari rumah, mungkin saja ia ingin membeli makanan lain di sekolah yang diinginkannya, apalagi jika melihat teman-teman lainnya jajan. Ada kemungkinan anak akan membelanjakan uangnya atau justru akan menyimpannya.

Seumpamanya, anak melihat temannya membeli es krim. Ketika anak tersebut memutuskan untuk menyimpan uangnya, karena misalnya kemarin ia sudah membeli es krim, disana akan terlatih kemampuan kontrol anak. “Daripada orangtua memberikan anak uang Rp 10 ribu untuk bekal dan Rp 5 ribu untuk menabung. Ini namanya tidak mengajarkan anak untuk menabung. Karena menabung adalah menyisihkan uang itu dan tepatnya lagi mengontrol keinginan anak untuk tidak belanja/membeli sesuatu karena keinginan bukan kebutuhannya. Ini latihan yang tidak gampang, untuk orang tua saja tidak gampang apalagi bagi anak-anak,” ujarnya.

Beragam pedagang  makanan, mainan, dan aksesori anak dengan warna-warna menarik seringkali menjadi “penggoda” untuk berbelanja.  Namun Retno mengatakan, anak-anak dengan kemampuan yang baik akan belajar darisini untuk kontrol diri.

Orangtua juga perlu melatih anak jika ingin membeli sesuatu belilah dari hasil tabungan sendiri. Misalkan anak ingin membeli boneka Barbie yang harganya Rp 100ribu, berarti anak harus menabung Rp 5 ribu setiap hari selama 20 hari. Bahkan mungkin saja anak berinisiatif menabungkan semua uang jajannya. “Jadi anak mempergunakan uang bekalnya untuk membeli sesuatu yang ia inginkan. Ini salah satu cara untuk membentuk effort anak (usaha/ketahanan mental). Bagaimana anak harus berjuang mendapatkan sesuatu dari hasil keringatnya. Meskipun dalam hal ini bukan dari bekerja, tetapi itu jatah uang jajannya. Tapi bagaimana anak mengelolanya, itu menjadi suatu hal yang sangat penting.

Cara sederhana menabung di rumah bisa juga dengan memasukkan uang ke celengan. Celengan ada yang terbuat dari  tanah liat-yang ketika mengambil isisnya harus dipecahkan, ada yang terbuat dari plastik atau kaleng-yang juga harus dicongkel dulu untuk mengeluarkan isinya, ada juga celengan yang memang ada kunci gemboknya sehingga dengan msangat mudah bisa mengambil isinya.

Pemilihan jenis celengan ini dikatakan Retno kembali kepada pelatihan kepada anak. “Jangan mengatakan bahwa celengan ini yang paling baik, karena itu baik dari sisi orangtua. Tapi sebenarnya bukan masalah baik-dan tidak baik, karena yang dilatih disini adalah proses bukan hasil.

Proses bagaimana anak mengelola sebuah kondisi bahwa jika menabung di rumah dengan celengan tanah, dsb. kondisinya seperti ini, dan menabung di bank kondisinya seperti itu. “Tidak apa-apa, ini yang seharusnya dikenalkan sejak kecil pada anak. Bahwa menabung di sekolah juga akan disetorkan ke bank,” ujarnya.

Untuk anak sendiri justru dikatakan akan bagus jika belajar menyetor ke bank. Jadi anak tahu di bank itu ada bunganya meskipun kecil. Ini belajar bisnis dari kecil, bagaimana anak menjual sesuatu atau tepatnya menelola uangnya untuk mendapatkan sesuatu tujuannya.

Anak boleh memilih, walaupun akhirnya baru dua minggu celengannya sudah dipecahkan. Darisini orangtua bisa menanyakan alasan dan pendapat anak. “Orangtua jangan kecewa ketika anak hanya menabung Rp 100 ribu dan membelanjakan uangnya Rp 400 ribu. Ini proses edukasi mengelola keuangannya sendiri, dan anak bertanggung jawab pada pilihan atau keputusannya,” tandasnya. (Inten Indrawati)

To Top